TRIBUNJATENG.COM, CILACAP - Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Karangpucung selama hampir dua pekan terakhir memicu tanah longsor di Dusun Kalipada RT 03 dan 04 RW 05 Desa Pamulihan, Rabu (11/2/2026) sore sekitar pukul 17.30 WIB.
Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Taryo, mengatakan longsor terjadi setelah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat turun sejak pukul 15.00 WIB hingga 19.30 WIB.
“Curah hujan tinggi hampir dua minggu berturut-turut menyebabkan retakan tanah semakin melebar dan akhirnya sebagian tebing longsor,” ujar Taryo, Kamis (12/2/2026).
Baca juga: 28 KK Korban Longsor Pranten Akan Direlokasi, Pemkab Batang Siapkan Huntara di Lahan Perhutani
Ia menjelaskan selain hujan deras, saluran air dan sungai yang kurang lancar akibat sumbatan sampah turut memperparah kondisi tanah di lokasi kejadian.
“Air yang tidak mengalir lancar memperbesar tekanan di area retakan sehingga memicu longsoran,” jelasnya.
Akibat kejadian tersebut, sebanyak enam rumah yang dihuni tujuh kepala keluarga atau 25 jiwa terdampak langsung material longsor.
“Enam rumah terdampak dengan kondisi beragam, mulai dari dinding jebol, retak, hingga menempel dengan tanah longsoran,” ungkap Taryo.
BPBD Cilacap juga mencatat sedikitnya 28 rumah lainnya terancam pergerakan tanah dan berpotensi mengalami longsor susulan apabila hujan deras kembali turun.
Sehingga hal tersebut membuat 32 keluarga yang menempati rumah tersebut dihantui rasa cemas.
“Total ada puluhan rumah terancam, dengan rincian 24 rumah dihuni 27 KK atau 81 jiwa dan tiga rumah dihuni lima KK atau 12 jiwa dalam kondisi rawan,” katanya.
Di lokasi kejadian, ditemukan sedikitnya delapan titik longsor yang tersebar di sekitar patahan tanah.
“Masih ada penurunan tanah di beberapa titik sehingga situasi terus kami pantau,” ujarnya.
Beruntung dalam peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa meski warga sempat panik saat longsoran terjadi menjelang petang.
“Korban jiwa nihil, namun warga tetap kami evakuasi untuk menghindari risiko longsor susulan,” tegas Taryo.
BPBD Cilacap bersama DPRD Kabupaten Cilacap dari Fraksi PDIP, Golkar dan PKB, Forkompimcam Karangpucung serta Pemerintah Desa Pamulihan telah melakukan peninjauan dan pendataan kebutuhan warga terdampak.
“Kami sudah mengevakuasi warga yang rumahnya terancam dan menyiapkan Balai Desa Pamulihan sebagai posko darurat,” katanya.
Sejumlah bantuan seperti kasur, selimut, family kit dan logistik permakanan juga telah didistribusikan untuk mengantisipasi pengungsian apabila hujan kembali mengguyur deras.
“Balai desa sudah kami siagakan sebagai tempat pengungsian sementara jika curah hujan tinggi kembali terjadi,” jelasnya.
BPBD Bersurat ke Badan Geologi
BPBD Cilacap juga tengah bersurat ke Badan Geologi untuk melakukan kajian teknis terkait pergerakan tanah di Desa Pamulihan.
“Hasil kajian nanti akan menjadi dasar apakah perlu relokasi warga atau cukup dilakukan perbaikan dan penanganan patahan tanah,” ujar Taryo.
Ia mengimbau warga tetap waspada mengingat intensitas hujan di wilayah Cilacap masih cukup tinggi dalam beberapa hari ke depan.
“Kami minta warga segera meninggalkan rumah menuju titik kumpul aman apabila hujan deras turun dalam waktu lama,” pungkasnya.
Cilacap Waspada Longsor
Pemerintah Kabupaten Cilacap mengimbau seluruh kecamatan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca buruk yang berpotensi memicu bencana tanah longsor selama Februari 2026.
Imbauan tersebut tertuang dalam surat resmi Pemkab Cilacap yang menindaklanjuti peringatan dini gerakan tanah dari Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah serta prakiraan cuaca BMKG.
Berdasarkan data BMKG, curah hujan di wilayah Jawa Tengah pada Februari 2026 diprediksi berada pada kisaran 151 milimeter hingga lebih dari 500 milimeter dengan kategori menengah hingga sangat tinggi.
Kondisi curah hujan tinggi tersebut diperkuat dengan suhu muka laut yang hangat di kisaran 28,5 hingga 30 derajat Celsius yang memicu peningkatan penguapan dan hujan lebat berkepanjangan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Cilacap, Sadmoko Danardono, mengatakan potensi cuaca ekstrem harus disikapi dengan kesiapsiagaan sejak dini hingga tingkat desa.
“Kami minta seluruh camat dan pemerintah desa meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah rawan longsor, karena curah hujan diprediksi tinggi dan berlangsung cukup lama,” ujar Sadmoko.
Sejumlah wilayah di Cilacap seperti Dayeuhluhur, Wanareja, Majenang, Cimanggu, dan Karangpucung tercatat memiliki potensi gerakan tanah kategori menengah hingga tinggi.
Sekda menegaskan pemerintah daerah meminta masyarakat di daerah rawan untuk aktif memantau kondisi lingkungan, khususnya saat hujan turun lebih dari dua jam berturut-turut.
Baca juga: Cilacap Siaga Bencana: Warga di Daerah Rawan Longsor Diminta Lapor Jika Hujan Deras Lebih dari 2 Jam
“Jika hujan deras berlangsung lama dan muncul tanda-tanda retakan tanah atau pergerakan lereng, segera laporkan kepada aparat desa atau petugas terkait,” tegasnya.
Pihaknya juga menginstruksikan penguatan ronda warga, kesiapan sarana prasarana darurat, serta koordinasi lintas instansi seperti BPBD, TNI, Polri, dan relawan kebencanaan.
Langkah mitigasi tersebut diharapkan mampu meminimalkan risiko korban jiwa dan kerugian akibat bencana hidrometeorologi di tengah cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi. (ray)