Aksi ini diduga dilakukan kepsek SD swasta berinisial TA di Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Senin (22/9/2025).
Karena peristiwa ini, wali murid pun melapor ke Polres Jakarta Utara.
Floortje, nenek salah satu siswa mengatakan kejadian bermula saat para siswa yang duduk di kelas 5 tidak membawa alat musik pianika usai ujian komputer.
“Nah anak yang lain memang pianika tidak dibawa pulang, tetap di sekolah,” ujar Floortje saat ditemui di Kelapa Gading, Jumat (13/2/2026).
Baca juga: Viral Terpopuler: Kucing Dapat Warisan Rp3,9 Triliun - THR PNS dan TNI Cair Awal Ramadan
Menurut dia, belasan anak yang tidak membawa alat pianika sempat dihukum berjemur di lapangan oleh salah seorang guru.
Tak lama kemudian, kepala sekolah meminta para murid tersebut naik ke lantai 2.
Di sana, anak-anak dimarahi dan ditampar.
"Pas naik di atas, dimaki-maki anaknya. Dibilang anak goblok, tolol, anak miskin cuma numpang. Digampar satu-satu. Ada yang berdarah,” katanya, melansir dari Kompas.com.
Ia mengaku baru mengetahui kejadian tersebut setelah menerima informasi dari orangtua lain dan melihat kondisi wajah cucunya.
Keesokan harinya, orangtua mendatangi sekolah dan kemudian melaporkan kejadian itu ke kepolisian.
Tahu dari Percakapan Grup Orangtua
Iin (bukan nama sebenarnya), orangtua siswa lainnya, mengatakan awalnya ia mengetahui peristiwa itu dari percakapan di grup orangtua.
Ia pun langsung mengonfirmasi kejadian itu kepada anaknya.
“Iya, dada saya sakit Mama,” kata Lina menirukan pernyataan anaknya.
Ia menyebut orangtua kemudian meminta klarifikasi kepada kepala sekolah dan meminta dibuatkan surat pernyataan.
Namun, menurutnya, kepala sekolah tidak mengakui kesalahan.
“Dia bilang, ‘Iya karena kalian nakal, berisik, suka lari-lari, tidak bisa diatur,’ gitu. Jadi dia tidak mengakui kesalahan kalau bilang maaf atau bagaimana ya kan,” ungkapnya.
Iin juga mengatakan, saat pertemuan dengan orangtua, jumlah siswa yang mengaku pernah mengalami kekerasan lebih dari 15 orang.
"Jadi mereka itu mengalami tapi mereka tidak berani. Sudah lama, tapi mereka tidak berani untuk jujur sama guru, sama orang tua," katanya.
Sementara itu, Kasat Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Utara Kompol Ni Luh Sri membenarkan adanya laporan yang masuk terkait kekerasan tersebut.
Ia mengatakan, saat ini penyidik dari pihak Polres sedang menindaklanjuti laporan tersebut dan akan meminta keterangan dari pihak sekolah.
"Sudah ditindaklanjuti, info penyidik hari ini memang sudah dijadwalkan untuk ke pihak sekolah," ujar Sri saat dikonfirmasi Kompas.com.
Tim redaksi sudah menghubungi pihak yayasan sekolah dan Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengenai kejadian tersebut, namun belum mendapatkan respons.
2. Duduk Perkara KKB Tembaki Pesawat Smart Air di Boven Digul, Terungkap Target Mereka yang Sebenarnya
Sebuah peristiwa memilukan terjadi di Boven Digul baru-baru ini.
Pesawat Smart Air menjadi sasaran penembakan.
Dilansir dari Tribunnews, telah terjadi insiden penembakan pesawat Smart Air di Bandara Koroway Batu, Boven Digoel, Papua Selatan, menewaskan pilot dan kopilot.
Hasil olah TKP pada Sabtu (14/2/2026) menunjukkan serangan dilakukan oleh sekitar 20 anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang telah menunggu di semak-semak belakang bandara.
Polisi menemukan 13 lubang peluru di badan pesawat, sementara motif aksi disebut sebagai upaya menciptakan teror.
Motif Penembakan Pesawat Smart Air di Boven Digoel
Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Humas Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol Yusuf Sutejo, mengungkapkan motif penembakan terhadap pesawat Smart Air di Bandara Koroway Batu, Boven Digoel.
Insiden yang menewaskan pilot dan kopilot itu diduga dilakukan oleh sekitar 20 anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB).
Dalam dialog di Kompas Petang, Sabtu (14/2/2026), Yusuf menjelaskan hasil olah TKP menunjukkan para pelaku sudah menunggu kedatangan pesawat dari arah belakang bandara, bersembunyi di semak-semak.
Polisi menemukan 13 lubang peluru di badan pesawat serta sejumlah selongsong di lokasi.
Menurut Yusuf, aksi penembakan bertujuan menciptakan teror.