TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Suasana Lomba “Nau Noan” (mendongeng dalam bahasa Sikka Krowe) yang digelar Pusat Bahasa Universitas Nusa Nipa (UNIPA) Maumere semakin semarak dengan penampilan Kelompok Musik Kampung yang mengisi acara pembuka dan selingan kegiatan.
Ajang pelestarian bahasa daerah ini kembali menegaskan komitmen dunia pendidikan dalam menjaga eksistensi bahasa Sikka di tengah arus modernisasi. Dalam kompetisi tersebut, SMAK Frateran Maumere berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih juara II dan juara III.
Kepala Pusat Bahasa UNIPA, Maria Kartini, S.Pd., M.Hum mengatakan, kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah untuk menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap bahasa ibu mereka.
Baca juga: Pesona Sanggar Nilo Watubuan Liangawo di Sikka, Titik Rehat Pesepeda Nusantara Green
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membangkitkan kesadaran generasi muda agar tetap mencintai dan menggunakan bahasa Sikka dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Bahasa daerah sebagai warisan budaya dan identitas masyarakat kini menghadapi tantangan serius. Penggunaan bahasa ibu, termasuk bahasa Sikka, semakin terpinggirkan di kalangan generasi muda akibat pengaruh teknologi dan budaya populer.
Karena itu, lomba seni bertutur “Nau Noan” dihadirkan sebagai ruang kreatif bagi pelajar untuk mengekspresikan diri menggunakan bahasa daerah. Para peserta membawakan cerita rakyat Sikka Krowe dengan gaya bertutur yang menarik, penuh ekspresi, dan sarat nilai budaya.
Selain melahirkan pendongeng-pendongeng muda berbakat, kegiatan ini juga menghasilkan buku kumpulan dongeng bahasa Sikka yang telah ber-ISBN. Buku tersebut menjadi dokumentasi penting bagi generasi sekarang dan mendatang, sekaligus bukti nyata komitmen UNIPA dalam menjaga bahasa dan budaya lokal.
Penampilan Kelompok Musik Kampung turut menambah semangat peserta dan penonton. Alunan musik tradisional yang dibawakan menjadi penguat pesan bahwa bahasa dan seni adalah dua unsur budaya yang saling melengkapi dan harus terus dirawat bersama.