SURYA.CO.ID, PONOROGO - Aksi pencurian yang menyasar lembaga pendidikan kembali terjadi di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur (Jatim). Kali ini, giliran SMKN 2 Ponorogo yang berlokasi di Jalan Ponorogo-Pacitan, Kelurahan Kepatihan, yang menjadi sasaran maling pada Sabtu (14/2/2026).
Tidak tanggung-tanggung, pelaku mengobrak-abrik lima lokasi sekaligus di dalam area sekolah. Wakil Kepala SMKN 2 Ponorogo bagian Sarana Prasarana, Ani Dwi Yulianto, membenarkan peristiwa tersebut.
“Total ada 5 lokasi disasar dengan cara merusak kunci gemboknya,” ungkap Ani saat ditemui SURYA.co.id di lokasi, Sabtu sore.
Kasus pembobolan ini pertama kali terkuak ketika penjaga malam sekolah menghubungi Ani pada Sabtu pagi. Informasi tersebut langsung ditindaklanjuti oleh pihak sekolah.
“Hal itu terkuak, pasca saya dihubungi oleh penjaga malam SMKN 2 Ponorogo pada Sabtu (14/2/2026) pagi pukul 06.02 WIB. Pasca dihubungi saya ke sekolah bersama guru lain,” jelas Ani.
Setibanya di lokasi, Ani bersama rekan guru lainnya langsung melakukan pengecekan menyeluruh terhadap ruangan-ruangan di sekolah favorit tersebut.
“Saya menghubungi teman-teman sesama rekan guru untuk cek ke sekolah. Beberapa ruangan ada pintu terbuka. Ada cacat dibagian pintu. Ada 5 lokasi,” urainya.
Berdasarkan hasil pengecekan, pelaku berhasil menggasak uang tunai dari beberapa ruangan penting, yakni ruang Unit Layanan Pariwisata (ULP), ruang kepala sekolah, dan ruang perhotelan. Di ruang ULP, uang hasil usaha sekolah lenyap digondol pelaku.
“Di ULP itu hilang uang cash Rp 900 ribu. Itu uang penjualan unit produksi,” tutur Ani.
Sementara itu, di ruang kepala sekolah, pelaku tidak hanya mengambil uang tetapi juga perangkat elektronik. Meskipun uang inventaris kepala sekolah aman, uang pribadi milik staf hilang.
“Untuk di lokasi kepala sekolah tidak ada kehilangan. Namun bagian lain uang pribadi milik karyawan sebesar Rp 29 juta. Kalau di ruang kepala sekolah itu ada 2 hardisk yang ikut dibawa maling,” papar Ani.
Kerugian terbesar terjadi di ruang perhotelan. Pelaku berhasil mengambil uang tunai di dalam brankas serta dua buah dompet. Posisi brankas yang semula berada di laci, ditemukan telah berpindah tempat.
“Maling mengambil dan membawa ke utara sekolah. Habis itu dibuka, brankasnya dan dompet dibiarkan begitu saja,” tambahnya.
Pantauan di lokasi kejadian, brankas tersebut ditemukan di ruang belakang dalam kondisi rusak dan terbuka. Uang senilai Rp 30 juta di dalamnya ludes, begitu pula isi dari dua dompet yang ditemukan di dekatnya.
Mendapat laporan tersebut, jajaran Polres Ponorogo langsung bergerak cepat. Pamapta Polres Ponorogo, Polsek Ponorogo Kota, dan Satreskrim Polres Ponorogo segera mendatangi lokasi untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Kapolsek Ponorogo, AKP Catur Juli Hernawan, menegaskan bahwa pihaknya tengah mendalami kasus ini.
“Kami sudah melakukan olah TKP. Juga mengambil beberapa cctv untuk dilakukan pendalaman lebih lanjut. Total kerugian Rp 66 juta,” pungkasnya.
Kasus pembobolan sekolah di Ponorogo ini menambah daftar panjang aksi kriminalitas yang menyasar institusi pendidikan di wilayah tersebut.
Berdasarkan catatan, sekolah sering menjadi target empuk para pelaku pencurian, terutama di akhir pekan atau hari libur ketika pengawasan minim.
Hanya berselang tiga hari sebelumnya, tepatnya Rabu (11/2/2026), kasus serupa juga menimpa SMK Al Inabah Ponorogo di Kecamatan Babadan.
Dalam kejadian tersebut, pelaku bahkan merusak fasilitas sekolah menggunakan senjata tajam jenis katana dan mencuri kamera sekolah.
Rentetan kejadian ini, mengindikasikan adanya tren pencurian yang secara spesifik menargetkan sekolah-sekolah di Bumi Reog dalam sepekan terakhir.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, berikut beberapa langkah pengamanan yang dapat diterapkan oleh pihak sekolah: