SURYA.CO.ID, SURABAYA - Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) resmi mengukuhkan Prof Mohamad Yusak Anshori, Drs., M.M., CPM (Asia) sebagai Guru Besar bidang Ilmu Manajemen.
Upacara pengukuhan yang digelar di Auditorium Unusa pada Senin (16/2/2025) ini, menandai babak baru dalam dunia akademisi manajemen dengan lahirnya gagasan inovatif 'Softbrain Engineer'.
Prof Yusak hadir menawarkan solusi melalui pengembangan sumber daya manusia berbasis neuropsikologis untuk menghadapi era disrupsi.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof Yusak menekankan bahwa di tengah gempuran perubahan global, pendekatan manajemen konvensional yang kaku mulai kehilangan relevansinya.
Ia menjelaskan, bahwa sistem dan prosedur semata tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan zaman yang penuh tekanan tinggi.
SURYA.CO.ID mencatat, bahwa konsep ini menekankan pada mekanisme dasar cara kerja otak manusia dalam merespons perubahan.
"Perubahan perilaku tidak akan bertahan jika hanya menyentuh permukaan. Softbrain skills menembus hingga cara otak memproses emosi, berpikir dan berinteraksi," ungkap pria kelahiran Kediri, 13 Oktober 1967 tersebut.
Sebagai guru besar pertama di Program Studi Manajemen Unusa, Prof Yusak membedah konsep Softbrain Skills ke dalam empat dimensi fundamental yang wajib dimiliki pemimpin masa kini:
Selain dikenal sebagai pemikir visioner, Prof Yusak adalah sosok akademisi yang sangat produktif. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, ia telah menerbitkan lebih dari 30 buku manajemen.
Karya-karya Prof Yusak menjadi jembatan krusial antara teori akademis yang mendalam dengan praktik nyata di dunia korporasi global, memperkuat posisi beliau sebagai pakar manajemen di Indonesia.
Rektor Unusa, Triyogi Yuwono, memberikan apresiasi tinggi atas pencapaian ini. Ia menyebut, bahwa gagasan Softbrain Engineer sangat selaras dengan strategi GREATS (Growth, Reputation, Empowerment, Advancement, Transformation dan Sustainability) yang sedang diusung Unusa untuk menciptakan SDM unggul.
Di akhir orasinya, Prof Yusak mengingatkan, bahwa secanggih apa pun teknologi, penggerak utamanya tetaplah manusia. Transformasi organisasi harus dimulai dari transformasi cara kerja otak manusianya, agar tetap relevan dan kompetitif.
Dengan pengukuhan ini, Unusa mempertegas komitmennya dalam mencetak pemimpin masa depan yang memiliki ketahanan mental dan kecerdasan emosional yang kuat.