TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - YA dan APM sempat membuat alibi dalam pembunuhan terhadap ZAAQ, siswa SMP Negeri 26 Kota Bandung yang mayatnya ditemukan tergeletak di area eks objek wisata Kampung Gajah, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Untuk mengecoh keluarga dan publik atas aksi kejinya, salah satu pelaku membuat narasi penculikan melalui ponsel korban.
"HP korban ini digunakan oleh pelaku untuk memunculkan alibi seolah-olah korban itu masih hidup dengan dia meng-chat ke beberapa rekannya bahwa, disebutkan saya diculik," kata Kapolres Cimahi, AKBP Niko N Adi Putra, Minggu (15/2/2026).
Niko mengungkapkan, YA menghabisi nyawa ZAAQ pada Senin (9/2/2026).
YA kemudian mengambil barang milik korban berupa jaket dan ponsel.
"Saat ditusukkan 8 kali di bagian perut korban, kemudian HP korban terjatuh jaketnya juga ada di sana, jaket dan HP diambil, korban kemudian ditinggalkan," ungkapnya.
Baca juga: Sadisnya Pembunuhan Siswa SMPN 26 Bandung di Kampung Gajah dan Aksi Dingin Para Pelaku
YA dan APM sempat dimintai keterangan oleh keluarga dan pihak RT di Garut terkait keberadaan korban sehari setelah pembunuhan.
Permintaan keterangan terhadap YA dan APM ini karena pihak keluarga telah mengetahui adanya hubungan dekat antara korban dan para pelaku.
Apalagi, setelah korban pindah dari Garut ke Kota Bandung, korban dan pelaku masih kerap bertemu.
"Besoknya dikumpulkan oleh Pak RT, ditanyakan pernah melihat korban tidak, dan pelaku mengaku tidak pernah melihat, dan di situ sudah muncul alibi alibi bohong," ujar Niko.
Usai dimintai keterangan oleh RT, YA kemudian mencoba mengalihkan perhatian dengan mengirim pesan singkat ke sejumlah teman korban melalui ponsel yang diambil saat melakukan pembunuhan.
Usai mengirim narasi penculikan, YA kemudian merusak ponsel korban untuk menghilangkan jejak.
"Jadi pelaku ingin memunculkan sosok korban yang seolah-olah masih hidup, dia yang melakukan semuanya, ngechat saya diculik, dia semuanya," tandasnya. (*)