Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Suara emas menggema di Auditorium Santa Angela, Kota Bandung, dalam helatan Saint Angela Internasional Choir Festival 2026 pada 9-14 Februari 2026.
Anak-anak berdiri berbaris mengenakan pakaian senada, menarik napas panjang menunggu aba-aba dirigen.
Mereka memulai lagu dengan nada yang sempat terdengar hati-hati sebelum akhirnya stabil dan menyatu.
Di bangku belakang, orang tua menatap bangga. Anak-anaknya berhasil unjuk gigi di ajang kompetensi Internasional.
Ketua Yayasan Ursulin Santa Angela, Sr. Korina Ngoe, OSU, menyaksikan langsung penampilan demi penampilan di Saint Angela International Choir Festival 2026.
Baginya, yang terlihat di atas panggung adalah hasil dari persiapan yang sungguh-sungguh.
“Mereka luar biasa. Dari sesi pertama sampai sesi kedua, tampil maksimal,” ujarnya, saat ditemui Tribunjabar.id, Kamis (12/2/2026).
Ia melihat potensi besar dalam diri anak-anak yang tampil.
Menurutnya, dukungan dari rumah menjadi kunci.
“Kalau suara-suara bagus ini didukung orang tua dan guru, hasilnya bisa sangat maksimal,” katanya.
Festival ini bukan kali pertama digelar. Sudah empat kali Santa Angela menjadi tuan rumah.
Setelah sempat terhenti karena pandemi, ajang ini kembali berjalan dan menunjukkan geliatnya.
Meski bukan agenda tahunan, Sr. Korina memastikan festival serupa akan tetap diadakan pada momen-momen tertentu, sejalan dengan pengembangan Saint Angela Choir yang sudah beberapa kali tampil di panggung internasional.
Ia berpesan kepada para peserta, baik yang nantinya meraih juara maupun yang belum untuk bersyukur atas kerja keras yang telah dilakukan.
“Tidak mungkin semua jadi juara satu, dua, tiga. Tapi mereka sudah menampilkan yang terbaik. Tetap semangat, masih banyak kesempatan,” tuturnya.
Festival Director Saint Angela Internasional Choir Festival 2026, Nicolas Rio menjelaskan, kompetisi tahun ini terbagi dalam beberapa kategori.
Rio merinci untuk paduan suara anak diantaranya: children choir I (di bawah 13 tahun) dan children choir II (di bawah 16 tahun).
Sementara solo vokal mencakup kategori remaja hingga dewasa muda.
"Total ada 28 kelompok choir, 44 peserta solo, serta 16 peserta komposisi. Untuk kategori komposisi, peserta datang dari berbagai negara seperti Polandia, Spanyol, Selandia Baru, Venezuela, hingga Korea Selatan."
Secara keseluruhan, sekitar 11 negara terlibat dalam festival ini.
Prosesnya pun tidak instan. Semua peserta wajib mengirim rekaman terlebih dahulu untuk diseleksi sebelum dinyatakan lolos tampil di Bandung.
Ajang Internasional yang kembali dihelat ini bertajuk Bringing Hearts Together Through Sound.
Tema tersebut selaras dengan kondisi geopolitik saat ini. Dipenuhi konflik dan perpecahan, ia meyakini musik bisa menjadi jalan untuk menyentuh hati manusia.
Festival ini, menurutnya, bukan sekadar kompetisi, tetapi ruang edukasi. Sebelum lomba dimulai, digelar pula workshop conducting selama beberapa hari bersama juri internasional, serta atelier session latihan gabungan perwakilan peserta dengan juri.
Yang menarik, ekosistem di balik Saint Angela Choir tidak berdiri sendiri. Anak-anak, sekolah, pelatih, dan orang tua berjalan bersama. Dalam setiap keberangkatan ke luar negeri Tokyo pada 2023, Italia pada 2024, hingga konser tur di Taipei pada 2025 peran orang tua sangat terasa.
Bagi Juri Internasional Choir Group, Maria Theresa Vizconde, pemandangan anak-anak bernyanyi bersama selalu menghadirkan haru tersendiri. Mereka bukan hanya mewakili sekolah, melainkan juga komunitasnya.
Di dalam paduan suara, kata dia, anak-anak belajar lebih dari sekadar teknik vokal. Mereka belajar disiplin, kerja sama, dan menikmati proses tampil bersama di atas panggung.
“Lewat lagu-lagu itu, mereka menyebarkan kabar baik dan damai,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Juri Internasional Choir Group, Darius Lim. Menurutnya, penampilan paduan suara yang kuat bukan semata soal kemerduan. Yang membuatnya meyakinkan adalah ketika kelompok mampu mengartikulasikan pesan dan esensi musik lewat setiap detail penampilan.
Ia mengaku terkesan melihat begitu banyak kelompok yang tampil dengan sepenuh hati
“Ketika mereka bernyanyi dengan seluruh jiwa, itu benar-benar menginspirasi,” katanyam
Sementara itu, Juri Internasional Choir Group Roni Sugiarto menjelaskan, penilaian dilakukan melalui lima aspek utama: intonasi, sense of rhythm, kualitas vokal, gaya atau interpretasi, serta artistik keseluruhan yang mencakup teknikal dan ekspresi.
Ia menilai, para peserta datang dengan persiapan matang. Berbulan-bulan latihan terbayar ketika mereka mampu menyampaikan pesan lagu dengan penuh cinta.
“Festival ini bukan hanya lomba, tapi ruang berbagi dan berproses. Di sini kita terkoneksi lewat musik,” ujarnya.
Ia juga menyebut, salah satu tujuan festival adalah memperkenalkan Santa Angela dari Bandung kepada khalayak lebih luas.
Roni mengatakan, suara-suara yang tampil sesuai ekspektasi dirinya dan dewan juri.
Juri Internasional Choir Group lainnya, Josu Elberdin, mengatakan setiap kelompok memulai dari satu titik kemampuan, lalu meningkat sedikit demi sedikit hingga hari penampilan.
“Kompetisi ini penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mereka terus berkembang setelahnya,” ujarnya.
Ia berharap, semangat memperbaiki diri itu tak berhenti ketika lampu panggung padam.
Juri Internasional Choir Group Stojan Kuret mengingatkan bahwa pelajaran pertama dalam musik paduan suara adalah saling mendengarkan.
Tanpa itu, harmoni tak akan tercipta.
“Di dalam paduan suara, ego harus hilang. Kita tidak membutuhkan penyanyi solo, kita membutuhkan kelompok,” katanya.
Ia menambahkan, tanggung jawab besar para konduktor dan orang dewasa dalam membimbing anak-anak.
Bagi dia, anak-anak ibarat kertas putih dimana arah perkembangan mereka sangat ditentukan oleh bimbingan yang diberikan. (*)