Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kota Bandung masih mengandalkan pasokan pangan dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan bagi masyarakat, terutama saat menjelang bulan suci Ramadhan.
Kendati demikian, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat saat menjelang bulan Ramadhan dalam kondisi terkendali, bahkan tercatat mengalami surplus.
Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar mengatakan, berdasarkan data pada tahun 2022, bahwa 96,6 persen kebutuhan pangan di Kota Bandung masih mengandalkan pasokan dari luar daerah.
"Pada 2025 angka tersebut menurun menjadi 94 persen. jadi ada penurunan sekitar 2,5 persen," ujar Gin Gin, Minggu (15/2/2026).
Baca juga: Puluhan Tunawisma di Kota Bandung Terjaring Razia, Mayoritas Berasal dari Luar Daerah
Dia mengatakan, penurunan tersebut dipicu akibat faktor aktivasi atau pengembangan berbagai program pertanian perkotaan, seperti program Buruan SAE dan inisiatif pertanian lainnya.
"Walaupun memang ketergantungan terhadap daerah lain masih sangat tinggi," katanya.
Selama ini untuk kebutuhan beras dipasok dari Cianjur, Indramayu, Subang, Garut, Tasikmalaya dan beberapa daerah di Jawa Tengah. Sedangkan untuk telur dipasok dari daerah Blitar.
Gin Gin mengatakan, program Buruan SAE yang digagas DKPP Kota Bandung bukan ditujukan untuk mengurangi ketergantungan kebutuhan pangan terhadap pasokan luar, tetapi untuk memperkuat ketahanan pangan pada skala keluarga.
"Buruan SAE hanya berfungsi sebagai pemicu, sekarang itu juga sudah mulai tumbuh inisiatif yang lebih fokus pada pertanian tertentu. Misalnya, yang mulai banyak diminati itu beternak ayam secara mandiri," ucap Gin Gin.
Baca juga: Long Weekend Imlek, Penumpang Whoosh Meningkat Hingga Tembus 25 Ribu Orang per hari
Menurutnya, minat terhadap peternakan ayam di Kota Bandung mulai meningkat akibat kebutuhan telur yang terus naik. Kemudian, kebutuhan terhadap daging ayam juga meningkat imbas adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Ketiga, pemanfaatan maggot dari pengolahan sampah sebagai pakan ternak ayam. Ini menjadi sinergi dengan program pengelolaan sampah di Kota Bandung, sehingga saat ini mulai banyak muncul peternak ayam dan peternak ikan mandiri," ucapnya.
Sementara untuk saat ini, pihaknya sedang menjajaki kerja sama dengan Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Cianjur, dan Garut untuk memperkuat distribusi dan pasokan pangan demi menjamin kebutuhan pangan Kota Bandung.
"Setiap daerah memiliki potensi yang berbeda, misalnya Cianjur punya potensi kelebihan beras atau sayuran tertentu. Potensi tersebut bisa dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan Kota Bandung dalam kondisi tertentu," ujar Gin Gin.
Di sisi lain, dia mengimbau masyarakat tak khawatir terhadap lonjakan permintaan terhadap kebutuhan pangan yang biasa terjadi menjelang dan selama bulan Ramadan karena ketersediaan pangan tetap terkendali.
"Ketersediaan relatif tidak ada kendala, bahkan kami sudah menghitung neraca pangan hingga dua bulan ke depan. Itu mencakup 12 komoditas pangan strategis seperti beras, berbagai jenis daging, telur, hingga minyak goreng," katanya.
Menurutnya, secara angka dalam kondisi surplus, bahkan untuk beras stoknya mencukupi hingga 72 hari ke depan, termasuk melewati Ramadan dan Idulfitri. Sehingga, dari sisi ketersediaan, masyarakat diminta tidak perlu khawatir. (*)