Renugan Harian Katolik
Kamis 12 Februari 2026
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
BERSUJUDLAH PADA TUHAN: RAHMAT-NYA TERSEDIA BAGI SETIAP ORANG YANG PERCAYA
(1Raj. 11:4-13; Mzm. 106:3-4.35-36.37.40; Mrk. 7:24-30)
"Karena kata-katamu itu, pulanglah, sebab setan itu sudah keluar dari anakmu." (Mrk. 7:29).
Perjumpaan perempuan Yunani berkebangsaan Siro-Fenisia dengan Yesus syarat makna bagi semua orang beriman.
Setiap orang pasti memiliki tantangan dalam hidupnya. Solusi mengatasi masalah yang ditemui pun berbeda satu sama lain. Ada tantangan hebat yang dialami oleh perempuan Siro-Fenisia.
Anak perempuannya kerasukan roh jahat. Pelbagai upaya pasti ia sudah tempuh untuk kesembuhan anaknya. Ketenaran Yesus Sang Mesias melalui pengajaran yang berwibawa, pewartaan tentang Kerajaan Allah serta peristiwa-peristiwa ajaib (mukjizat) yang diadakan sudah menjadi buah bibir khalayak ramai di mana-mana.
Siapa pun yang mendengar kisah tentang Yesus pasti mengalami sukacita rohani yang luar biasa. Berbarengan dengan sukacita rohani itu pasti ada kerinduan perjumpaan pribadi dengan Sang Almasih.
Kerinduan perjumpaan ini tentu disertai iman yang mendalam. Wanita Yunani itu kini mendapat kesempatan berahmat untuk berjumpa dengan Yesus. Kerinduan yang dimantapkan dengan iman mendalam takkan goyah oleh godaan apa pun.
Belas kasih Tuhan itu universal, tak tersekat asal bangsa manusia. Tirulah apa yang dilakukan perempuan Siro-Fenisia itu. Ia datang dan tersungkur di depan kaki Tuhan. Pilihan kata-kata yang ia gunakan amat menentukan untuk memperoleh rahmat Tuhan bagi dirinya dan terutama bagi putrinya yang sedang berada dalam genggaman iblis. Ia tidak tersinggung atas ujian Yesus bagi imannya.
Kata Yesus, "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Dengan rendah dan kekuatan iman ia pun menjawab, "Benar, Tuhan! Tetapi anjing di bawah meja pun makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak."
Merumuskan sendiri apa yang mau diminta dari Tuhan itu amat penting. Beriman yang benar dan setia dibutuhkan karena Roh Kudus akan mengajar kita tentang apa yang mau kita bilang kepada Tuhan untuk menjawabi kebutuhan kita.
Manusia rentan terhadap godaan ketidaksetiaan. Iman juga sering menerima banyak godaan.
Ketidaksabaran sering menyeret orang menjauh dari Tuhan dan kehilangan rahmat yang telah Tuhan sediakan baginya. Sikap terhadap godaan iman ialah sabar sebab Tuhan beri ganjaran bagi orang beriman yang setia.
Manusia sekuat dan sehebat apa pun pasti kilaf. Salomo sang raja arif pun terjebat dalam kestidaksetiaan pada Tuhan.
Rayuan maut istri-istrinya untuk menyembah dewa-dewi, ketika ia sudah usia. Ia tak berdaya menolak dan membangun kuil-kuil berhala pada tampat asal para istrinya. Tindakan Salomo ini mendatangkan murka Allah.
Demi Daud, ayahnya yang hidup takut akan Tuhan, hukuman yang seharusnya ia terima tertunda. "Ketika Raja Salomo menjadi tua, istri-istrinya mencondongkan hatinya kepada dewa-dewa, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan, Allahnya seperti Daud, ayahnya." (1Raj. 11:4).
Ketidaksetiaan pada Tuhan menjadi tantangan kodrati oleh karena kelemahan manusiawi yang bercokol dalam diri. Pemazmur memberi tanggapan dalam madah pujiannya, "Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum, yang melakukan keadilan di setiap saat! Ingatlah akan aku, ya Tuhan, demi kemurahan-Mu terhadap umat, perhatikanlah aku, demi keselamatan yang datang dari pada-Mu." (Mzm. 106:3-4).
Terhadap Tuhan yang berbelas kasih, bersujud, tersungkur di hadapan-Nya adalah sikap iman yang pantas bagi umat beriman.
Banyak hal tidak beres yang ada dalam diri setiap kita. Dalam iman kita percaya bahwa kesetiaan Tuhan untuk menyelamatkan manusia bersifat tetap dan abadi. Siapa pun yang beriman dan setia pada Tuhan pasti mendapat ganjaran yang setimpal.
Bersabar menghadapi godaan ketidaksetiaan kepada Tuhan adalah pilihan bijak setiap insan beriman. Kasih Tuhan selalu terbuka menyambut setiap pribadi yang datang tersungkur pada-Nya.
Sebab itu kebahagiaan manusia dalam hidupnya terletak para belas kasih Allah dan bukan karena kehebatannya. Belas kasih Allah merangkul lika-liku kelemahan, kekilafan dan ketakberdayaan kita.
Semoga kita berusaha arif untuk hidup seturut apa yang Tuhan tunjukkan dalam keseharian hidup ini.
Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Kamis/Pekan Biasa V/A/II, 120226)