Fenomena Lubang Raksasa di Aceh Tengah
mufti February 15, 2026 10:17 AM

Tanah di Ketol, Aceh Tengah, terus bergerak, menelan kebun warga dan memutus jalan utama. Lubang raksasa yang kini menjelma menjadi ngarai itu bukan muncul tiba-tiba, tetapi tumbuh perlahan selama puluhan tahun, yang kemudian dipercepat oleh banjir bandang 2025. Para ahli menyebutnya erosi bawah tanah yang berpotensi membajak aliran sungai. Warga kini hidup dalam kecemasan, menunggu longsor berikutnya.

AWALNYA hanya lubang kecil di pinggir kebun warga. Tak ada yang menyangka, retakan tanah itu kelak berubah menjadi ngarai raksasa seluas lebih dari tiga hektare, dengan kedalaman mencapai sekitar 50 meter. Kini, Kampung Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, hidup dalam bayang-bayang longsor yang bisa terjadi kapan saja.

Fenomena yang belakangan viral di media sosial ini bukan peristiwa mendadak. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Aceh Tengah mencatat pergerakan tanah sudah terdeteksi sejak awal 2000-an. Pada 2004, lubang mulai melebar secara perlahan. Dua tahun kemudian, longsor besar memutus jalan penghubung Aceh Tengah-Bener Meriah.

Pemerintah kala itu membangun jalur alternatif. Namun alam rupanya belum selesai bekerja. Pada 2013–2014, kondisi tanah yang makin labil memaksa warga Kampung Bas Rempah direlokasi ke Serempah Baru. Luasan lubang terus bertambah. Tahun 2021 tercatat mencapai sekitar 20 ribu meter persegi, lalu melonjak menjadi 28 ribu meter persegi hanya dalam setahun.

Puncaknya terjadi setelah banjir bandang dan longsor besar melanda Aceh Tengah pada 26 November 2025. Debit air yang luar biasa mempercepat proses penggerusan tanah. Pertengahan Januari 2026, video kondisi lokasi beredar luas. Saat itu lubang belum menyentuh badan jalan. Tapi hanya dalam hitungan minggu, longsor kembali memutus akses utama. Kerusakan jalan mencapai 40-50 meter.

Kini, lahan perkebunan warga di sekitar lokasi nyaris lenyap. Tak ada lagi aktivitas pertanian yang diizinkan. Pemerintah menetapkan kawasan tersebut sebagai zona merah dan menutup akses sepenuhnya. Petugas berjaga untuk mencegah warga mendekat, baik karena penasaran maupun demi konten media sosial. Bagi warga, ini bukan sekadar bencana geologi. Ini adalah kehilangan ruang hidup.

Bukan Sinkhole

Dosen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, Salahuddin Husein, menyebut lubang raksasa ini bukan sinkhole. “Dampak yang terkena adalah infrastruktur jalan dan ladang warga,” sebut Salahuddin Husein.

Ia menjelaskan fenomena tersebut merupakan piping erosion. “Piping erosion atau erosi air bawah tanah yang membentuk saluran serupa pipa, lazimnya terjadi di dasar bendungan atau tanggul sungai,” ujarnya.

Menurutnya, lembah raksasa di Ketol dapat disebut sebagai ngarai. Ia menambahkan, Ngarai Ketol berkembang pada batuan piroklastika muda. “Ngarai Ketol merupakan hasil erosi Sungai Lampahan terhadap piroklastika Gunung Geureudong yang terletak di sebelah timur lautnya,” jelasnya.

Perpanjangan ngarai terjadi akibat erosi ke arah hulu. “Akibat kekuatan erosi sungai pada suatu ngarai, kerap erosi juga berkembang ke arah hulu, menyebabkan ngarai semakin memanjang ke arah lereng atas,” tambah Salahuddin Husein.

Ia melanjutkabn, banjir bandang akhir November 2025 mempercepat proses tersebut. Hal ini terjadi karena anak Sungai Lampahan menerima debit yang sangat besar, menuruni lereng Gunung Geureudong dengan kecepatan dan volume yang luar biasa, sehingga mampu menciptakan erosi vertikal dan erosi menghulu di Kampung Pondok Balik tersebut, yang berujung munculnya sebuah ngarai raksasa.

Pembajakan Sungai

Menurut Salahuddin, ngarai ini berpotensi terus tumbuh hingga mencapai Sungai Baleg. Kondisi ini terjadi karena elevasi Sungai Lampahan dan Ngarai Ketol berada lebih rendah daripada Sungai Baleg, sehingga erosi menghulu Ngarai Ketol niscaya menuju ke lembah Sungai Baleg yang lebih tinggi (hulu). Jika tersambung, Sungai Baleg terancam kehilangan alirannya.

“Kelak Sungai Baleg ini dapat disebut sebagai sungai terpancung (beheaded stream) karena kehilangan aliran airnya. Apabila lembah Sungai Baleg menjadi lembah kering, maka akan disebut sebagai celah angin (wind gap),” tutur Salahuddin.

Fenomena ini dikenal sebagai pembajakan sungai. Di mana salah satu sungai akan mati karena alirannya berbelok, bergabung dengan sungai lain yang secara hidrologi lebih efisien dalam membawa air dan sedimen karena memiliki lereng aliran yang lebih besar.

Relokasi Jadi Pilihan

Saat ini, Kementerian Pekerjaan Umum bersama tim akademisi Universitas Syiah Kuala masih melakukan kajian teknis. Namun pengendalian fenomena alam ini bukan perkara mudah. “Pengendaliannya sebagaimana di Sungai Mississippi membutuhkan biaya yang sangat besar,” ucap Salahuddin.

Karena itu, Salahuddin menyebut tiga langkah paling realistis, yaitu membiarkan proses erosi berlangsung, menutup jalan Ketol-Pante Raya dan mengalihkan arus kendaraan, serta merelokasi rumah warga terdampak.

Ngarai itu ternyata belum berhenti tumbuh. Warga hanya bisa menunggu dengan cemas, sambil berharap rumah mereka tidak menjadi korban berikutnya.(kompas.com/**)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.