TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali memicu kontroversi global melalui pernyataan terbukanya mengenai doktrin negosiasi luar negeri yang agresif.
Dalam kunjungan mendadak untuk menyapa pasukan AS di sebuah pangkalan militer pada Jumat (13/2/2026), Trump secara blak-blakan menyatakan bahwa "rasa takut" adalah alat negosiasi yang paling efektif, terutama dalam menghadapi ketegangan yang kian memuncak dengan Iran.
Di hadapan ratusan prajurit, Trump menegaskan bahwa kehadiran militer AS yang masif di perbatasan wilayah Iran bukan sekadar gertakan.
Melainkan bagian dari strategi psikologis untuk memaksa Teheran tunduk pada tuntutan Washington.
Dalam pidatonya, Trump membela pendekatannya yang dianggap banyak pihak terlalu berisiko.
Ia menyebut bahwa diplomasi tradisional sering kali gagal karena tidak memiliki "taring" yang cukup kuat untuk menekan lawan.
"Rasa takut adalah motivator yang sangat kuat. Kadang-kadang, itu adalah satu-satunya hal yang dimengerti oleh rezim seperti mereka," ujar Trump, mengutip Reuters.
"Mereka melihat apa yang kita miliki di sini, mereka melihat armada kita, dan mereka tahu bahwa kita tidak sedang bermain-main."
"Itulah yang membawa mereka ke meja runding, bukan surat-surat diplomatik yang sopan," tegasnya.
Pernyataan ini muncul tepat saat para mediator internasional sedang berupaya keras merumuskan kerangka kerja perundingan nuklir yang sedianya akan dilaksanakan pekan ini.
Trump seolah ingin mengirimkan pesan bahwa negosiasi kali ini tidak akan berjalan setara, melainkan di bawah bayang-bayang kekuatan militer AS.
Baca juga: Armada Kapal Induk Kedua AS Menuju Timur Tengah, Siap Bertempur dengan Iran?
Sikap agresif Trump ini menuai kritik tajam dari komunitas internasional.
Banyak pihak khawatir bahwa retorika "teror psikologis" ini justru akan memicu salah paham yang berujung pada perang terbuka yang tidak diinginkan.
Seorang pejabat senior dari Kementerian Luar Negeri Iran merespons pidato Trump dengan menyebutnya sebagai "diplomasi preman".
Teheran menegaskan bahwa martabat bangsa mereka tidak akan goyah hanya karena ancaman, dan memperingatkan bahwa setiap tindakan militer AS akan dibalas dengan serangan yang akan "mengejutkan dunia".
"Trump mengira dia bisa menakut-nakuti sebuah bangsa dengan sejarah ribuan tahun."
"Dia melakukan kesalahan besar," tulis sebuah tajuk rencana di media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran.
Pernyataan Trump ini menyusul pengerahan kapal induk terbaru dan tercanggih milik AS, USS Gerald R. Ford menuju wilayah Teluk.
Pengerahan armada tempur raksasa ini dikonfirmasi oleh pejabat Pentagon pada Kamis malam waktu setempat.
Kapal induk Gerald R. Ford, yang membawa kekuatan udara masif dan teknologi siluman terbaru, diperkirakan akan tiba di perairan strategis tersebut dalam hitungan hari untuk bergabung dengan gugus tempur laut yang sudah bersiaga sebelumnya.
Langkah militer ini merupakan realisasi dari peringatan keras yang dilontarkan Trump melalui media sosial Truth Social beberapa hari lalu.
Baca juga: Double Trouble Buat Iran, AS Kini Berkekuatan 180 Pesawat Tempur di Dua Kapal Induk
Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan lagi menoleransi aktivitas pengayaan uranium Iran yang telah melampaui batas kesepakatan internasional.
"Kami memiliki aset militer terbaik di dunia, dan kami tidak akan ragu menggunakannya jika Iran terus bermain api," ujar seorang pejabat senior Gedung Putih yang dikutip oleh Axios.
Pengerahan ini dipandang bukan sekadar latihan rutin, melainkan upaya pengepungan strategis.
USS Gerald R. Ford adalah kapal induk kelas baru yang memiliki kemampuan peluncuran pesawat lebih cepat (EMALS) dan sistem pertahanan yang jauh lebih kuat dibandingkan kelas Nimitz yang sudah ada di kawasan tersebut.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan bahwa negaranya sepenuhnya berkomitmen dalam menyelesaikan diplomatik dengan AS.
Namun, kata Araghchi, Iran juga tengah bersiap untuk menghadapi kemungkinan konflik yang bakal terjadi kembali.
Menurut Araghchi, tidak ada solusi selain diplomatik, dan mengatakan bahwa teknologi serta kemajuan tidak dapat dihancurkan melalui pemboman dan ancaman militer.
"Kami masih belum sepenuhnya percaya pada Amerika," kata Araghchi kepada Russia Today.
"Kami sedang dalam proses negosiasi Juni lalu ketika mereka memutuskan untuk menyerang kami. Itu adalah pengalaman yang sangat buruk bagi kami," tegasnya.
Ia menekankan bahwa program pengayaan uranium Iran sepenuhnya bersifat damai.
Araghchi mengatakan tingkat pengayaan bergantung pada kebutuhan sipil.
Tercatat bahwa reaktor pembangkit listrik membutuhkan pengayaan di bawah 5 persen.
Sementara Reaktor Penelitian Teheran – yang dibangun oleh AS sebelum revolusi 1979 – menggunakan bahan bakar yang diperkaya 20 persen untuk menghasilkan isotop medis untuk pengobatan kanker.
"Angka-angka itu tidak penting… Yang penting adalah sifat damai dari pengayaan uranium," ucap Araghchi.
Dirinya menambahkan bahwa Iran siap memberikan jaminan bahwa mereka tidak akan mengejar senjata nuklir.
Araghchi juga menyebut jaminan tersebut “dapat dilakukan dan dicapai” jika ada niat baik dari kedua belah pihak.
(Tribunnews.com/Whiesa)