Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Siapa yang tak tahu Sate Hadori? Sate kambing yang berdikari sejak 1940-an ini sudah lama menjadi bagian dari peta rasa Kota Bandung.
Namanya kerap disebut ketika orang bicara soal kuliner legendaris. Dari pelanggan setia, lintas generasi hingga sejumlah tokoh nasional, salah satunya mantan Presiden RI Jokowi Dodo, pernah singgah dan mencicipi tusuk demi tusuk yang dibakar di atas arang membara.
Awalnya sederhana. Berjualan dengan roda jongkok di belakang Pasar Baru, jauh sebelum nama Hadori sebesar sekarang. Dari lapak kecil itulah perantauan asal Garut ini yakni kakek Inung dan nenek Una mulai mengais rezeki.
Pelanggan berdatangan, kabar tentang sate yang empuk dan tak berbau menyebar dari mulut ke mulut.
Lapak pindah, tempat makin besar, dan perlahan menjadi rumah makan yang dikenal banyak orang.
Guna menjaga eksistensi, generasi ketiga mengembangkan usaha itu dengan manghadirkan tempat makan santai di Jalan Natuna No 27, Kota Bandung.
Generasi ketiga yang menjaga bara ini ialah; Vitta Sukmawatie, Anggi Natalya, Putty Permata Sari dan Agung Purnama.
Berbeda dengan Sate Hadori di cabang lain, salah satu menu yang hanya bisa dicicipi di sini santapan gulai kepala kambing.
Hidangan berkuah santan kental yang dimasak dengan aneka rempah ini menghasilkan cita rasa gurih.
Bagian kepala kambing yang telah dibersihkan dan direbus dimasak hingga empuk, lalu direndam dalam kuah berbumbu yang meresap sampai ke serat dagingnya.
Agung Purnama, Pengelola Sate Hadori Natuna, menyebut selain suasana semi-kafe yang lebih kasual, pihaknya menghadirkan beberapa menu tambahan.
"Ada nasi goreng kambing, sapi, dan ayam; sop kambing; sop iga sapi; tongseng; hingga gulai kepala kambing yang tak tersedia di pusat," ujarnya, kepada Tribunjabar.id, Minggu (15/2/2026).
Menu spesial kepala kambing dibanderol hingga Rp200 ribu, sementara pilihan lain dimulai dari Rp15 ribu untuk camilan dan Rp35 ribu untuk nasi goreng.
Pada momentum ini, pihaknya menghadirkan paket berdua dibanderol Rp99 ribu dan paket berlima Rp599 ribu.
Menurut Putty Permata Sari, Pengelola Sate Hadori Natuna, geliat tempat makan tak hanya terjebak dalam suasana restauran.
Terlebih, kata dia, kawula muda lebih nyaman bertandang ke kafe untuk sekedar nongkrong.
Melihat pola perubahan tersebut, pihaknya menghadirkan konsep semi kafe di Sate Hadori Natuna.
Di sini, terdapat dua lantai semi outdoor yang bisa menjadi pilihan para pengunjung. Di lantai pertama, berkonsep dapur terbuka.
"Kalau di pusat itu konsepnya rumah makan. Di Natuna kita bikin lebih nyaman, bisa buat nongkrong juga. Parkirnya lebih luas, suasananya lebih santai,” kata dia.
Pengelola Sate Hadori di Jalan Natuna, Anggi Natalya, menambahkan, pihaknya tak hanya mengandalkan cita rasa, tetapi juga menghadirkan pengalaman bersantap yang sesuai tren anak muda.
Menurutnya, pengunjung kini mencari sensasi nongkrong yang nyaman dan estetik, sehingga konsep tempat dan suasana terus disesuaikan tanpa meninggalkan karakter kuliner yang sudah melekat.
Lokasinya dikelilingi kafe dan tempat makan modern. Alih-alih merasa tersaingi, mereka justru melihatnya sebagai peluang. Orang yang awalnya datang untuk ngopi, bisa saja melirik rumah makan baru di seberang jalan.
Meski hadir di tempat yang kontras dari sebelumnya, cita rasa tetap dijaga mantap.
“Yang diajarin dulu sama kakek, tetap kita pertahankan. Dari cara motong kambing, cara ngebakar, sampai bikin gulai. Dan tentu ada bumbu rahasia,” ujar Vitta Sukmawatie, pengelola lainnya.
Dalam sehari, ribuan tusuk sate dibakar. Daging dipilih segar, dipotong dengan teknik yang mereka yakini memengaruhi tekstur.
"Hasilnya, menurut banyak ulasan pelanggan, sate terasa empuk dan minim aroma prengus," ucapnya.
Tak sedikit yang awalnya enggan menyentuh kambing, lalu berubah jadi penikmat setia.
Selain gulai kepala kambing, menu andalan yang kerap diburu adalah sate sinderet.
Bagian ini terbatas dari satu ekor kambing hanya sekitar 15–20 tusuk.
Bagi generasi ketiga, tantangan terbesar bukan membuka ekspansi, melainkan mempertahankan ciri khas.
“Warisan dari kakek harus tetap ada. Pelanggan kita juga turun-temurun. Dulu yang makan kakek-neneknya, sekarang cucunya," imbuhnya.
Bagi Anda yang tertarik mencicipi, jam operasional Sate Hadori di Jalan Natuna buka pukul 10.00 hingga 22.00 WIB.