Renungan Harian Katolik Minggu 15 Februari 2026: Kebijaksanaan Allah dan Kejujuran Hati Manusia
Dion DB Putra February 14, 2026 09:19 PM

Oleh: RD. Leo Mali
Rohaniwan dan Dosen Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Di manakah kebijaksanaan sejati berakar? Bukan pertama-tama pada kecerdasan atau kemampuan manusia, melainkan pada kejujuran hati di hadapan Allah. 

Sebab hanya hati yang jujurlah yang mampu mengenali dan menerima kebijaksanaan Allah sebagai anugerah, bukan sebagai hasil kecerdikan manusia semata. 

Kitab Putera Sirakh yang ditulis oleh Yesus bin Sirakh, seorang guru kebijaksanaan Yahudi, sekitar tahun 200–180 sebelum Masehi berbicara tentang hal ini. 

Ketika itu umat Israel berada dalam ketegangan kultural dan spiritual berhadapan dengan cara berpikir Yunani. 

Baca juga: Komisi Liturgi Keuskupan Atambua Berharap Spirit Desiderio Desideravi Jadi Napas Setiap Perayaan

Di satu sisi, umat Israel mewarisi tradisi iman yang berakar pada Taurat yang mengatur relasi perjanjian dengan Allah. 

Israel yakin bahwa kebijaksanaan sejati bersumber dari takut akan Tuhan. 

Di sisi lain, budaya Helenis menawarkan daya tarik kebijaksanaan yang tampak modern, rasional, dan menjanjikan keberhasilan sosial. 

Ketegangan ini bukan sekadar soal budaya, melainkan krisis identitas iman: apakahIsrael akan tetap memahami hikmat sebagai anugerah Allah, atau menggesernya menjadi hasil kecerdikan manusia semata? 

Dalam konteks inilah Yesus bin Sirakh menegaskan kembali bahwa kebijaksanaan manusia tidak dapat dilepaskan dari kebijaksanaan Allah. 

Kesetiaan pada Taurat merupakan pilihan sadar untuk hidup secara bertanggung jawab di hadapan Allah. 

Karena itu, Sirakh menempatkan persoalan kebijaksanaan bukan pertama-tama pada tataran hukum atau intelektual, melainkan pada wilayah terdalam dari diri manusia: wilayah hati. 

Karena itu Sirakh mengajak umat Israel untuk berani menghadapi kebebasan mereka sendiri. 

“Api dan air telah ditaruh Tuhan di hadapanmu; kepada apa yang kau kehendaki, dapat kauulurkan tanganmu. Hidup dan mati terletak di depan manusia; apa yang dia pilih akan diberikan kepadanya.”(Sir. 15:16-17). 

Manusia bukanlah boneka di tangan Allah. Dalam kebijaksanaan-Nya, Allah menciptakan manusia dengan kebebasan sejati. Dan Allah tidak pernah berniat untuk mengambilnya kembali. Allah tidak pernah menyesal. 

Dengan memberikan kebebasan kepada manusia, Allah sekaligus menunjukkan kepercayaan-Nya yang mendalam kepada hati manusia. 

Ia tidak memaksa manusia untuk mencintai-Nya, tidak menundukkan manusia melalui ancaman atau ketakutan. 

Allah justru mengundang manusia untuk mengikuti-Nya secara bebas. Karena itu, penyerahan diri kepada Allah adalah puncak kebebasan manusia. 

Inilah cara memahami kebijaksanaan Allah: kebijaksanaan yang menghormati kebebasan, tetapi sekaligus mengarahkan manusia pada hidup yang penuh. 

Namun untuk itu setiap orang harus siap untuk terus-menerus menyelaraskan kehendak pribadi dengan kehendak Allah. 

Diperlukan kepekaan batin untuk mendengarkan suara Allah, bukan hanya dalam doa dan ibadat, tetapi juga melalui peristiwa-peristiwa hidup yang konkret: kegagalan dan keberhasilan, luka dan pengharapan baru yang kerap harus dikais dalam ketidakpastian hidup . 

Maka tidak heran jika Rasul Paulus menyebut kebijaksanaan Allah sebagai “hikmat yang tersembunyi”, yang telah disediakan Allah sebelum dunia dijadikan (1Kor. 2:7). 

Kebijaksanaan Allah yang tersembunyi itu menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus. 

Namun melalui hidup-Nya yang sederhana dan wafat-Nya di salib, Yesus menyingkap logika terbalik dari kebijaksanaan Allah. 

Kebijaksanaan Allah seringkali berlawanan dengan logika dunia. Hikmat Allah tidak selalu tampil dalam kemenangan, kekuasaan, atau kecerdikan yang mengagumkan. 

Ia justru hadir dalam kesetiaan yang sunyi, kejujuran yang tidak populer, bahkan dalam kesediaan untuk ditolak dan menderita. 

Kebijaksanaan ini lahir dari kerelaan untuk dicintai sepenuhnya oleh Allah. Karena itu, Yesus menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya dengan cara yang sungguh-sungguh radikal. 

Karena Ia menembus sampai ke sumbernya: sampai ke hati manusia. Karena memang ketaatan sejati pertama-tama bukan tentang apa yang tampak di luar, melainkan tentang kebenaran batin yang bekerja di dalam diri seseorang. 

Inilah pentingnya ajakan Yesus “Jika ya, katakanlah ya; jika tidak, katakanlah tidak” (Mat. 5:37). 

Ajakan sederhana ini memanggil kita untuk menghayati sebuah kejujuran hati. 

Tanpa kejujuran hati manusia akan kehilangan kepekaannya terhadap kebijaksanaan Allah.

Di zaman ini budaya pencitraan yang diproduksi oleh dunia digital telah mendorong manusia lebih mengutamakan kesan dan tampilan ketimbang kebenaran. 

Maka ajakan Tuhan hari ini menjadi sebuah kritik. Karena kejujuran hati menuntut keberanian: mengakui dan menerima kelemahan, berani berkata “tidak” ketika memang tidak sanggup, dan berani berkata “ya” dengan penuh tanggung jawab. 

Bersikap seperti ini berarti berani berdiri seperti anak kecil di hadapan Allah tanpa perlu menyembunyikan kegelisahan, kemarahan, atau keraguan. 

Kejujuran hati adalah pintu bagi kebijaksanaan Allah yang akan terus membentuk hidup manusia agar dapat menjadi persembahan yang pantas bagi Allah. Amin. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.