TRIBUNBANYUMAS.COM, KENDAL - Untuk mencegal PHK massal karyawan, Vice Presiden HRGA, PT Asia Pacific Fibers Tbk (APF) Kaliwungu Kendal, Mettoni meminta pemerintah merealisasikan restrukturisasi.
Ia mengaku restrukturisasi itu sudah diajukan sejak 14 tahun silam, sejak 2012.
Namun hingga kini belum mendapat respons serius dari pemerintah.
"Terkait restrukturisasi, kami sudah mengajukan proposal beberapa kali sejak tahun 2012," kata Mettoni, Minggu (15/2/2026).
Mettoni menerangkan, pihaknya justru seolah mendapat intimidasi atas kehadiran petugas dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Jakarta yang melakukan kunjungan ke pabriknya beberapa waktu lalu.
Dia menyebut, rombongan petugas itu melanggar SOP dan tidak mematuhi peraturan tentang keselamatan di dalam perusahaan.
Baca juga: Pergerakan Tanah Jangli Meluas: 4 Rumah Roboh, 59 Warga Kampung Sekip Mengungsi di Musala
"Kami meminta restrukturisasi ke pemerintah agar pabrik ini tetap bisa beroperasi, bukan dengan cara tindakan sepihak dengan menggunakan KPKNL untuk melelang aset yg masih berproduksi,"
"Bahkan saat datang kali kedua tanggal 3 Februari kemarin, mereka juga membawa beberapa petugas kepolisian dari Polda Jateng dengan menakut-nakuti akan memasang police line. Dan mereka waktu datang juga arogan, dan merokok di area larangan merokok di dalam pabrik." paparnya.
Mettoni mengungkapkan, sejak berganti nama pada 2011 silam, pabrik yang memproduksi benang ini telah menjadi akar penghidupan bagi warga sekitar.
Namun gempuran produksi barang buatan China membuat produk benang di PT APF terkena imbasnya.
Pasang surut pemasaran mulai kerap terjadi, buntutnya pihak manajemen terpaksa merumahkan lebih dari separuh karyawannya.
"Saat ini karyawan di perusahaan kami tinggal 850, padahal awalnya itu bisa sampai 2600," tuturnya.
Dia mengatakan, sudah 20 tahun lebih pihaknya mengajukan restrukturisasi ke pemerintah pusat namun sampai hari ini belum direalisasikan.
"Kami minta restrukturisasi, silakan kalau Pemerintah ikut menjadi pemilik saham, yang penting karyawan masih tetap bisa bekerja," imbuhnya.
Mettoni menambahkan, rata-rata karyawan di perusahaannya telah bekerja di atas 35 tahun. Sehingga pihaknya akan berpikir ulang jika harus melakukan lay off ke karyawan.
Baca juga: Parkiran Curug Sikarim Wonosobo Longsor, 5 Motor Wisatawan Terseret, 3 Masih Dicari
"Kasihan kalau mereka nanti di cut off. Mereka sudah bekerja di sini sangat lama," ujarnya.
Sekretaris CSR PT APF Kaliwungu, Nur Kholis mengatakan pihaknya rutin menggelar CSR rutin kepada warga. Pihaknya juga pernah diganjar penghargaan pajak dari Pemkab Kendal.
Dari sederet peran dan prestasi itu, dia berharap pemerintah mengabulkan permohonan restrukturisasi.
"CSR kami rutin, dan alhamdulillah dari warga sangat terbantu sekali dengan kehadiran perusahaan kami di tengah masyarakat, mereka menyambut baik," tuturnya.
Saat ini, capaian produksi benang di PT APF Kaliwungu hanya berjalan sekitar 30 persen dari kapasitas terpasang, yakni di operasional 3 unit spaning part, unit teksturising 2 dan 4.
Dalam 3 tahun terakhir ini pula tingkat produksi di PT APF Kaliwungu masih terus mengalami penurunan, lantaran kondisi pasar belum sepenuhnya pulih. (ags)