Cerita Pedagang Bunga Makam Musiman di Bandar Lampung, Tradisi Ramadan Bawa Rezeki
Robertus Didik Budiawan Cahyono February 16, 2026 03:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Aroma wangi kembang kenanga dan mawar menyeruak saat memasuki gerbang Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pengajaran, Teluk Betung Utara, Bandar Lampung, Senin (16/2/2026).

Tidak seperti hari-hari biasanya, di pinggir pagar TPU itu telah berjajar pria dan wanita yang menjajakan bunga untuk kebutuhan ziarah makam.

Bak gayung bersambut dengan pedagang bunga dadakan, peziarah mulai berdatangan silih berganti. Ada yang mampi beli, ada juga yang lalu karena sudah mempersiapkan bunga dari rumah sebelum berangkat ke TPU.

Suasana di TPU ini menjadi pemandangan yang jadi penanda bulan suci Ramadan 1447 Hijriah sudah di hadapan mata. Di mana umat Islam melaksanakan tradisi ziarah makam keluarga sebelum melaksanakan ibadah puasa.

Pemandangan khas tahunan ini tersaji di sela-sela nisan yang berjajar rapi, sejumlah orang yang datang memperlihatkan momen emosional. Seolah mereka terbawa kembali pada memori dan rindu bersama mendiang terkasih.

Baca juga: Jelang Ramadan, Pasar Bandar Jaya Lampung Tengah Dipadati Pemburu Bahan Pokok

Kasih sayangnya pun terlihat kental dengan aksi mereka yang datang, tidak ingin makam keluarganya ditumbuhi rumput liar.

Meski di bawah terik mataharai, peziarah terlihat mencabuti habis rumput liar. Lalu menyapu bersih dedaunan kering yang menutupi pusara keluarga mereka.

Setelah bersih dan rapi, perlahan menaburkan bunga warna-warni dan menyiramkan air segar ke atas nisan. Suasana haru sekaligus hangat terasa saat satu per satu peziarah mulai bersimpuh merapalkan doa untuk keluarga yang telah lebih dahulu menghadap sang pencipta.

Di tengah hiruk-piruk para peziarah, seorang pemuda bernama Felix (21), tampak menata bungkusan plastik berisi bunga rampai di sebuah lapak sederhana tepat di beranda pemakaman.

Meski usianya tergolong muda, Felix sudah menjadi saksi bisu tradisi ziarah di TPU Pengajaran sejak bertahun-tahun silam.

"Saya jualan bunga begini sudah rutin setiap tahun. Sejak masih duduk di bangku SMA dulu sampai sekarang," ujar Felix.

Setiap kali aroma Ramadan mulai terasa, ia rela menanggalkan sejenak rutinitas pekerjaan demi melakoni peran sebagai pedagang bunga musiman.

"Sekarang memang masih libur kerja karena mau masuk bulan puasa, sekalian jualan bunga, lumayan buat tambahan pemasukan," ucapnya.

Baginya, berjualan bunga adalah panggilan tradisi. Ia biasanya mulai menggelar lapak sejak H-4 hingga H-1 Ramadan, saat arus peziarah sedang mencapai puncaknya.

Bunga yang ia jajakan bukan dibeli dari pasar besar atau toko bunga, ia lebih memilih menjalin kerja sama dengan rekan dekatnya yang memiliki tanaman bunga di pekarangan rumah.

"Bunganya saya beli sama teman yang punya bunga di pekarangan rumahnya sendiri. Jadi segar karena dipetik sendiri," tuturnya.

Satu bungkus bunga rampai dan sebotol air siraman ia hargai masing-masing Rp 5 ribu, membuat dagangannya laris manis diserbu peziarah yang tak sempat membawa persiapan dari rumah.

Keuntungan yang didapat pun terbilang lumayan. Dalam sehari, Felix mengaku bisa mengantongi omzet hingga Rp 300 ribu, sebuah tambahan penghasilan yang manis untuk mencukupi kebutuhan bulan puasa.

Namun bagi Felix, ini bukan sekadar soal hitung-hitungan rupiah. Ada nilai filosofis yang ia pegang teguh dari setiap kuntum bunga yang ia jual.

"Ziarah tabur bunga itu kan sudah jadi budaya kita. Itu cara untuk menghargai leluhur yang sudah duluan wafat. Selain itu, yang paling utama ya kita datang untuk mendoakan mereka," jelasnya.

Tak jauh dari lapak Felix, tampak Marzuki (62), salah satu peziarah yang baru saja selesai membersihkan makam dan mendoakan orang tuanya.

"Ziarah kubur selalu jadi rutinitas tahunan keluarga jelang Ramadan. Kita datang mendoakan leluhur yang sudah duluan meninggal," tutur Marzuki .

Bagi Marzuki, TPU Pengajaran di hari-hari menjelang puasa berubah menjadi titik kumpul keluarga besar yang mungkin jarang bertemu di hari biasa.

"Di sini kami anak cucu bisa kumpul silaturahmi. Saling mendoakan juga, baik yang sudah meninggal ataupun yang masih hidup agar selalu diberi kesehatan," pungkasnya.

Kehadiran pemuda seperti Felix dan ketulusan peziarah seperti Marzuki seolah menjadi pengingat, bahwa doa adalah satu-satunya hadiah paling indah yang bisa dikirimkan kepada mereka yang telah beristirahat dalam keabadian.

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.