TRIBUNJATENG.COM, KEBUMEN - Di hutan yang tidak begitu jauh dari pemukiman wilayah Desa Kedunggong, Kecamatan Sadang, Kabupaten Kebumen berdiri pondok rehabilitasi Selaras Jiwa.
Di tengah perkebunan yang asri, Paimin (47), atau lebih dikenal dengan Slamet, merawat para Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) hingga nantinya mereka siap kembali ke masyarakat.
Di tengah kesibukannya menjadi kepala desa dan bercocok tanam, dia mendampingi dan merawat ODGJ yang dititipkan oleh keluarga atau pun ODGJ yang ditemui di jalanan.
Paimin telah aktif dalam penanganan ODGJ sejak 2009 silam. Setelah bergabung dengan teman-teman dari tenaga medis akhirnya didirikan yayasan yang khusus untuk penanganan ODGJ sejak 2020 dan bertahan hingga sekarang. Dalam mengasuh para ODGJ, dia juga dibantu sang istri selain relawan.
"Pada saat itu, saya berfikir ketika bertemu dengan ODGJ di jalan, seandainya yang mengalami seperti itu saya atau keluarga saya, seperti apa rasanya. Dari situlah, saya mulai hatinya tergerak menjadi bagian orang yang peduli terhadap mereka," katanya kepada Tribun Jateng, Selasa (10/02/2026).
Dia tidak ingat pasti sudah berapa ODGJ yang dirawat di pondok tersebut sejak awal hingga sekarang. Kini ada 5 pasien yang masih dalam pengawasan dan perawatannya di pondok. Mereka mayoritas berasal dari Kabupaten Kebumen.
ODGJ yang dititipkan di pondok mayoritas pasien rujukan dari rumah sakit setelah menjalani pengobatan. Pihak keluarga yang belum mampu untuk mengasuh sesuai pengobatan menitipkan ODGJ tersebut untuk tinggal di pondok dalam kurun waktu tertentu hingga siap kembali ke masyarakat.
Berbagai kegiatan dilakukan di pondok tersebut dengan melibatkan instansi terkait seperti dari Kementerian Agama yang memberikan bimbingan rohani dan mengajar mengaji, pemeriksaan kesehatan secara rutin oleh puskesmas, dan kegiatan kemasyarakatan.
Tidak jarang Paimin melibatkan ODGJ yang dinilai telah siap terjun ke masyarakat untuk mengikuti kegiatan seperti kerja bakti hingga pengajian.
Menurutnya, ODGJ yang dibawa ke pondok biasanya memiliki riwayat sering mengamuk dan membahayakan keluarga atau warga atau termasuk ODGJ berisiko.
Mereka biasanya akan diisolasi terlebih dahulu hingga tenang dan dinilai aman sebelum mengikuti kegiatan. Bagi Slamet, suka dan duka mengasuh ODGJ sangat luar biasa.
"Saya tidak jarang sampai adu fisik dengan mereka. Ngamuk, mukul, itu hal biasa. Apapun yang terjadi saat menghadapi situasi ODGJ yang ngamuk, prinsip saya harus mengedepankan kesabaran," terangnya.
Bahkan dia pernah mengevakuasi ODGJ yang kedapatan membawa senjata tajam. Dia mengungkapkan, perlu pendekatan khusus menghadapi ODGJ dengan kondisi seperti itu.
Dia lebih memilih untuk membujuk serta mencoba berkomunikasi dengan ODGJ itu.
"Kondisi seperti itu jangan dipaksakan, ketika tidak memungkinkan, maka ditunggu lengahnya," ungkap Kades Kedunggong itu.
Paimin menekankan, peran keluarga dan lingkungan sangat penting untuk para ODGJ. Dia mewajibkan kepada pihak keluarga untuk menjenguk anggota keluarganya yang dititipkan di pondok rehabilitasi. Di samping itu, ketika ODGJ kembali ke masyarakat, terangnya, lingkungan juga memiliki peranan penting.
Bertani durian
Di tengah kesibukannya merawat ODGJ, sehari-hari Paimin menjabat kades dan hobi bercocok tanam. Ada 500 batang lebih pohon durian di lahan seluas 3 hektare.
Lahan tersebut sebagian miliknya pribadi, sebagian yang lain milik Perhutani. Berbagai jenis durian ada di kebunnya mulai dari montong, bawor, musang king, duri hitam hingga durian lokal.
Di dibantu beberapa pekerja untuk merawat pohon begitu pula saat memanen buah berduri dengan aroma khas itu. Bahkan beberapa ODGJ juga turut dilibatkan dalam kegiatan ringan merawat pohon seperti mencabut rumput.
"Hasilnya (menanam pohon durian) di antaranya juga untuk menopang mereka (ODGJ). Karena orang-orang yang dititipkan di sini dari berbagai latar belakang. Ada yang dari kalangan keluarga mampu, ada yang dari keluarga tidak peduli dan tidak punya. Ketika tidak didukung hasil pribadi saya, mengandalkan dari keluarga (pasien) belum tentu cukup," pungkasnya. (Agus Iswadi)