TRIBUNNEWS.COM - Masa depan Roberto De Zerbi kian mengerucut ke London Utara. Pelatih asal Italia itu dikabarkan siap menolak ketertarikan Manchester United demi menerima tawaran menjadi manajer baru Tottenham Hotspur, yang tengah lowong usai pemecatan Thomas Frank.
Situasi ini muncul di waktu yang hampir bersamaan dengan kepergian De Zerbi dari Olympique de Marseille, sehingga membuka peluang bagi Spurs untuk bergerak cepat mengamankan jasanya.
Tottenham sendiri resmi berpisah dengan Thomas Frank pada Kamis (12/2/2026) setelah performa buruk yang menyeret klub mendekati zona degradasi Premier League.
Spurs kini hanya berjarak lima angka dari West Ham yang berada di zona degradasi.
Performa yang inkonsisten tersebut akhirnya membuat Spurs mengambil keputusan untuk memecat Thomas Frank.
Dikutip dari Football Insider, Tottenham mungkin harus membayar kompensasi sekitar 8 juta poundsterling (sekitar Rp183,6 miliar) dalam pemecatan Thomas Frank.
Menurut laporan Givemesport, De Zerbi sebenarnya sempat menolak tawaran Tottenham pada pendekatan sebelumnya.
Namun, kondisi internal klub yang kini berubah membuat sang pelatih mempertimbangkan ulang keputusannya.
Kepergian Daniel Levy dan Fabio Paratici dari struktur pengambilan keputusan klub disebut menjadi faktor kunci.
De Zerbi kini diyakini akan mendapat pengaruh lebih besar dalam kebijakan transfer dan pembangunan tim, sesuatu yang sangat ia prioritaskan dalam karier kepelatihannya.
Pelatih berusia 46 tahun itu bahkan dikabarkan bersedia segera terbang ke London untuk kembali berdiskusi dengan manajemen Spurs mengenai proyek jangka pendek dan jangka panjang klub.
Baca juga: Arsenal Selisih 4 Poin dari Manchester City, Mikel Arteta Tetap Tenang Soal Gelar Juara
Sumber yang dekat dengan De Zerbi mengungkapkan bahwa eks pelatih Brighton tersebut melihat pekerjaan di Tottenham sebagai langkah logis selanjutnya dalam perjalanan kariernya.
Meski baru berpisah dari Marseille kurang dari 48 jam, De Zerbi disebut tidak ingin berlama-lama tanpa klub dan siap langsung kembali bekerja, terlebih dengan tantangan besar yang menantinya di Premier League.
Tottenham sendiri sedang berada dalam situasi genting. Kekalahan kandang dari Newcastle United pada Selasa malam membuat Spurs hanya berada dua peringkat dan lima poin di atas zona degradasi, dengan 12 pertandingan tersisa hingga akhir musim.
Di sisi lain, Manchester United berpotensi gigit jari. Klub berjuluk Setan Merah tersebut dikabarkan tertarik merekrut Roberto De Zerbi pada bursa transfer musim panas mendatang sebagai bagian dari rencana besar restrukturisasi tim.
Namun, Manchester United masih bersikap wait and see terhadap kinerja Michael Carrick. Jika Carrick mampu mempertahankan tren positif hingga akhir musim, manajemen MU diyakini akan mempermanenkannya sebagai pelatih kepala.
Sebaliknya, apabila performa Setan Merah kembali menurun, nama De Zerbi disebut siap masuk dalam daftar kandidat kuat pengganti.
Tak hanya United, rival sekota mereka, Manchester City, juga dikabarkan memantau situasi De Zerbi.
Pelatih asal Italia itu disebut-sebut sebagai opsi jangka panjang, terutama jika Pep Guardiola suatu hari memutuskan meninggalkan Etihad Stadium.
Meski demikian, Tottenham Hotspur dinilai memiliki keunggulan tersendiri.
Spurs berpotensi bergerak lebih cepat untuk mengamankan jasa De Zerbi tanpa harus menunggu akhir musim, sesuatu yang sulit dilakukan oleh Manchester United maupun Manchester City.
Faktor kecepatan inilah yang diyakini dapat menggagalkan rencana Manchester United dan membuat Tottenham unggul dalam perburuan tanda tangan De Zerbi.
Jika kesepakatan benar-benar terwujud, De Zerbi akan langsung dihadapkan pada tantangan berat: menyelamatkan Tottenham dari ancaman degradasi sekaligus membangun ulang identitas permainan klub di bawah tekanan besar kerasnya kompetisi Premier League.
(Tribunnews.com/Ali)