TRIBUNGORONTALO.COM -- Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un disebut telah memilih putri remajanya, Kim Ju Ae, sebagai calon pemimpin masa depan negara tersebut.
Informasi ini disampaikan badan intelijen Korea Selatan kepada para anggota parlemen pada Kamis.
Jika pengumuman resmi dilakukan, langkah ini akan menjadi sejarah baru karena untuk pertama kalinya Korea Utara dipimpin oleh seorang perempuan.
Keputusan Kim Jong Un diyakini sebagai upaya memperpanjang dinasti keluarga Kim hingga generasi keempat.
Penilaian tersebut disampaikan Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (National Intelligence Service/NIS) dalam pengarahan tertutup kepada para legislator.
Baca juga: Penonaktifan PBI Berdampak, Puluhan Warga Datangi BPJS Gorontalo Setiap Hari
Korea Utara dijadwalkan menggelar konferensi politik terbesar akhir bulan ini.
Dalam agenda tersebut, Kim Jong Un diperkirakan akan memaparkan arah kebijakan utama negara untuk lima tahun ke depan sekaligus memperkuat kendali kekuasaannya.
NIS juga memantau kemungkinan kehadiran putri Kim Jong Un, yang diyakini berusia sekitar 13 tahun, saat sang pemimpin menyampaikan pidato di hadapan ribuan delegasi dalam Kongres Partai Buruh Korea mendatang.
Hal itu disampaikan anggota parlemen Korea Selatan, Lee Seong Kweun, usai mengikuti pengarahan intelijen tersebut.
“Di masa lalu, NIS menyebut Kim Ju Ae masih dalam tahap ‘pelatihan penerus’. Yang menarik hari ini, mereka menggunakan istilah ‘tahap penunjukan penerus’, yang merupakan perubahan cukup signifikan,” kata Lee.
Spekulasi mengenai masa depan politik Kim Ju Ae sebenarnya bukan hal baru.
Para pengamat menilai putri Kim Jong Un semakin kuat disebut sebagai penerus potensial, terutama setelah kunjungan pentingnya ke China pada 2025 yang semakin menegaskan posisinya.
Remaja yang diperkirakan masih berusia awal belasan tahun dan disebut memiliki kemiripan fisik dengan ibunya itu mendampingi ayahnya dalam perjalanan luar negeri pertama ke pertemuan para pemimpin dunia.
Rekaman media pemerintah Korea Utara juga menampilkan kehadirannya saat kunjungan ke Beijing.
Selain itu, Kim Ju Ae juga terlihat mendampingi ayahnya saat inspeksi uji coba peluncuran rudal balistik dari lokasi yang tidak diungkap di Korea Utara.
Menurut Lee, NIS memantau peningkatan kehadiran Kim Ju Ae dalam berbagai acara militer penting, termasuk keterlibatannya dalam kunjungan keluarga ke Mausoleum Kumsusan serta indikasi bahwa Kim Jong Un mulai meminta pandangannya dalam beberapa persoalan kebijakan.
Awalnya, badan intelijen Korea Selatan meragukan kemungkinan Kim Ju Ae menjadi pemimpin Korea Utara, mengingat budaya negara tersebut yang sangat konservatif dan kepemimpinan yang selama ini didominasi laki-laki.
Namun pada September tahun lalu, ketika Kim Jong Un mulai sering tampil bersama putrinya, NIS menilai langkah tersebut kemungkinan bagian dari upaya membangun “narasi” untuk mempersiapkan suksesi kepemimpinan.
Media pemerintah Korea Utara sendiri tidak pernah secara resmi menyebut nama Kim Ju Ae.
Mereka hanya menyebutnya sebagai anak Kim Jong Un yang “terhormat” atau “paling disayangi”.
Keyakinan mengenai nama Kim Ju Ae berasal dari pengakuan mantan bintang NBA Dennis Rodman, yang mengaku pernah menggendong bayi perempuan Kim Jong Un saat berkunjung ke Pyongyang pada 2013.
Usia pasti Kim Ju Ae belum dikonfirmasi secara resmi, tetapi pejabat intelijen Korea Selatan memperkirakan ia lahir pada 2013.
Kim Ju Ae pertama kali muncul di hadapan publik saat uji coba rudal jarak jauh pada November 2022.
Baca juga: Bos Manchester United Jim Ratcliffe Minta Maaf Usai Pernyataan Anti-Imigran Picu Kritik
Sejak saat itu, ia semakin sering terlihat mendampingi ayahnya dalam berbagai kegiatan, termasuk uji coba senjata, parade militer, hingga peresmian pabrik.
Perubahan besar terjadi ketika ia muncul bersama Kim Jong Un dalam kunjungan ke Beijing pada September tahun lalu saat pertemuan pertama ayahnya dengan Presiden China Xi Jinping.
Spekulasi tentang masa depan politiknya semakin menguat bulan lalu ketika ia ikut bersama kedua orang tuanya mengunjungi Istana Matahari Kumsusan di Pyongyang pada Hari Tahun Baru.
Kompleks tersebut merupakan mausoleum keluarga yang menyimpan jasad kakek dan buyutnya, yakni Kim Il Sung dan Kim Jong Il, pemimpin generasi pertama dan kedua Korea Utara.
Sejumlah analis menilai kunjungan itu sebagai sinyal paling jelas bahwa ia sedang diposisikan sebagai pewaris takhta ayahnya yang kini berusia 42 tahun.
Sejak berdiri pada 1948, Korea Utara selalu dipimpin anggota laki-laki keluarga Kim, dimulai dari pendiri negara Kim Il Sung, kemudian dilanjutkan putranya Kim Jong Il.
Kim Jong Un sendiri baru berusia 26 tahun ketika secara resmi ditunjuk sebagai pewaris kekuasaan dalam konferensi partai pada 2010, dua tahun
setelah Kim Jong Il mengalami stroke serius. Setelah ayahnya meninggal pada Desember 2011, Kim Jong Un langsung naik ke tampuk kekuasaan dengan persiapan yang relatif terbatas. (*)