BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Perayaan Tahun Baru Imlek di Pulau Bangka bukan sekadar agenda tahunan komunitas Tionghoa. Ia adalah jejak panjang sejarah, denyut kebudayaan, sekaligus cermin harmoni sosial yang telah tumbuh sejak abad ke-19.
Sejarawan dan budayawan Bangka Belitung, Dato’ Akhmad Elvian mengungkapkan bahwa keberadaan rumah ibadah lintas agama di Pulau Bangka telah tercatat dalam dokumen resmi pemerintah kolonial Belanda pada 1850.
Dalam arsip Algemeen Verslag Der Residentie Banka Over Het Jaar 1850 (Bundel Bangka Nomor 41), disebutkan bahwa di Kota Mentok telah berdiri satu masjid untuk umat Islam, serta satu kelenteng bagi komunitas Tionghoa.
Di Distrik Pangkalpinang juga tercatat keberadaan kelenteng yang cukup besar dan bersih. Sementara itu, gereja Kristen belum didirikan; pelayanan keagamaan dilakukan di gedung pemerintah oleh pendeta yang datang berkunjung.
Kelenteng yang dimaksud dalam laporan tersebut diyakini sebagai Kelenteng Kwan Tie Bio, atau dikenal pula sebagai Kwan Tie Miaw. Hingga kini, kelenteng tersebut menjadi pusat perayaan Imlek di Pangkalpinang, lengkap dengan pertunjukan liong, barongsai, pesta kembang api, hingga sembahyang tutup tahun atau sam sip pu.
"Pendirian kelenteng dan toapekong di berbagai distrik Bangka berjalan seiring meningkatnya jumlah penduduk Tionghoa yang bekerja sebagai penambang timah," ujar Elvian kepada Bangkapos.com, Senin (16/2/2026).
Kata Elvian, Data Residen Inggris M.H. Court mencatat, pada akhir kekuasaan Inggris tahun 1817, jumlah penduduk Tionghoa di Bangka mencapai 4.651 jiwa.
Tiga dekade kemudian, Franz Epp dalam bukunya Schilderungen aus Ostindiens Archipel (1841) dan Schilderungen aus Hollandisch-Ostinden (1852) menyebutkan, pada 1848 jumlahnya melonjak menjadi 10.052 jiwa. Distrik Belinyu menjadi wilayah dengan populasi Tionghoa terbesar saat itu.
"Lonjakan signifikan terlihat dalam sensus 1920. Pemerintah Hindia Belanda mencatat jumlah penduduk Tionghoa di Bangka mencapai 67.398 orang atau 44,6 persen dari total populasi 154.141 jiwa. Di Pangkalpinang, jumlah warga Tionghoa mencapai 10.653 orang atau sekitar 68,9 persen dari total penduduk kota kala itu," jelasnya.
Tak heran, perayaan Imlek di Bangka yang dikenal dengan sebutan Kongian, berlangsung sangat meriah dan melibatkan hampir seluruh lapisan masyarakat.
"Pada masa Hindia Belanda, para pekerja tambang timah yang masih lajang tinggal di “rumah kepung” atau rumah kongsi. Sementara yang telah menikah mendirikan pondok dekat parit tambang," tuturnya.
Mereka bekerja dengan sistem kung atau dagtaak, sekitar 9-10 jam sehari selama 30 hari dalam sebulan. Dalam setahun, mereka memperoleh jatah libur 15 hari, termasuk empat hari untuk merayakan Imlek. Selain itu, ada bonus tahunan lima gulden yang dikenal sebagai uang rajin, yang sejak 1880 dibayarkan satu gulden per bulan.
Menariknya, pada masa kolonial, perjudian dilegalkan dan dikenakan pajak. Saat Imlek, pekerja tambang dibebaskan berjudi sebagai bagian dari perayaan. Judi dadu "Po" atau "Pao" serta judi kartu "Pen Kim" dan "Siap" menjadi hiburan yang kerap menghabiskan uang rajin mereka di meja permainan.
Namun lebih dari itu, Imlek menjadi momen kebahagiaan setelah setahun penuh menghadapi kerasnya kehidupan di parit tambang.
Sejumlah tradisi khas masih dijaga masyarakat Tionghoa Bangka hingga kini.
"Menjelang Imlek, keluarga melakukan bersih-bersih rumah. Tradisi ini bermakna membuang kesialan sebelum memasuki tahun baru. Saat hari Imlek tiba, aktivitas menyapu justru dihindari karena dipercaya dapat membuang rezeki," pungkasnya.
Sehari sebelum Imlek digelar sembahyang leluhur dengan menyalakan hio dan lilin serta menyajikan persembahan makanan. Rumah-rumah kemudian dihiasi ornamen merah dan emas sebagai simbol keberuntungan.
"Pada malam pergantian tahun digelar pesta makan besar. Siang harinya diisi dengan saling berkunjung dan berbagi angpao. Aneka kudapan khas Imlek disajikan, termasuk kue keranjang atau thiam pan yang menjadi simbol kemakmuran," ujarnya.
Menurutnya, sejarah panjang komunitas Tionghoa di Bangka memperlihatkan bahwa Imlek bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan peristiwa budaya yang menyatukan.
"Dari arsip kolonial 1850 hingga kemeriahan Kongian masa kini, perayaan Imlek di Pangkalpinang dan berbagai daerah di Bangka menjadi bukti bahwa sejarah, ekonomi timah, dan kebudayaan telah membentuk identitas sosial yang inklusif," katanya.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)