Baca juga: Arti Kata Blaming, Blaming Artinya, Ciri-ciri, Jenis-jenis, Contoh, Penyebab, Dampak, Cara Mengatasi
Baca juga: Arti Blaming dalam Bahasa Gaul dan Arti Blaming dalam Bahasa Melayu Riau serta Contoh Kalimat
Baca juga: Arti Blaming dalam Hubungan Romantis, Bentuk, Contoh, Penyebab, Dampak, Cara Mengatasi
Baca juga: Arti Blaming dalam Hubungan Pertemanan, Bentuk Perilaku, Penyebab, Dampak Negatif, Cara Mengatasi
Kata atau istilah blaming ini sudah sering digunakan kaula muda dalam bahasa formal dan bahasa pergaulan di Riau, baik di media sosial maupun di dunia nyata.
Bagi para kaula muda Pekanbaru atau kaula muda Riau umumnya yang ingin menggunakan kata ini sebagai bahasa dalam pergaulan, simak penjelasannya agar paham artinya dan lawan bicara tidak salah paham.
Secara bahasa atau secara harfiah, blaming merupakan kata kerja dalam bahasa Inggris, dan dalam bahasa Indonesia arti kata blaming atau blaming artinya adalah menyalahkan atau menuduh.
Secara istilah, arti kata blaming atau blaming artinya adalah tindakan menyalahkan orang lain atas kesalahan, masalah, atau kejadian buruk, daripada menerima tanggung jawab atas peran sendiri dalam situasi tersebut.
Secara istilah, arti blaming dalam hubungan keluarga adalah pola perilaku saat anggota keluarga secara konsisten menyalahkan satu sama lain atas masalah, kesalahan, atau perasaan negatif.
Hal ini merupakan cara yang tidak sehat untuk menghindari tanggung jawab, mengungkapkan ketidakpuasan, dan sering kali menciptakan dinamika yang disfungsional.
Berikut bentuk perilaku blaming dalam keluarga dan penjelasannya :
1. Menyalahkan Orang Tua: Anak menyalahkan orang tua atas masalah yang mereka hadapi dalam hidup, seperti Aku tidak sukses karena kamu tidak memberiku pendidikan yang baik.
2. Menyalahkan Anak: Orang tua menyalahkan anak atas masalah dalam keluarga, seperti Rumah ini selalu berantakan karena kamu tidak pernah membersihkan kamar.
3. Menyalahkan Saudara: Saudara menyalahkan satu sama lain atas pertengkaran atau persaingan, seperti Dia yang memulai duluan!
4. Menyalahkan Pasangan (dalam konteks keluarga inti): Suami atau istri menyalahkan pasangannya atas masalah dalam pernikahan atau keluarga, seperti Kamu tidak pernah mendukungku!
5. Menyalahkan Anggota Keluarga yang Lain: Menyalahkan kakek, nenek, paman, bibi, atau anggota keluarga lainnya atas masalah yang terjadi.
6. Menyalahkan atas Perasaan Sendiri: Menyalahkan anggota keluarga atas perasaan negatif yang Anda rasakan, seperti Kamu membuatku marah!
7. Menyalahkan atas Kesalahan Masa Lalu: Terus-menerus mengungkit kesalahan masa lalu anggota keluarga dan menyalahkannya atas masalah yang terjadi saat ini.
8. Menyalahkan atas Keadaan: Menyalahkan anggota keluarga atas keadaan eksternal yang di luar kendali mereka, seperti Kita tidak punya uang karena kamu tidak cukup bekerja keras.
Berikut penyebab blaming dalam keluarga dan penjelasannya :
1. Menghindari Tanggung Jawab: Menyalahkan adalah cara untuk menghindari mengakui kesalahan atau kekurangan sendiri.
2. Melindungi Harga Diri: Menyalahkan dapat membantu melindungi harga diri dan citra diri seseorang.
3. Mengendalikan Anggota Keluarga: Menyalahkan dapat digunakan sebagai cara untuk mengendalikan anggota keluarga dan membuat mereka merasa bersalah atau tidak berdaya.
4. Mengungkapkan Ketidakpuasan: Menyalahkan dapat menjadi cara untuk mengungkapkan ketidakpuasan dan frustrasi dalam keluarga, meskipun dengan cara yang tidak sehat.
5. Pola Perilaku yang Dipelajari: Blaming dapat menjadi pola perilaku yang dipelajari dari orang tua atau anggota keluarga lainnya.
6. Kurangnya Keterampilan Komunikasi: Kurangnya keterampilan komunikasi yang efektif dapat membuat seseorang kesulitan untuk mengekspresikan perasaan mereka secara jujur dan terbuka, sehingga mereka beralih ke menyalahkan.
7. Masalah Keluarga yang Belum Terselesaikan: Masalah keluarga yang belum terselesaikan, seperti persaingan saudara atau konflik orang tua, dapat memicu perilaku blaming.
8. Dinamika Keluarga yang Disfungsional: Dalam keluarga yang disfungsional, blaming seringkali menjadi cara utama untuk berinteraksi.
Berikut dampak negatif blaming dalam keluarga dan penjelasannya :
1. Merusak Komunikasi: Blaming menghambat komunikasi yang jujur dan terbuka, menciptakan kesalahpahaman dan jarak emosional.
2. Meningkatkan Konflik: Blaming memicu pertengkaran dan konflik yang lebih sering dan intens.
3. Merusak Kepercayaan: Blaming merusak kepercayaan dan membuat anggota keluarga merasa tidak aman dan tidak dihargai.
4. Menurunkan Harga Diri: Blaming dapat menurunkan harga diri anggota keluarga yang terus-menerus disalahkan.
5. Menciptakan Lingkungan yang Negatif: Blaming menciptakan lingkungan yang negatif dan tidak sehat dalam keluarga.
6. Merusak Hubungan: Blaming dapat merusak hubungan antara anggota keluarga, menyebabkan permusuhan dan keterasingan.
7. Mempengaruhi Kesehatan Mental: Blaming dapat berkontribusi pada masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD).
8. Mewariskan Pola Disfungsional: Pola blaming dapat diwariskan dari generasi ke generasi, menciptakan siklus disfungsional yang sulit dipecahkan.
Berikut cara mengatasi perilaku blaming dalam keluarga dan penjelasannya :
1. Kesadaran Diri (Self-Awareness): Sadari kapan Anda bersikap menyalahkan dan mengapa. Identifikasi pemicu Anda dan pola perilaku Anda.
2. Komunikasi yang Jujur dan Terbuka (Honest and Open Communication): Bicarakan dengan anggota keluarga Anda tentang perasaan Anda secara jujur dan terbuka, tetapi dengan cara yang penuh kasih dan hormat.
3. Empati (Empathy): Cobalah untuk memahami perspektif anggota keluarga Anda dan merasakan apa yang mereka rasakan.
4. Validasi (Validation): Validasi perasaan anggota keluarga Anda, bahkan jika Anda tidak setuju dengan mereka. Katakan sesuatu seperti Aku mengerti mengapa kamu merasa seperti itu.
5. Akui Tanggung Jawab (Take Responsibility): Akui kesalahan Anda dan bertanggung jawab atas tindakan Anda.
6. Minta Maaf (Apologize): Minta maaf dengan tulus atas kesalahan yang Anda buat.
7. Fokus pada Solusi (Focus on Solutions): Alihkan fokus dari menyalahkan atau membela diri ke mencari solusi untuk masalah yang ada.
8. Tetapkan Batasan (Set Boundaries): Tetapkan batasan yang jelas tentang perilaku yang tidak dapat Anda toleransi dalam keluarga.
9. Memaafkan (Forgiveness): Belajar untuk memaafkan diri sendiri dan anggota keluarga lainnya atas kesalahan masa lalu.
10. Mencari Bantuan Profesional (Seek Professional Help): Jika Anda kesulitan mengatasi perilaku blaming sendiri, pertimbangkan untuk mencari bantuan dari terapis keluarga.
1. Terapi Keluarga: Terapi keluarga dapat membantu anggota keluarga untuk meningkatkan komunikasi, membangun kepercayaan, dan mengatasi masalah yang mendasari perilaku blaming.
2. Pertemuan Keluarga: Adakan pertemuan keluarga secara teratur untuk membahas masalah, berbagi perasaan, dan membuat keputusan bersama.
3. Aktivitas Bersama: Luangkan waktu untuk melakukan aktivitas bersama sebagai keluarga, seperti makan malam bersama, bermain game, atau berlibur.
4. Fokus pada Hal Positif: Fokus pada hal-hal positif dalam keluarga dan saling memberikan dukungan dan dorongan.
5. Ciptakan Lingkungan yang Aman: Ciptakan lingkungan keluarga yang aman dan suportif di mana setiap orang merasa nyaman untuk mengekspresikan perasaan mereka tanpa takut dihakimi atau disalahkan.
6. Pendidikan Keluarga: Belajar tentang dinamika keluarga yang sehat dan cara membangun hubungan yang positif.
Mengatasi perilaku blaming dalam keluarga membutuhkan komitmen, kesabaran, dan kerjasama dari semua anggota keluarga.
Dengan menerapkan strategi-strategi di atas, Anda dapat menciptakan lingkungan keluarga yang lebih sehat, harmonis, dan penuh kasih sayang.
Ingatlah bahwa perubahan membutuhkan waktu, dan penting untuk merayakan setiap langkah kecil yang Anda capai dalam perjalanan menuju keluarga yang lebih bahagia.
Sumber: tribunpekabaru.com, kbbi.web.id, kbbi.co.id, yourdictionary.com, Kamus Bahasa Indonesia - Bahasa Melayu Riau
Demikian penjelasan tentang arti blaming dalam hubungan keluarga dan bentuk perilaku blaming dalam keluarga serta penyebab blaming dalam keluarga hingga dampak negatif blaming dalam keluarga dan cara mengatasi perilaku blaming dalam keluarga .
( Tribunpekanbaru.com / Pitos Punjadi )