POS KUPANG.COM -- Seks bebas di kalangan pria ternyata sangat rentang terkenal penyanyi seks menular .
Perilaku seks bebas atau hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan masih menjadi salah satu persoalan kesehatan serius di Indonesia.
Praktik ini tidak hanya berisiko menimbulkan kehamilan yang tidak direncanakan, tetapi juga dapat memicu beragam penyakit menular seksual (PMS) yang berbahaya, khususnya bagi pria.
Selama ini, dampak penyakit menular seksual kerap diasosiasikan lebih berat pada wanita. Namun, menurut dr. Erika, Clinical Training Manager DKT Indonesia, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Justru dalam banyak kasus, pria memiliki risiko tinggi tertular infeksi menular seksual (IMS) tanpa menyadarinya.
Baca juga: Wisata NTT, Inilah 8 Tempat Wisata di Sumba, Surga Eksotis di Timur Indonesia
dr. Erika menjelaskan bahwa salah satu masalah utama IMS pada pria adalah minimnya gejala yang muncul. Kondisi ini membuat banyak pria merasa tubuhnya baik-baik saja, padahal sebenarnya telah terinfeksi dan berpotensi menularkan penyakit tersebut kepada pasangan seksualnya.
“Pada pria, gejala penyakit menular seksual sering kali tidak terlihat jelas. Ini berbeda dengan wanita yang umumnya lebih cepat merasakan atau melihat perubahan pada tubuhnya,” ujar dr. Erika saat ditemui saat acara peluncuran kampanye Kondom Sutra "Mau Kalo Pake Kondom" di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada Jumat (13/2/2026).
Ia mencontohkan infeksi Human Papillomavirus (HPV), salah satu virus yang paling umum menular melalui hubungan seksual. Pada wanita, HPV sering menimbulkan gejala yang dapat terlihat secara fisik. Namun pada pria, infeksi ini kerap tidak menunjukkan tanda-tanda yang jelas.
“HPV itu kalau di wanita biasanya lebih terasa atau terlihat gejalanya. Tapi kalau di pria, sering kali tidak berasa sama sekali,” jelasnya.
HPV merupakan kelompok virus yang dapat menginfeksi kulit dan selaput lendir melalui kontak kulit ke kulit, terutama saat berhubungan seksual. Infeksi ini tidak bisa dianggap sepele karena dalam jangka panjang dapat menyebabkan kutil kelamin dan meningkatkan risiko berbagai jenis kanker, seperti kanker serviks, anus, penis, hingga kanker tenggorokan.
Selain HPV, perilaku seks bebas juga berpotensi menyebabkan penyakit kelamin lain yang tidak kalah berbahaya, seperti gonore (kencing nanah) dan sifilis atau yang dikenal masyarakat sebagai raja singa.
Menurut dr. Erika, penyakit-penyakit tersebut banyak ditemukan pada pria yang sering berganti-ganti pasangan seksual dan cenderung menyepelekan risiko kesehatan.
“Infeksi menular seksual itu jenisnya sangat banyak. Ada yang disebabkan bakteri, virus, bahkan mikroorganisme lain. Satu kesamaan dari semuanya adalah cara penularannya, yaitu melalui hubungan seksual,” ungkapnya.
Ia menambahkan, gonore dan sifilis pada pria justru sering menunjukkan gejala lebih awal dibandingkan pada wanita. Namun, tetap saja banyak kasus diabaikan karena rasa malu atau kurangnya pengetahuan.
Sifilis, misalnya, biasanya diawali dengan luka kecil yang tidak menimbulkan rasa nyeri sehingga sering tidak disadari. Jika tidak diobati, penyakit ini dapat berkembang ke tahap lanjutan dengan gejala berupa ruam pada kulit, demam, hingga pembengkakan kelenjar getah bening.
Pada tahap yang lebih parah, sifilis dapat menyerang organ vital seperti jantung dan otak, bahkan berujung pada kematian. Hal ini menunjukkan bahwa IMS bukan sekadar masalah ringan, melainkan ancaman serius bagi kesehatan jangka panjang.
Untuk mencegah risiko tersebut, dr. Erika menekankan pentingnya menerapkan perilaku seks aman, salah satunya dengan menggunakan alat kontrasepsi seperti kondom setiap kali melakukan hubungan seksual, terutama dengan pasangan yang status kesehatannya tidak diketahui.
“Penggunaan kondom sangat efektif untuk mencegah penularan infeksi menular seksual, termasuk HIV/AIDS yang merupakan salah satu penyakit paling berbahaya,” katanya.
Ia mencontohkan kondom Sutra sebagai alat kesehatan yang telah dikenal luas dan digunakan untuk membantu melindungi diri dari HIV serta berbagai IMS lainnya.
“Selain mencegah penyakit menular, penggunaan kondom juga berperan penting dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, baik pada hubungan non-pernikahan maupun dalam rumah tangga,” pungkas dr. Erika.
Melalui edukasi yang tepat dan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, dr. Erika berharap masyarakat, khususnya pria, tidak lagi menganggap remeh risiko seks bebas. Deteksi dini, pemeriksaan kesehatan rutin, serta penggunaan alat pelindung saat berhubungan seksual menjadi langkah penting untuk melindungi diri sendiri dan pasangan dari ancaman penyakit berbahaya.(*)