TRIBUNNEWSDEPOK-Epstein File tidak habis-habisnya membuat geger publik dunia usai dibuka oleh FBI Amerika Serikat ke publik.
File tersebut memuat sejumlah konspirasi dunia yang mulai terkuak pecahan puzzlenya.
Epstein File diambil dari terdakwa pelecehan seksual terhadap ratusan anak Jeffrey Epstein.
Epstein juga merupakan konglomerat dunia asal Amerika Serikat (AS) yang memiliki hubungan erat dengan tokoh dunia salah satunya Donald Trump.
Usai tewas di dalam sel tahanan sebelum dijatuhi vonis, parlemen AS mendorong agar file Epstein yang jumlahnya 3 juta dokumen dan 3000 video dibongkar ke publik.
Satu persatu file tersebut bisa diteliti oleh masyarakat di penjuru dunia dengan mencari nama yang terkait.
Salah satu nama yang terdapat dalam Epstein File yakni nama Paus Fransiskus.
Diketahui Paus Fransiskus adalah pemimpin umat Katolik ke-266 dan Kepala Negara Kota Vatikan sejak 13 Maret 2013 sampai kematiannya pada tahun 2025.
Selama memimpin Katolik, Paus Fransiskus banyak melakukan dobrakan khususnya dalam mendukung Kemerdekaan Palestina.
Ternyata dobrakan gereja itu membuat Epstein yang dicurigai sebagai mata-mata dari Israel yakni Tim Mosad resah.
Dalam file miliknya, Epstein ketahuan hendak menggulingkan Paus Fransiskus dari jabatannya.
Hal itu terungkap dari percakapan Epstein dengan Mantan penasihat Gedung Putih Steve Bannon.
Mereka membahas strategi oposisi terhadap Paus Fransiskus.
Pesan-pesan yang dipertukarkan antara mereka pada tahun 2019, yang dipublikasikan sebagai bagian dari rilis dokumen yang luas bulan lalu, menunjukkan bahwa Bannon telah mencari dukungan Epstein dalam upaya untuk melemahkan Paus Fransiskus setelah kepergiannya dari pemerintahan pertama Donald Trump.
Baca juga: Super Air Jet Buka Suara Perihal Delay 5 Jam Hingga Tinggal Penumpang
Dalam salah satu pesan bulan Juni 2019, Bannon menulis bahwa Donald Trump akan menggulingkan Paus Fransiskus.
"Kita akan menggulingkan (Paus) Fransiskus. Clinton, Xi, Fransiskus, Uni Eropa - ayo saudaraku."
Dimuat situs Voxnews Albania, Bannon telah lama menjadi kritikus keras terhadap mendiang Paus, yang dianggapnya sebagai penghalang bagi visi "kedaulatan" - suatu bentuk nasionalisme populis yang mendapatkan dukungan di Eropa selama tahun 2018-2019.
Dalam sebuah wawancara dengan media Inggris pada tahun 2018, ia menggambarkan Paus sebagai sosok yang "dihina", menuduhnya bersekutu dengan "elit globalis".
Dokumen Departemen Kehakiman juga menunjukkan bahwa Epstein telah membantu Bannon dalam upaya membangun gerakan politik berbasis internasional.
Roma dan Vatikan telah menjadi pusat penting bagi aktivitas Bannon: saat menjalankan Breitbart News, ia membuka kantor di Roma dan terlibat dalam upaya untuk menciptakan akademi pelatihan politik di dekat ibu kota Italia, dengan tujuan membela nilai-nilai Yudaisme-Kristen.
Di masa lalu, Bannon telah mendesak tokoh-tokoh sayap kanan Eropa, termasuk Wakil Perdana Menteri Italia saat ini, Matteo Salvini, untuk memperkeras sikap mereka terhadap Paus, sementara Salvini sering menggunakan simbolisme dan retorika Kristen dalam mempromosikan agenda anti-imigrasinya.