TRIBUNSUMSEL.COM - Berikut ini akan disajikan selengkapnya contoh Puisi menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H/2026 yang berkesan dan penuh makna sebagai referensi ucapan terbaik.
___
Di ambang pintu waktu yang suci,
Hati bergetar menyambut fajar yang beda,
Bulan yang dijanjikan kini kembali,
Membawa aroma surga di sela udara.
Langkah kaki yang penuh debu dosa,
Mencoba bersimpuh di sajadah tua,
Mengingat khilaf yang tak terhingga,
Dalam sunyi malam yang penuh duka.
Selamat datang ya Syahrul Mubarak,
Engkau cahaya di tengah kegelapan,
Membersihkan jiwa dari noda yang kerak,
Memberi harapan di tengah keputusasaan.
Sembilan belas tahun atau baru kemarin,
Rasanya rindu ini tak pernah padam,
Ingin memeluk sunyi di balik batin,
Saat seluruh dunia mulai terdiam.
Bukan sekadar menahan haus dan lapar,
Tapi menahan lisan dari kata yang sia,
Agar iman tak lagi sekadar samar,
Kembali utuh dalam rida Sang Pencipta.
Di mesjid-mesjid lantunan mulai bergema,
Ayat suci mengetuk pintu sanubari,
Mengingatkan kita akan asal dan makna,
Bahwa dunia ini hanyalah mimpi sehari.
Kami bersiap dengan dada yang lapang,
Menyingkirkan benci dan rasa angkuh,
Agar damai menyapa saat petang,
Dan raga ini tak lagi merasa rapuh.
Terima kasih Tuhan atas kesempatan,
Masih Kau izinkan aku menghirup udara,
Di bulan penuh berkah dan ampunan,
Tempat hamba-Mu menghapus segala lara.
Mari melangkah dengan niat yang lurus,
Menjemput rahmat di setiap detik,
Biarkan ego dalam diri tergerus,
Menjadi pribadi yang jauh lebih baik.
Angin berhembus membawa kabar gembira,
Tentang bulan yang lebih baik dari seribu bulan,
Langit tampak lebih cerah dan bersahaja,
Menyambut tamu agung penuh kemuliaan.
Al-Qur'an turun sebagai petunjuk jalan,
Menerangi hati yang sedang tersesat,
Memberi jawaban atas segala keraguan,
Dan janji pahala bagi mereka yang taat.
Di setiap sujud yang panjang dan dalam,
Ada doa yang dipanjatkan dengan haru,
Memohon perlindungan di tengah malam,
Agar hidup dimulai dengan lembaran baru.
Ramadhan adalah madrasah bagi jiwa,
Tempat belajar tentang arti kesabaran,
Menahan diri dari segala hawa,
Dan fokus pada pengabdian yang tulus dan mapan.
Lihatlah anak-anak berlari dengan ceria,
Membawa obor menyambut bulan mulia,
Ada kehangatan yang tak bisa dieja,
Dalam setiap pertemuan dan tawa yang nyata.
Dapur-dapur mulai mengepulkan asap damai,
Hidangan sederhana terasa begitu nikmat,
Saat waktu berbuka mulai menghampiri,
Syukur mengalir di setiap tetes keringat.
Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja,
Tanpa ada perubahan dalam diri kita,
Karena Ramadhan bukan sekadar upacara,
Tapi transformasi menuju takwa yang nyata.
Kutitipkan doa di sela-sela tarawih,
Agar umat ini selalu dalam lindungan-Nya,
Dihapus segala dendam dan rasa perih,
Diganti dengan kasih sayang sesamanya.
Selamat datang bulan penuh cahaya,
Lentera bagi hati yang hampir redup,
Semoga berkah-Mu menetap selamanya,
Menjadi bekal dalam menjalani hidup.
Di sudut kamar yang mulai sunyi,
Kuhamparkan kain sujud yang lama menanti,
Menyambut bulan yang suci dan murni,
Tempat pengakuan dosa yang tak terperi.
Ramadan datang mengetuk pintu sepi,
Membawa rindu yang tak kunjung usai,
Pada sujud-sujud panjang di tengah mimpi,
Saat seluruh dunia tertidur dengan damai.
Tiada lagi suara bising duniawi,
Hanya detak jantung yang memanggil nama-Mu,
Mencari ketenangan yang hakiki,
Di balik tirai malam yang kelabu.
Air mata luruh tanpa diminta,
Mengingat betapa jauh aku melangkah,
Terjebak dalam labirin harta dan tahta,
Hingga lupa pada zat yang Maha Indah.
Kini fajar Ramadan mulai menyapa,
Membawa hangat di sela kedinginan,
Mengajarkanku arti sebuah rupa,
Bahwa rendah hati adalah kunci kemuliaan.
Tiap rakaat adalah tangga menuju langit,
Tempat doa-doa meluncur dengan bebas,
Meskipun beban hidup terasa sangat pahit,
Di hadapan-Mu, segalanya terasa lepas.
Selamat datang bulan penuh kerinduan,
Tempatku mengadu segala keluh kesah,
Jangan biarkan aku dalam ketersesatan,
Bimbinglah langkahku agar tak lagi salah.
Mari kita jaga api iman ini tetap menyala,
Meski angin cobaan datang menerjang,
Karena di bulan ini pahala berlipat ganda,
Bagi mereka yang sabar dan pantang pulang.
Semoga di akhir perjalanan nanti,
Hati ini kembali putih laksana melati,
Siap menyambut fitrah yang dinanti,
Dengan jiwa yang bersih dan penuh bakti.
Bulan ini bukan tentang diri sendiri,
Bukan tentang meja makan yang penuh warna,
Tapi tentang hati yang mau memberi,
Bagi mereka yang hidup dalam nestapa.
Ramadan mengajarkan kita rasa lapar,
Agar tahu pedihnya perut yang kosong,
Supaya sombong di dada tak lagi menjalar,
Dan tak ada lagi jiwa yang congkong.
Ada hak mereka di dalam harta kita,
Sekeping koin yang sangat berharga,
Untuk menghapus duka dan air mata,
Bagi saudara yang sedang menderita.
Ulurkan tangan dengan senyum yang tulus,
Tanpa perlu harap pujian manusia,
Biarkan kasih sayang mengalir lurus,
Menjadi jembatan menuju bahagia.
Lihatlah tetangga yang kekurangan,
Mungkin mereka berbuka dengan air saja,
Jadikan tanganmu sumber keberkahan,
Agar hidupmu jauh lebih bersahaja.
Berbagi tak akan membuatmu miskin,
Malah menambah berkah yang tak terduga,
Karena Tuhan telah menjamin dengan yakin,
Pahala melimpah bagi yang mau menjaga.
Indahnya kebersamaan di bulan ini,
Saat si kaya dan si miskin duduk setara,
Mengharap rida dari Sang Ilahi,
Tanpa ada sekat yang membuat sengsara.
Mari kita bersihkan harta dan jiwa,
Melalui zakat dan sedekah yang nyata,
Agar Ramadan tidak berlalu sia-sia,
Hanya menjadi cerita di balik kata.
Terima kasih ya Rabb atas limpahan rezeki,
Izinkan kami menjadi hamba yang pemurah,
Menanam kebaikan di bumi pertiwi,
Hingga menuai hasil di akhirat yang cerah.
Musuh terbesar bukanlah yang tampak,
Bukan pedang atau amarah yang membara,
Tetapi ego yang seringkali berdetak,
Di dalam dada, merusak segala jiwa.
Ramadan adalah medan perang yang sejati,
Melawan keinginan yang tak ada habisnya,
Menjinakkan nafsu yang seringkali meniti,
Di atas jalan yang penuh dengan dusta.
Mata dijaga dari pandangan yang salah,
Telinga ditutup dari ghibah yang merayu,
Agar lisan tak lagi mengeluarkan amarah,
Dan hati tak lagi menjadi kaku dan layu.
Sabar adalah senjata yang paling ampuh,
Dalam menghadapi ujian yang silih berganti,
Meski raga ini terasa sangat rapuh,
Semangat ibadah tak boleh berhenti.
Bukan hanya perut yang harus berpuasa,
Tapi pikiran juga harus disucikan,
Dari segala prasangka dan rasa dosa,
Agar ketenangan batin dapat dirasakan.
Setiap detik adalah perjuangan besar,
Menjaga niat agar tetap karena-Nya,
Jangan sampai puasa hanya menjadi lapar,
Tanpa ada makna di balik lelahnya.
Kita belajar untuk merasa cukup,
Dengan apa yang telah Tuhan berikan,
Sebelum mata ini selamanya tertutup,
Dan semua amal mulai diperhitungkan.
Bulan suci ini adalah kesempatan emas,
Untuk menempa diri menjadi baja,
Melepaskan belenggu dunia yang cemas,
Dan fokus pada pengabdian yang nyata.
Semoga kita keluar sebagai pemenang,
Setelah sebulan penuh bertarung nyawa,
Membawa jiwa yang damai dan tenang,
Di bawah naungan rida Sang Maha Esa.
Di penghujung persiapan kita berdiri,
Menatap bulan sabit yang mulai tampak,
Membawa harapan bagi setiap diri,
Untuk memperbaiki hidup yang retak.
Langkah dimulai dengan Bismillah,
Mengarungi samudera berkah yang luas,
Meninggalkan segala keluh dan lelah,
Demi mendapatkan cinta yang tak terbatas.
Setiap hari adalah lembaran baru,
Untuk menuliskan kisah tentang taubat,
Mencari cahaya di balik awan biru,
Dan menjauh dari segala yang maksiat.
Ramadan akan berlalu dengan cepat,
Bagai embun yang hilang diterpa surya,
Maka jangan biarkan dirimu terlambat,
Untuk memohon ampun pada-Nya.
Kita rindu akan suara tadarus,
Yang menggema di sepanjang malam,
Membuat aliran iman mengalir lurus,
Menembus relung hati yang paling dalam.
Jangan biarkan mesjid kembali sepi,
Setelah Ramadan meninggalkan kita nanti,
Biarkan semangat ini tetap bersemi,
Menjadi karakter yang abadi di hati.
Kita semua berharap pada satu muara,
Yaitu ampunan dan kasih sayang-Nya,
Agar kelak di hari akhir yang membara,
Kita termasuk hamba yang bahagia.
Selamat datang bulan yang mulia,
Terima kasih telah datang menyapa,
Kami sambut engkau dengan penuh sedia,
Tanpa ada keraguan dan rasa hampa.
Semoga puasa kita diterima oleh-Nya,
Menjadi penghalang dari api neraka,
Dan menjadikan kita hamba pilihan-Nya,
Yang kembali fitrah tanpa ada noda.
(Tribunsumsel.com/Putri Kusuma Rinjani)
****
Ikuti dan bergabung disaluran WhatsApp Tribunsumsel.com