TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Ny Fauzan, kerabat warga Jambi Andri Budi Sanjaya korban penipuan lowongan kerja di Kamboja, menceritakan awal mula Andri bisa berangkat ke Kamboja, Kamis (12/2/2026).
Reporter Tribunjambi.com menemui Ny Fauzan di rumahnya, kawasan Posos 2, Marene, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi.
Ny Fauzan merupakan orang yang sudah dianggap saudara oleh Andri Budi Sanjaya.
Perempuan berkerudung itu menuturkan, pada awalnya Andri mengetahui ada tawaran pekerjaan dari media Facebook. Pekerjaan itu sebagai karyawan restoran di Kamboja, dengan iming-iming gaji besar.
"Awalnya dia dapat lowongan kerja dari Facebook. Dijanjikan kerja di restoran dengan gaji besar. Tapi setelah sampai di sana Desember 2025, ternyata bukan kerja di restoran, melainkan di tempat judi online atau scam,” ujar Ny Fauzan, Kamis (12/2/2026).
Sesampainya di Kamboja, ternyata Andri disuruh pihak perusahaan untuk bekerja melakukan penipuan seperti love scamming. Hal itu berbeda jauh dengan yang ditawarkan di lowongan pekerjaan.
Dia mengungkapkan, selama bekerja di Kamboja, Andri berada di bawah pengawasan ketat. Bahkan, jika tidak memenuhi target atau membantah perintah perusahaan, para pekerja akan mendapat hukuman.
"Katanya diawasi 24 jam, tidak bisa ke mana-mana. Kalau tidak ikut perintah atau tidak capai target, dihukum. Ada yang sampai dipukul, ditokok kepalanya. Banyak juga yang stres,” ungkapnya.
Keberangkatan Andri ke Kamboja sebenarnya sudah sempat dilarang oleh keluarga dan kerabat dekat.
Suami Nyonya Fauzan yang berteman akrab dengan Andri pun telah memperingatkan soal risiko bekerja di Kamboja.
“Sudah dilarang, karena pemerintah juga sudah sering mengingatkan soal bahaya kerja di Kamboja, Thailand, Vietnam. Tapi dia tetap ngotot berangkat karena mungkin tergiur gaji besar,” katanya.
Andri diketahui berangkat pada akhir 2025, dan baru bekerja sekitar satu bulan sebelum akhirnya terjaring razia.
"Alhamdulillah ada razia besar-besaran di sana, jadi dia bisa dibawa ke KBRI. Kalau tidak, entah bagaimana nasibnya,” ujarnya.
Saat ini, Andri berada di KBRI Kamboja. Kebutuhan makan dan tempat tinggal ditanggung KBRI, namun untuk biaya pemulangan ke Indonesia harus ditanggung sendiri.
“Sekarang sudah di KBRI, makan dua kali sehari ditanggung. Tapi untuk ongkos pulang harus biaya sendiri,” jelasnya.
Hidup Sendiri di Jambi
Menurut Ny Fauzan, kondisi keluarga Andri di Jambi cukup memprihatinkan.
Ia menyebut Andri tidak memiliki banyak keluarga yang bisa membantu secara finansial.
“Dia ini bisa dibilang sebatang kara di Jambi. Jadi kami berinisiatif membantu menggalang dana untuk biaya kepulangannya,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa jika ada donasi, dana tidak bisa langsung dikirim ke Andri, melainkan harus melalui pihak KBRI.
“Kalau ada bantuan, tidak bisa langsung ke Andri. Harus melalui pihak KBRI yang mengurus. Kami juga sudah komunikasi lewat telepon dengan pihak KBRI,” ujarnya.
Keluarga berharap ada perhatian dan bantuan dari pemerintah maupun masyarakat agar Andri bisa segera dipulangkan ke Jambi dalam kondisi selamat dan sehat.
“Kami minta tolong kepada pemerintah, baik pemerintah daerah, pusat, maupun pihak swasta dan dewan, agar bisa membantu kepulangan Andri ke Jambi. Kami juga berharap masyarakat Jambi bisa ikut membantu,” pungkasnya. (Tribunjambi.com/Rifani Halim)
Baca juga: Warga Jambi Ditipu Sindikat Kamboja: Kalau Gak Menipu, Kami Disetrum
Baca juga: Candi Muaro Jambi Layak Jadi Teladan Asia Tenggara, Komisi X Dorong Fokus Dana Abadi