Tak Ada Tepuk Tangan, hanya Komitmen Menyelamatkan Daerah Aliran Sungai Lampung
Noval Andriansyah February 12, 2026 12:19 AM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Di ruang rapat utama Kantor Gubernur Lampung, deretan kursi kulit hitam terisi penuh sore itu, Rabu (11/2/2026).

Para kepala dinas, pejabat teknis, hingga perwakilan stakeholder duduk berjejer rapi.

Sebagian nampak sibuk mencatat, sebagian lain menatap layar ponsel, menunggu giliran menyampaikan pandangan.

Di bangku peserta, seorang pegawai muda sesekali membuka catatan di gawainya. Ia menulis tentang banjir, kekeringan, dan pentingnya memulihkan lahan kritis.

Di sekelilingnya, peserta lain mengangguk pelan, seolah sepakat bahwa persoalan lingkungan tak lagi bisa ditunda.

Baca juga: Pemprov Lampung Buka Peluang Kerja Sama Investasi Hijau Perdagangan Karbon

Di bagian depan ruangan, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal memimpin jalannya rapat.

Di bawah lambang Garuda dan bendera Merah Putih, pembahasan tentang sungai, hutan, dan masa depan Lampung mengalir bergantian.

Satu di antaranya datang dari Ketua Forum DAS Lampung, Slamet Budi Yuwono.

Dalam kesempatan itu ia menyampaikan kegelisahannya tentang kondisi daerah aliran sungai yang mulai terdegradasi.

Bagi Slamet, DAS bukan sekadar alur air, melainkan denyut kehidupan pertanian dan ketahanan pangan masyarakat.

Gubernur Mirza kemudian angkat bicara. Dengan nada tegas namun tenang, ia mengingatkan bahwa menjaga sungai berarti menjaga masa depan generasi berikutnya.

Pembangunan, katanya, tak boleh berjalan dengan mengorbankan alam.

“Kalau alam rusak, manusialah yang pertama merasakan akibatnya,” ujarnya, disambut perhatian penuh seluruh ruangan.

Lebih lanjut Gubernur Mirza menegaskan bahwa keberadaan DAS memiliki peran strategis dalam mencegah bencana seperti banjir dan kekeringan.

Karena itu, berbagai program konservasi, hilirisasi, serta penyelamatan DAS terus didorong oleh Pemerintah Provinsi Lampung.

"Kita sadar daerah aliran sungai harus kita selamatkan untuk mendukung pembangunan Provinsi Lampung. Mitigasi bencana seperti banjir dan kekeringan harus dimulai dari upaya menjaga dan memulihkan DAS kita," ujar Gubernur Mirza.

Ia menambahkan, Pemprov Lampung memiliki misi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan, termasuk melalui upaya pelestarian lingkungan demi keberlangsungan generasi mendatang.

"Kami Pemerintah Provinsi Lampung punya misi meningkatkan kehidupan masyarakat yang berkelanjutan. Di dalamnya termasuk menjaga alam untuk keberlangsungan anak cucu kita. Mari kita jaga alam kita, jangan merusaknya," tegasnya.

Menurut Mirza, manusia dan alam harus hidup berdampingan serta saling memberi manfaat. Kerusakan lingkungan, kata dia, pada akhirnya akan berdampak langsung pada manusia.

"Prinsipnya alam dan manusia hidup berdampingan, saling memberikan manfaat dan saling menjaga. Kalau kita tidak menjaga alam dan justru merusaknya, cepat atau lambat kita akan menjadi korbannya sendiri," katanya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penyelamatan ekosistem, khususnya melalui program-program yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai elemen lainnya.

"Kita harus bergerak bersama dan memiliki semangat yang sama. Program penyelamatan DAS ini harus melibatkan seluruh pihak agar hasilnya optimal," ujar Mirza.

Sementara itu, Ketua Forum DAS Lampung Slamet Budi Yuwono menjelaskan bahwa DAS memiliki fungsi vital salah satunya sebagai sumber air irigasi, terutama karena Lampung merupakan salah satu daerah penghasil pangan nasional.

"DAS berfungsi sebagai sumber air untuk irigasi di Provinsi Lampung. Sebagai daerah penghasil pangan, kita harus melestarikannya. Sebagian DAS kita sudah mulai terdegradasi, sehingga perlu diselamatkan agar tetap berkelanjutan dan mampu menjaga produksi pangan," ujar Slamet.

Menurut Slamet, salah satu tujuan Forum DAS adalah membangun semangat masyarakat dan seluruh stakeholder untuk bersama-sama mengurangi degradasi serta mengembalikan fungsi DAS sebagaimana mestinya.

"Kita harus benar-benar bersatu padu mengembalikan lahan kritis menjadi lahan yang baik, sehingga fungsi DAS bisa kembali optimal dan lebih baik lagi," katanya.

Sebagai langkah konkret, Forum DAS akan menggelar aksi penanaman pohon yang melibatkan berbagai elemen, mulai dari pelajar, masyarakat, hingga kalangan pengusaha.

"Rencana aksi kami adalah menanam bersama seluruh masyarakat dan stakeholder. Ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Lampung serta menjaga keberlanjutan produksi pangan Provinsi Lampung," pungkasnya

Tak ada sorak. Tak ada tepuk tangan panjang. Yang tersisa adalah kesadaran bersama bahwa persoalan DAS bukan hanya milik pemerintah, tetapi juga milik masyarakat, petani, pelajar, hingga pelaku usaha.

Menjelang akhir rapat, pembahasan tentang aksi tanam pohon menjadi penutup. Bukan sekadar agenda seremonial, melainkan komitmen nyata untuk memulihkan yang telah rusak.

Di balik meja-meja panjang dan lampu kristal yang menggantung di langit-langit ruangan, lahir kesepakatan sederhana: menjaga sungai berarti menjaga kehidupan. Dari ruang rapat inilah, harapan tentang Lampung yang lestari mulai dirangkai kembali.

( Tribunlampung.co.id / Riyo Pratama )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.