Kemudian, seekor sapi berhasil dievakuasi oleh petugas Damkar dari dalam sumur di kawasan Kelurahan Padang Sarai.
Kejadian ini dilaporkan ke Damkar Kota Padang. Petugas mengevakuasi seekor sapi tersebut menggunakan tripod rescue.
Selanjutnya update kehidupan penyintas banjir yang ada di kawasan Lambung Bukit, Padang, Minggu (15/2/2026).
Maini dan Siti Rohani hanya bisa tabah mengingat banjir yang menghanyutkan banyak rumah.
Kampung yang dulu semarak itu kini kehilangan denyutnya, sebagian penyintas berada di Hunian Sementara (Huntara).
1. Jelang Ramadan 2026, Peziarah Padati TPU Tunggul Hitam untuk Bersihkan Makam Keluarga
Jelang Ramadan 2026, masyarakat ramai berziarah ke makam keluarga di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Minggu (15/2/2026) pagi hingga siang.
TPU Tunggul Hitam berlokasi tepatnya di Jalan Kemayoran Tunggul Hitam, Air Tawar Timur, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat.
Kawasan TPU Tunggul Hitam berjarak sekitar 1,6 kilometer dari Grand Basko Hotel, yaitu melewati Jalan Prof Dr Hamka.
Diketahui bahwa bulan Ramadan tinggal menghitung hari, Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadhan 1447 H pada Rabu, 18 Februari 2026.
Baca juga: Ribuan Warga Hadiri Sarantau Sasurambi Balimau Season V, 3.000 Porsi Makanan UMKM Dibagikan Gratis
Sedangkan, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama bersama mayoritas organisasi Islam diperkirakan akan menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Wartawan TribunPadang.com, Muhammad Iqbal, menyaksikan pada pukul 11.09 WIB, kawasan TPU Tunggul Hitam sudah ramai didatangi masyarakat.
Bukan tanpa sebab, mereka datang untuk berziarah menjelang berpuasa di bulan Ramadan 2026 mendatang.
Masyarakat terlihat datang bersama keluarga, sendiri, berdua dan lain sebagainya.
Di depan makam keluarganya masing-masing, masyarakat terlihat mencabut rumput, mengelap batu nisan, menaburkan bunga hingga memanjatkan doa.
Baca juga: Jaga Kekhusyukan Ramadhan 2026, Petugas Gabungan di Dharmasraya Razia Minuman Beralkohol
Sementara arus lalu di Jalan Kemayoran Tunggul Hitam atau tepatnya di depan TPU Tunggul Hitam, terlihat cukup ramai.
Kemudian terdapat kendaraan dari masyarakat yang sedang ziarah kubur memadati badan jalan.
Salah satu masyarakat, Yuka, mengatakan ia datang bersama anggota keluarganya untuk berziarah ke makam nenek dan sang ayah.
Kata Yuka, menjelang Ramadan, kegiatan ziarah tersebut memang selalu rutin dilakukan.
Baca juga: DPRD Padang Minta Satpol PP dan Tokoh Masyarakat Jaga Kondusivitas Ramadan
Mulai dari membersihkan makam, menaburkan bunga, mengelap nisan, hingga mengirimkan doa.
"Saya datang bersama keluarga, total ada tujuh orang semuanya. Memang rutin setiap tahun begini," ungkapnya saat memberikan keterangan di lokasi.
Terlebih, ayah Yuka baru saja meninggal, bahkan hampir setiap hari jelang Ramadan ia mengunjunginya.
Sedangkan untuk nenek Yuka, sudah lama meninggal dan memang rutin berziarah jelang Ramadan di TPU Tunggul Hitam.
"Kebetulan ayah saya baru lima bulan meninggal, hampir setiap hari ziarah ke sini, ditambah juga mau puasa," tambahnya.
Baca juga: Wali Kota Padang Serahkan 50 Ton Beras Bantuan Dani Faizal untuk Warga Jelang Ramadan
Senada, masyarakat lainnya Rahmi menuturkan ia juga datang mengunjungi makam keluarganya di TPU Tunggul Hitam.
Jelang Ramadan, ia memang selalu datang untuk membersihkan makam keluarganya, menaburkan bunga hingga mendoakan mereka.
"Memang rutin, setiap tahun ke sini, karena jelang Ramadan kita berziarah dulu ke makam keluarga, dibersihkan dan didoakan," pungkasnya.
2. Damkar Evakuasi Seekor Sapi Masuk Sumur di Padang Sarai
Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang membantu evakuasi seekor sapi masuk ke dalam sumur, Minggu (15/2/2026).
Seekor sapi diketahui masuk ke dalam sumur yang ada di Jalan Teratai Rt 01/Rw 09, Kelurahan Padang Sarai, Kecamatan Koto Tangah, Padang.
Kepala Bidang Operasional Sarana dan Prasarana Dinas Pemadam Kebakaran Kota Padang, Rinaldi, menyebut laporan diterima oleh pihaknya pada pukul 10.00 WIB.
Kejadian ini dilaporkan oleh warga bernama Ernawati (61) seorang ibu rumah tangga (IRT).
Baca juga: Korban Kebakaran di Jati Adabiah Dapat Bantuan Sosial, Wawako Padang Minta Warga Selalu Waspada
"Seekor sapi masuk ke dalam sumur samping rumahnya dan tidak dapat dievakuasi, kemudian dilaporkan ke petugas Damkar Kota Padang," ujar Rinaldi.
Kemudian, sebanyak delapan orang petugas dikerahkan ke lokasi kejadian untuk membantu proses evakuasi, dan petugas sampai di lokasi pada pukul 10.25 WIB.
Diketahui bahwa petugas berhasil mengeluarkan sapi dengan selamat apda pukul 11.21 WIB.
Petugas mengeluarkan sapi tersebut menggunakan tripod rescue
Kemudian petugas mengikatkan tali ke sapi, dan ditarik keluar secara bersama-sama.
Baca juga: Bukan Cuma Jinakkan Api, Damkar Sijunjung Evakuasi 58 Ular dan 47 Sarang Tawon Sepanjang 2025
"Saat ini, sapi telah berhasil dikeluarkan dengan selamat. Proses evakuasi berjalan lancar," ujar Rinaldi.
Rinaldi menyebut bahwa petugas Damkar tidak hanya menerima laporan terkait kejadian kebakaran.
Namun, juga menindaklanjuti laporan darurat lainnya, seperti evakuasi hewan.
Cara Melapor ke Damkar Lewat WhatsApp
Melansir TribunPadang.com, Damkar Padang ternyata tidak hanya bertugas menjinakkan si jago merah, tetapi juga memiliki keahlian khusus dalam menangani berbagai kesulitan warga sehari-hari.
Kasi Pusdalops Damkar Padang, Sutopo, mengungkapkan bahwa personelnya rutin melakukan aksi penyelamatan tak terduga mulai dari urusan sepele hingga yang membahayakan nyawa.
Penyelamatan terhadap manusia dilakukan saat ada korban tenggelam, melepaskan cincin di tangan dan hal lainnya.
Sementara itu, Damkar juga mampu mengevakuasi ular, buaya hingga biawak yang membahayakan manusia.
Tak cuma itu, saat handphone hingga kunci warga masuk ke dalam air atau tersangkut di celah-celah batu, Sutopo menyebut instansinya dapat mengatasi hal itu.
Baca juga: Jadwal SIM dan Samsat Keliling di Kota Padang Minggu 15 Februari 2026, Digelar 3 Titik
"Banyak yang bisa dilakukan Damkar selain memadamkan api, seperti penyelamatan manusia dan hewan," ungkapnya, saat ditemui di kantornya, Selasa (20/1/2026).
Bahkan, permasalahan pintu rumah, kedai atau warung yang susah dibuka, Damkar juga dapat melakukannya.
Untuk itu, masyarakat dapat melaporkannya kepada Damkar, saat mendapatkan kesulitan.
Damkar Kota Padang juga menyediakan layanan via telepon, pesan dan panggilan whatsapp, hingga datang secara langsung ke kantor.
Cara pelaporan sendiri melalui telepon, dapat menghubungi nomor 075128558. Sedangkan melalui whatsapp, warga dapat melaporkan kejadian apa saja.
Baca juga: 6 Bangunan di Berok Siteba Padang Hangus Terbakar Usai Salat Jumat, Damkar Masih Pendinginan
Namun, harus menyertakan video, mengirim lokasi kejadian, hingga bantuan seperti apa yang dibutuhkan.
"Warga dapat melapor ke 08116606113, jika ada kebakaran, sertakan bukti di atas dan berapa unit mobil yang harus diterjunkan," pungkasnya.
Dengan adanya bukti video, Sutopo menyebut dapat membantu instansinya sebelum terjun ke lapangan.
Tak hanya itu, bukti video juga dapat meminimalisir laporan bohong.
3. Jejak Lumpur yang Memudar, Trauma yang Mengakar: Potret Muram Lambung Bukit Jelang Ramadan
Matahari Minggu (15/2/2026) merangkak naik di langit Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Namun, bagi Maini, cahaya itu tak lagi memantulkan harapan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Di tanah kelahirannya, keriuhan berganti senyap yang mencekam. Luka akibat banjir bandang akhir November 2025 lalu, belum benar-benar mengering.
Jejak lumpur mungkin sudah memudar, tetapi memori tentang air bah yang menerjang pemukiman mereka masih segar di ingatan, hingga menyayat hatinya.
Bagi Maini, air bukanlah kawan baru yang berkhianat. Ia masih mengingat betul getirnya banjir tahun 2012 silam. Namun, bencana yang menutup lembaran tahun lalu adalah puncaknya.
Baca juga: Kisah Asmanidar 35 Tahun Mengepul Sampah di TPA Aie Dingin Padang, Berhasil Kuliahkan Anak
Ia menyaksikan sendiri bagaimana rumah-rumah tetangganya hanyut terbawa arus layaknya perahu kertas yang tak berdaya.
"Rumah-rumah itu hanyut seperti perahu," kenang Maini dengan suara pelan, seolah takut suaranya akan memanggil kembali kenangan pahit itu.
Puluhan rumah rata dengan tanah, menyisakan puing dan rindu yang tak berkesudahan.
Salah satu kehilangan yang paling menyesakkan adalah runtuhnya Surau Jamiaturrahmah.
Bagi warga setempat, surau itu bukan sekadar bangunan semen dan batu.
Bangunan itu adalah pusat semesta kecil mereka tempat mereka bersujud, mengadu, dan merajut ukhuwah. Kini, rumah ibadah itu telah tiada.
Baca juga: Curhat Penyintas Banjir di Kapalo Koto Padang: Berharap Lebaran di Hunian Tetap Baru
Maini kini terpaksa menumpang di rumah anak yang luput dari amukan air. Meski atap masih melindunginya dari hujan, rasa asing tetap menjalar.
Ia merasa seperti pengungsi di tanah sendiri. Kesunyian kini menjadi kawan setianya sehari-hari.
Kampung yang dulu semarak itu kini kehilangan denyutnya. Orang-orang telah pergi.
Sebagian memilih pindah ke tempat yang dianggap lebih aman, sebagian lagi mengisi hari-hari di Hunian Sementara (Huntara).
Lambung Bukik seolah menjadi kampung mati saat senja mulai turun. Aktivitas warga kini hanya menyisakan rutinitas yang getir.
Mereka yang rumahnya masih berdiri akan datang pada pagi hari untuk membersihkan sisa debu dan lumpur, namun saat malam tiba, mereka kembali ke Huntara atau rumah kerabat.
Potret Muram Lambung Bukit Jelang Puasa
Tak ada lagi tawa di teras rumah saat petang menjelang. Kesunyian ini terasa kian menghujam jantung saat kalender menunjukkan Ramadan segera tiba.
Bagi umat Muslim, Ramadan adalah bulan kemenangan, namun bagi warga Batu Busuk, ini adalah masa ujian yang sangat berat.
Segalanya telah berubah, tak ada lagi suasana yang sama.
"Memasuki Ramadan ini memang mungkin cobaan bagi kami. Banyak hal berubah," ujar Maini lirih.
Baca juga: Rumah Hasil Tani Alizar Hilang Disapu Galodo Padang, Hanya Bisa Tertawa Meski Sesak Menahan Air Mata
Kebutuhan mendesak warga saat ini bukanlah sekadar bantuan pangan sesaat.
Mereka merindukan tempat tinggal yang aman, sebuah rumah permanen yang tidak jauh dari Batu Busuk tempat di mana mereka mengais rezeki dan menggantungkan hidup sebagai buruh maupun petani.
Tak jauh dari lokasi Maini, Siti Rohani juga merajut sisa-sisa ketabahan. Ia memilih mengungsi ke tempat yang lebih tinggi di atas bukit.
Rumah lamanya kini hanya tinggal kenangan, tak mungkin lagi dihuni karena risiko bencana yang selalu mengintai di bawah sana.
Siti merasakan betul bagaimana ekonomi warga lumpuh total. Sawah dan ladang yang menjadi tumpuan hidup tertimbun material banjir.
Baca juga: Kondisi Korban Banjir Padang, Nurhayati: Kami Kehilangan Tanah, Sawah, tapi Tak Boleh Hilang Arah
"Yaa, bagaimana lagi, itu kehendak Yang Kuasa. Kita hanya umat yang diuji, semestinya harus bersabar," ucap Siti dengan nada pasrah.
Sebuah kepasrahan yang lahir dari ketidakberdayaan, namun tetap menyimpan secercah iman.
Kesedihan Siti kian bertumpuk saat melihat tradisi balimau ritual mandi menyambut Ramadan terancam hilang.
Tempat pemandian yang biasanya riuh oleh canda warga kini sepi. Airnya mengecil dan keruh, tak layak lagi untuk menyucikan diri secara simbolis.
Wisatawan atau pengunjung dari luar tak lagi datang. Batu Busuk yang dulu asri kini tampak muram dengan infrastruktur yang compang-camping dan belum tersentuh perbaikan menyeluruh.
Ramadan kali ini juga memaksa warga untuk merantau dalam ibadah.
Tanpa Surau Jamiaturrahmah, mereka harus berjalan menuju masjid atau musala di kampung lain hanya untuk melaksanakan salat tarawih. Sebuah perjalanan spiritual yang penuh dengan beban ingatan.
"Kami terpaksa salat Tarawih ke masjid lain. Tentu suasananya berbeda, ingatan kami masih di surau yang dulu," tutur Siti.
Baca juga: Warga Guo Bangkit Usai Diterjang Galodo, Syafrizal Perbaiki Rumah Orang Tua Pakai Material Bekas
Ada kerinduan yang mendalam pada suara azan yang dulu menggema dari surau mereka sendiri.
Kini, warga Lambung Bukik hanya bisa menatap langit, berharap Ramadan kali ini membawa ketenangan di tengah puing-puing kehilangan.
Sebab bagi mereka, sabar bukan lagi sekadar kata, melainkan nafas untuk bertahan hidup di tengah sisa-sisa bencana.(*)