TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara memiliki tradisi unik dalam menyambut datangnya Ramadan.
Tradisi ini bukan sebuah tradisi yang meriah layaknya Dugderan atau Dandangan.
Namun, sekadar tradisi hiburan dalam bentuk tari sufi yang digelar di halaman Masjid Al-Makmur Kriyan.
Puluhan santri Pondok Pesantren Nailun Najah dari usia anak-anak hingga remaja menari sufi di pelataran masjid untuk menghibur masyarakat.
Baca juga: Pesta Gol di Ternate: Malut United Hancurkan Persijap Jepara 4-0 Tanpa Balas
Baca juga: Aji Mumpung, Nur Rokhman Borong 50 Kg Beras di Bazar Murah Jepara: Stok Ramadan Hingga Lebaran
Meski dilakukan sederhana, tradisi ini menyedot ribuan animo masyarakat. Mereka tidak hanya datang dari warga Kriyan saja, juga datang dari berbagai daerah di Kecamatan Kalinyamatan dan sekitarnya.
Tahun ini, sebanyak 40 santri menjelma menjadi penari sufi yang penuh energik.
Mereka menari dalam tiga sesi sebagai tarian pembuka, hiburan, dan penutup.
Tarian sufi sambut Ramadan di pelataran Masjid Al Makmur Kriyan Jepara digelar setiap Jumat terakhir di bulan Sya'ban atau Ruwah.
Tradisi tari sufi ini sebagai penanda bahwa Ramadan akan tiba sebentar lagi. Sekaligus sebagai pengabar kepada masyarakat agar bersiap diri dalam menyambut Ramadan.
Dengan mengenakan pakaian serba putih mirip jubah khas pakaian tarian sufi dilengkapi peci panjang, para remaja santri pondok pesantren tampil anggun menunjukkan kebolehannya sebagai penari sufi.
Mereka berputar-putar sembari mengerakkan tangan kanan terbuka menengadah ke atas dan tangan kiri dihadapkan ke bawah. Sebagai simbol bahwa menyambut rahmat Allah SWT sepanjang Ramadan berlangsung, seraya membagikan rahmat dan keberkahan yang diterima kepada sesama manusia.
Tarian sufi bukan sekadar tarian pada umumnya. Tarian ini mengandung simbol doa-doa yang dipanjatkan semua masyarakat yang hadir diiringi lantunan salawat.
Mereka menari selama 10 hingga 15 menit, disaksikan ribuan warga yang hadir langsung di pelataran Masjid Al-Makmur.
Tarian sufi ini juga sebagai simbol kebahagiaan masyarakat dalam menyambut datangnya Ramadan.
Pengasuh Ponpes Nailun Najah Kriyan, Muhammad menuturkan, tari sufi ini digelar dalam rangka menyambut Ramadan.
Selain sebagai sarana hiburan, dia ingin tarian sufi ini menjadi tradisi yang bisa memberikan edukasi dan syiar kepada masyarakat agar menyambut bulan suci Ramadan dengan bahagia dan penuh suka cita.
"Ini tarian kebahagiaan, kalam cinta kepada Sang Kekasih. Tentu bulan Ramadan jangan dianggap sebagai beban, tetapi sebagai bulan istimewa yang disambut bahagia," kata dia.
Muhammad menyebut, pada dasarnya tidak ada rittual khusus yang dijalankan para penari sebelum tampil menari sufi.
Biasanya hanya dengan melaksanakan berwudlu, tawasul yang ditujukan kepada Nabi Muhammad, Syekh Jalaluddin Rumi hingga para mursyid atau guru untuk memohon keberkahan dan ketenangan hati.
Dia menyebut bahwa tarian sufi juga bisa diartikan sebagai corong ekspresi yang melambangkan kerinduan dan cinta.
Tarian yang dilakukan dengan cara berputar berlawanan arah jarum jam menandakan perputaran alam semesta, serta zikir yang dilafalkan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Khususnya sepanjang Ramadan berlangsung.
Muhammad berharap lewat tarian sufi ini bisa menjadi tradisi yang positif yang bisa diuri-uri setiap tahunnya.
"Tangan kanan yang menengadah ke atas simbol mengharap Rahmat, sementara tangankiri menghadap ke bawah bermakna menyebarkan cinta, menebarkan kebaikan kepada sesama. Jangan sampai ketika mendapat nikmat anugerah dari Allah, kita simpan sendiri, tidak menyebarkan ke tetangga dan sesama," tegasnya.
Satu di antara penari, Muhammad Maknun (21) sudah lima tahun ini menjadi penari sufi.
Menurut dia, tarian sufi bukan sekadar tarian biasa. Melainkan jembatan spiritual bagi penari dalam membawa ketenangan dalam hidup.
"Lebih menambah spiritual dan merasa tenang, karena tari sufi itu tujuannya untuk mengingat Sang Pencipta," ujarnya.
Maknun tertarik menjadi aktor penari sufi berawal dari kegiatannya selama nyantri di Ponpes Nailun Najah.
Pada awalnya dia tidak tahu apakah dia bisa menjadi bagian dari penari sufi yang profesional. Namun, dengan latihan sungguh-sungguh dalam lima tahun terakhir, akhirnya dia bisa menari sufi dengan lembut dan merasakan ketenangan batin dalam menjalani hidup.
"Dengan menari bisa melatih fokus dan berzikir ketika menari," tutur dia.
Pengunjung, Maftuchah (29) tertarik dengan tarian sufi yang memiliki gerakan khas dengan cara berputar-putar.
Dia bersama keluarga pun menyempatkan diri untuk melihat langsung penampilan tari sufi di pelataran Masjid Al Makmur Kriyan yang diperagakan para santri.
"Memang setiap tahun ini digelar sangat ramai. Meski waktunya sebentar, tapi warga pada datang sampai halaman masjid penuh sesak," ucapnya.
Sebagai warga, Maftuchah berharap setiap kebiasaan yang positif, sedianya bisa digelar rutin setiap tahunnya. Jika perlu digelar berulang kali pada momentum tertentu. Seperti menyambut datangnya Ramadan, bisa juga digelar menyambut tahun baru Islam. (Sam)