Profil Soenarko, Pemimpin GMKR yang Desak Adili Jokowi dan Makzulkan Gibran
Nuryanti February 14, 2026 09:30 AM

TRIBUNNEWS.COM - Eks Danjen Kopassus, Soenarko, menjadi pemimpin Gerakan Merebut Kembali Kedaulatan Rakyat (GMKR) yang mendesak adili Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan makzulkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Soenarko mendeklarasikan GMKR di Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).

Deklarasi tersebut dihadiri oleh sejumlah purnawirawan jenderal TNI-Polri yakni mantan Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Purn Slamet Soebijanto; mantan Wakapolri, Komjen Pol (Purn) Oegroseno; dan Juru Bicara Forum Purnawirawan Prajurit TNI (FPPTNI), Laksma TNI (Purn) Moeryono Aladin.

GMKR dibentuk sebagai dukungan dari rakyat agar Presiden Prabowo Subianto berani menghadapi oligarki tanpa rasa takut.

Baca juga: Sosok Laksamana Purn Slamet Soebijanto, Eks KSAL yang Ikut Deklarasi GMKR Desak Adili Jokowi

Terdapat 5 poin tuntutan GMKR, berikut isinya:

1. Ajak rakyat bersatu: Merebut kembali kedaulatan dari kekuasaan oligarki.

2. Pertanggungjawaban pejabat: Meminta tanggung jawab semua pihak yang menyerahkan kedaulatan kepada oligarki.

3. Menuntut politisi dan aparat berhenti menjadi pelindung dan kaki tangan oligarki.

4. Mendesak Presiden Prabowo membersihkan pemerintahannya dari unsur-unsur pelindung oligarki.

5. Adili Joko Widodo dan makzulkan Gibran Rakabuming Raka serta Reformasi Kepolisian Republik Indonesia.

Profil Soenarko

Soenarko adalah purnawirawan perwira tinggi (Pati) di TNI Angkatan Darat (AD).

Ia merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1978.

Soenarko lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 1 Desember 1953.

Jenderal bintang 2 tersebut dipercaya menjadi Danjen Kopassus pada 12 September 2007.

Kala itu, ia menggantikan posisi Mayjen TNI (Purn) Rasyid Qurnuen Aquary.

Jabatan Danjen Kopassus diemban Soenarko selama satu tahun hingga 1 Juli 2008.

Tak lama setelah itu, Soenarko digantikan oleh Pramono Edhie Wibowo.

Soenarko sendiri diamanahkan untuk menduduki posisi jabatan sebagai Pangdam Iskandar Muda.

Pada 2009, Soenarko lalu dimutasi sebagai Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif) pada 2009.

Kala itu, ia menggantikan posisi Mayjen Nartono.

Selama berada di dunia kemiliteran, Soenarko pernah mendapatkan bintang jasa, di antaranya SL. Seroja, SL. Dwidya Sistha, SL Kesetiaan 8 tahun dan SL Kesetiaan 16 tahun.

Setelah rampung di karier militernya, Mayjen Soenarko pun terjun ke dunia politik.

Ia pernah menjadi anggota Partai Aceh dari tahun 2012-2016.

Sebelum pada tahun 2017 bergabung dengan Partai Nanggroe Aceh, Soenarko dikabarkan sempat bergabung ke Partai Gerindra.

Soenarko juga pernah terjerat kasus hukum, mulai dari tuduhan kepemilikan senjata ilegal hingga dituding sebagai pelaku makar.

Ia juga disebut terlibat dalam kerusuhan 22 Mei 2019 hingga ditangkap Puspom TNI dan dijebloskan ke Rutan POM Guntur, Jakarta Selatan.

(Tribunnews.com/Rakli)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.