TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Harga emas berpotensi mengalami lonjakan seiring kondisi geopolitik dan perekonomian global yang masih panas.
Pengamat Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, faktor yang memicu kenaikan harga emas yaitu sentimen geopolitik di Timur Tengah, kondisi perpolitikan di Amerika Serikat (AS).
Kemudian, kebijakan bank sentral AS, serta masalah supply dan demand logam mulia.
Baca juga: Benarkah Emas Fisik Langka? Ini yang Sebenarnya Terjadi
Menurutnya, pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Israel mengindikasikan potensi penyerangan Iran.
Hal ini yang kemungkinan akan membuat ketegangan tersendiri terhadap kondisi geopolitik di Timur Tengah.
“Ini akan berdampak terhadap kenaikan harga emas,” kata Ibrahim, Minggu (15/2/2026).
Ia menjelaskan, harga emas dunia pada Sabtu pagi ditutup di level 5.042 dolar AS per troi ons dan harga emas Antam di level Rp 2.954.000 per gram.
Jika harga emas dunia turun, Ibrahim memproyeksikan support atau batas bawah pertama harga emas dunia dalam sepekan ke depan di level 4.947 dolar AS per troi ons dan harga emas Antam di Rp 2.920.000 per gram.
Kemudian, jika harga emas dunia turun lagi, support kedua harga emas diperkirakan di 4.818 dolar AS per troi ons dan harga emas Antam di Rp 2.860.000 per gram.
“Seandainya harga emas dunia naik, resistance pertama diperkirakan di 5.134 dolar AS per troi ons dan harga emas Antam di Rp 3 juta per gram,” ucap Ibrahim.
Selanjutnya, jika harga emas dunia kembali naik, Ibrahim memproyeksikan resistance kedua di level 5.245 dolar AS per troi ons dan harga emas Antam di Rp 3.150.000 per gram.
Harga Emas Antam