TRIBUNJATIM.COM - Video memperlihatkan kondisi jembatan kayu di Desa Citaman, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, Banten, yang nyaris ambruk, viral di media sosial.
Jembatan ini menghubungkan dua kampung, yakni Sarewu dan Pasir Salinten.
Selain itu juga menjadi jalur vital bagi warga serta anak-anak sekolah.
Baca juga: Keluarga Korban Tak Terima Midhol Otak Pembunuhan Sadis Wardatun Divonis 18 Tahun: Setidaknya 20
Dalam video tersebut, warga yang merekam jembatan mengungkapkan kekecewaannya terhadap DPRD Pandeglang.
Menurut mereka, dewan lebih fokus pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ketimbang memperhatikan infrastruktur penting yang nyaris membahayakan nyawa warga.
"Katanya dewan lagi sibuk urus MBG," ujar seorang pria yang merekam jembatan.
"Nanti kalau sudah benar diperbaiki swadaya, datang lagi ke sini ngasih Rp20 ribu ke warga, kerayu lagi aja warga mah," imbuhnya.
Dalam video juga terlihat seorang pengendara sepeda motor melintas sambil membawa dua karung.
Saat ditanya apakah anggota DPRD pernah melewati jembatan, ia menjawab belum pernah, kecuali saat masa pemilihan.
"Tidak pernah ada ke sini. Kalau pas pemilihan suka ada ke sini," katanya, melansir Tribun Banten.
Lanjutnya, pada saat pemilihan, warga hanya mendapatkan uang Rp20 ribu dari para calon anggota DPRD.
"Kadang duit, kadang mie top ramen. Paling kalau ada pemilihan bagi-bagi. Tapi kalau lihat jala rusak gini enggak ada," ujarnya.
Warga sendiri sudah berinisiatif melakukan swadaya untuk memperbaiki jembatan kayu yang rusak parah.
"Kalau sudah gini, warga swadaya saja kalau tidak diperhatikan pemerintah mah," ucapnya.
Saat dikonfirmasi, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Citaman, Ade Mahroji, membenarkan kondisi jembatan yang ambruk tersebut.
Ia menjelaskan bahwa jembatan longsor sudah terjadi sejak tahun 2024 dan hingga kini belum diperbaiki.
"Ini bukan rusak baru kemarin, sudah lebih dari satu tahun longsor, dan hingga saat ini dibiarkan," ujarnya dalam sambungan telepon, Kamis (12/2/2026).
Akibat kondisi ini, warga membuat jembatan sementara dari kayu dan bambu.
Namun, struktur jembatan darurat ini kini sudah rapuh.
Padahal setiap hari warga serta anak-anak sekolah harus melewati jembatan yang berisiko membahayakan keselamatan mereka.
"Warga dan anak-anak sekolah lewat jembatan kayu dan bambu setiap hari, mereka bertaruh nyawa agar bisa beraktivitas," katanya.
Baca juga: Waiti Pedagang Ayam Keluhkan Sepinya Pembeli Jelang Ramadan, Harga Daging Naik Jadi Penyebab
Ia juga mempertanyakan jika ada korban jiwa ketika jembatan tersebut ambruk, siapa yang akan bertanggung jawab.
"Kalau sampai ada korban, siapa yang bertanggung jawab? Jangan pura-pura tidak tahu, apalagi jembatan sementaranya kini sudah rapuh lagi," ucapnya.
Ia pun meminta Pemerintah Kabupaten Pandeglang, anggota DPRD Pandeglang, dan DPRD Banten turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi yang sebenarnya.
"Kami minta anggota DPRD Pandeglang, DPRD Provinsi Banten, serta Pemkab dan Pemprov Banten, agar turun ke lapangan. Jangan cuma datang saat kampanye, rakyat tidak butuh janji, tapi butuh jembatan yang aman dan nyaman," terasnya.
Ia mengaku, dalam waktu dekat warga akan membuat jembatan secara swadaya.
"Kalau rakyat kecil harus bangun jembatan sendiri supaya anaknya bisa sekolah, berarti ada yang salah dalam pengelolaan anggaran dan prioritas pembangunan. Jangan tunggu korban dulu baru bergerak," pungkasnya.