Keseruan Gebyuran Bustaman Sambut Ramadan di Semarang, Filosofi Membersihkan Dosa
rival al manaf February 15, 2026 09:54 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tradisi tahunan Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah, Semarang digelar meriah, Minggu (15/12/2026) sore.

Puluhan anak hingga dewasa tampak dengan semarak mengikuti tradisi tersebut. Sejak sekira pukul 15.00 WIB, mereka sudah bersiap memulai acara.

Sebagian bermain gamelan dan Tari Kreasi Bustaman.

Sementara itu, panitia tampak membawa cat air warna-warni buatan untuk dicoretkan ke wajah warga yang datang.

Baca juga: Didukung Hibah Lahan Warga, Jalan Lingkar Sumbing Wonosobo Diproyeksikan Jadi Penggerak Ekonomi

Baca juga: Harga Emas Antam Bisa Tembus Rp 3 Juta Lagi Pekan Ini

Selain itu, ratusan bungkus air warna-warni siap digunakan warga untuk saling "menggebyur" satu sama lain.

Tak semua warga siap dengan tangan kosong. Ada pula yang mengenakan jas hujan, ada yang menutup kepala dengan ember, dan sebagainya.

Sekira pukul 16.30, tradisi gebyuran tersebut dimulai. Tradisi dimulai dengan gebyuran simbolis menggunakan kendi oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari kepada beberapa warga.

Baru setelahnya, gebyuran antar warga dilakukan. Ada yang saling melempar air yang telah dibungkus tersebut, ada pula yang langsung mengguyur air menggunakan ember.

Tampak coretan warna-warni di wajah para warga itu kemudian luruh bersama air yang turun. 

Satu di antara warga yang ikut serta, Siska (45) bersama dan anaknya, Ronggo (9), mengatakan baru pertama kali mengikuti tradisi ini.

Ia yang semula tinggal di Jogja dan kembali ke Semarang, mengaku merasakan suasana semarak dan penuh kegembiraan.

"Seru. Tadi kena dua kali, (air yang di bungkus plastik) besar dan kecil. Tahun depan ingin lagi," ungkap Ronggo didampingi ibunya.

Warga lain, Salim (27) mengaku sudah tiga kali mengikuti tradisi ini. Meski bukan warga Bustaman, ia mengaku senang turut merasakan semarak menyambut Ramadan di Kampung Bustaman.

"Ini kali ketiga saya ikut berturut-turut. Kesannya, saya sangat meriah," ucapnya semringah.

Salim mengaku sebelumnya sempat terkaget saat pertama kali mengikuti tradisi itu. Ia melihat wajah anak-anak hingga orang dewasa dicoret warna-warni.

Namun setelah bertanya lebih jauh ke panitia, ia mengaku takjub dengan filosofinya.

"Sebelumnya agak kaget kok dicoret. Ternyata coretan itu diibaratkan seperti dosa dan gebyuran memiliki makna membersihkan dosa. Saya semakin antusias mengikuti ini dan harapannya selalu ada pembeda tiap tahun agar terus semarak," ungkapnya.

Plt Lurah Purwodinatan, Bagas Yuwono Ario Negoro memaparkan, tradisi Gebyuran Bustaman dilakukan sebagai bentuk penyambutan bulan suci Ramadan. Tradisi ini, ungkapnya, menjadi simbol para warga yang membersihkan diri menjelang Ramadan.

"Ini dulu dari Kiai Bustaman memandikan cucu-cucunya sebelum Ramadan. Jadi, kebudayaan di Kampung Bustaman ini setiap mau puasa kita mengadakan Gebyuran Bustaman," terang Bagas.

Bagi warga Semarang, terutama Kampung Bustaman, air yang terciprat itu bukan air biasa. Di balik tawa dan teriakan warga yang saling mengguyur, tersimpan jejak sejarah kampung tua di jantung Kota Semarang.

Menurut Bagas, tradisi ini berakar dari kisah Kiai Bustaman, leluhur kampung setempat. Dahulu, sang kiai memandikan cucu-cucunya menjelang Ramadan sebagai simbol penyucian diri. Tradisi sederhana itu kemudian berkembang menjadi kegiatan komunal yang melibatkan seluruh warga.

"Filosofinya, kita harus membersihkan diri dari dosa-dosa kita sebelum puasa," ucapnya.

Coretan warna-warni yang menghiasi wajah peserta juga bukan tanpa makna. Pewarna yang dicoretkan melambangkan noda atau dosa. Ketika air diguyurkan, warna-warna itu luntur, menyimbolkan harapan agar manusia kembali bersih menyambut bulan suci.

Sementara itu, dijelaskan, Gebyuran Bustaman ini sudah ke-14 kalinya digelar. Menurut Bagas, kegiatan yang digelar rutin tiap tahun menuju Ramadan itu mengalami pengembangan. Tahun ini, rangkaian kegiatan dibuat lebih semarak dengan menghadirkan pesta UMKM serta susur kampung yang menampilkan titik-titik usaha warga dan sejarah silsilah Bustaman.

Kegiatan tersebut dipandu Denok-Kenang, duta wisata Kota Semarang, yang turut memperkenalkan kekayaan budaya kampung kepada pengunjung. Selain itu, forum budaya dan pentas kesenian juga menjadi bagian dari rangkaian acara. (idy)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.