"Kasih Itu Menguatkan" Perjuagan Elsa Ibu Tunggal di Ungaran Berhasil Membesarkan 13 Anak
rival al manaf February 14, 2026 06:54 PM

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Seorang ibu tunggal di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah berhasil membesarkan 13 anak seorang diri.

13 anak itu kini sudah bekerja dan kuliah, tinggal satu anak yang masih duduk di bangku SMK.

Sosok wanita kuat itu adalah Eunika Elsa (60). Ia kemudian memberikan bocoran tentang apa kunci yang membuatnya kuat dalam berjuang.

“Kasih itu menguatkan segalanya,” ujar Eunika Elsa mengungkap rahasianya.

Baca juga: 40 Santri Menari Sufi Menyambut Datangnya Bulan Ramadan di Jepara

Baca juga: Dua Mobil Milik Pedagang di Banyumas Terbakar Dalam Semalam

Menjadi seorang single mom atau ibu tunggal bukanlah perkara mudah, namun Elsa membuktikan bahwa kasih sayang mampu melampaui batasan darah.

Elsa menghidupi 4 anak kandung sekaligus 9 anak asuh di rumahnya.

Perjalanan luar biasa ini bermula ketika Elsa, yang merupakan mantan perawat fisioterapi di sebuah rumah sakit di Kota Semarang, mengalami masalah keluarga.

“Dulu saya kan mantan perawat Mas, saya perawat fisioterapi di Rumah Sakit di Kota Semarang.

Terus saya karena ada masalah keluarga, saya harus pisah dengan suami karena suami saya punya istri lagi, saya membawa anak saya dari Semarang ke Ungaran,” ujarnya saat dikutip tribunjateng.com dari Kompas.com, Sabtu (14/2/2026).

Setelah berhenti dari pekerjaannya sebagai perawat, Elsa bekerja sebagai pengasuh di sebuah panti asuhan milik yayasan Katolik di Semarang selama tujuh tahun.

Namun, panti tersebut terpaksa ditutup karena kendala pendanaan dari yayasan di Belanda.

Elsa tidak tega melihat anak-anak asuhnya telantar.

Ia pun memutuskan membawa 9 anak panti untuk dibesarkan di rumahnya sendiri bersama anak kandungnya.

Langkah ini ia lakukan secara legal dengan prosedur yang jelas.

“Sebelum bubar itu saya mendatangi keluarga-keluarga, entah mbahnya, entah buleknya.

Iya, jadi saya ada surat-suratnya, saya juga laporan ke kantor kepolisian, juga saya lapor ke Pak Lurah, itu ada surat perjanjiannya,” tambah Elsa.

Keputusannya didukung penuh oleh keempat anak kandungnya yang juga pernah merasakan pahitnya perlakuan tidak adil dari sang ayah.

“Daripada yang sembilan lari ke jalan kasihan mending di asuh, mama,” kenang Elsa menirukan ucapan anak-anaknya kala itu.

Menghidupi 13 anak sekaligus tanpa bantuan rutin pemerintah memaksa Elsa memutar otak.

Ia memanfaatkan keahliannya di bidang boga dengan mengikuti berbagai lomba olahan makanan hingga akhirnya sukses mendirikan usaha katering.

“Sembilan anak saya asuh, mohon maaf dengan dana saya sendiri tanpa bantuan pemerintah ya.

Dengan jalan saya jualan, saya juga sering jadi narasumber dari lomba-lomba olahan makanan, yang soal kuliner,” ungkapnya.

Berkat kegigihannya, Elsa sering memenangi lomba tingkat provinsi maupun kabupaten.

Hasil dari katering dan mengajar pengelolaan makanan itulah yang ia gunakan untuk membiayai sekolah dan kebutuhan sehari-hari seluruh anaknya.

Elsa tidak hanya menyekolahkan mereka, tetapi juga membekali mereka dengan kemandirian melalui kelas tambahan seperti matematika, bahasa Inggris, melukis, hingga cooking class.

Strateginya sederhana: pastikan anak-anak kenyang dan nyaman di rumah agar tidak terpengaruh hal negatif di luar.

Kini, perjuangan Elsa mulai membuahkan hasil.

Beberapa anak asuhnya sudah menikah, bekerja, bahkan menempuh bangku kuliah.

"Paling kecil sekarang SMK kelas tiga, dulu dari panti diserahkan ke panti itu umur delapan bulan.

Dia dari Purbalingga, itu kan korban aborsi dari orang tuanya," tuturnya haru.

Meski usianya tak lagi muda, Elsa terus memotivasi anak-anaknya untuk melupakan masa lalu yang kelam dan fokus menatap masa depan.

"Saya tidak kaya, tapi saya yakin ada pernyataan Tuhan yang luar biasa.

Karena saya orang tidak mampu tapi Tuhan selalu cukupkan saya," pungkas Elsa. (*)

Sumber: kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.