Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Bank Indonesia Perwakilan NTT melakukan pertemuan dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT.
Kedua pimpinan dari instansi itu membahas program strategis tahun 2026, termasuk kesejahteraan petani, Rabu (11/2/2026) di kantor Dinas Pertanian NTT.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Adidoyo Prakoso bersama jajarannya juga melakukan koordinasi dan dan penguatan sinergi pembangunan sektor pertanian.
"Pertemuan ini membahas capaian program pertanian yang telah berjalan, sekaligus mendiskusikan arah kebijakan dan langkah konkret kolaborasi lintas sektor yang dapat diperkuat dari hulu hingga ke hilir," ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT Joaz BO Wanda.
Baca juga: Dinas Pertanian NTT Mitigasi Ancaman Cuaca Ekstrem
Menurut dia, pertemuan ini menjadi langkah strategis dalam membangun sinergi antara pemerintah daerah dan Bank Indonesia guna mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, meningkatkan kesejahteraan petani, serta menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Ia meyakini, kolaborasi yang kuat dan terarah menjadi kunci dalam mewujudkan pertanian NTT yang maju, mandiri, dan berkelanjutan.
Joaz mengaku dalam pertemuan itu ia memaparkan berbagai program strategis yang telah dilaksanakan.
"Mulai dari peningkatan produksi dan produktivitas komoditas unggulan, optimalisasi lahan (oplah), penguatan perbenihan, mekanisasi pertanian melalui alsintan, hingga penguatan ketahanan pangan daerah," ujarnya.
Selain itu, terdapat penguatan sektor hilir melalui pengembangan hilirisasi produk pertanian, peningkatan nilai tambah dan daya saing komoditas, penguatan akses pasar, serta pengembangan kemitraan usaha tani yang berkelanjutan.
Kepala Bank Indonesia Provinsi NTT Adidoyo Prakoso berkomitmen untuk mendukung transformasi sektor pertanian NTT melalui penguatan model bisnis petani yang lebih terstruktur, modern, dan berorientasi pasar.
Dukungan itu, kata dia, tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pembenahan tata kelola usaha tani agar lebih efisien, bankable, serta memiliki akses pembiayaan dan pasar yang lebih luas.
Pihaknya mendorong pengembangan klaster komoditas unggulan berbasis kawasan, penguatan manajemen usaha kelompok tani, peningkatan literasi dan inklusi keuangan, serta fasilitasi kemitraan berkelanjutan antara petani, pelaku usaha, off taker, dan lembaga keuangan.
"Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem agribisnis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, sehingga memberikan nilai tambah bagi petani dan masyarakat," ujarnya. (fan)