TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kritik Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terhadap praktik perbankan syariah dinilai perlu disikapi dengan kepala dingin agar menjadi momentum perbaikan, bukan sekadar polemik.
Hal itu disampaikan Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas, yang menegaskan persoalan utama bank syariah terletak pada tata kelola biaya dan ekosistem pendanaan, bukan sekadar “ganti istilah”.
Baca juga: Anwar Abbas Sorot Iuran RI untuk Dewan Perdamaian Gaza, Singgung Akal Bulus AS dan Israel
Menurut Anwar, perbedaan bank syariah dan konvensional bukan hanya nomenklatur, tetapi juga filosofi.
Bank konvensional mengedepankan rasionalitas ekonomi tanpa mengaitkan aspek halal-haram, sementara bank syariah tetap menggunakan pertimbangan rasional yang dituntun nilai-nilai Islam.
Baca juga: Ekonomi Syariah Tumbuh 6,2 Persen, BI Genjot Posisi Indonesia di Tingkat Global
“Kritik dan kegelisahan yang disampaikan Purbaya penting dibicarakan agar kita tahu masalahnya dan bisa mencari solusi terbaik bagi kemajuan perbankan syariah,” ujar Anwar dalam pesan yang diterima, Senin (16/2/2026).
Anwar menanggapi dua pokok kritik Purbaya. Pertama, anggapan bahwa bank syariah hanya mengganti istilah. Ia menilai tudingan itu kurang tepat.
Dalam praktik syariah, istilah kredit dan bunga diganti sekaligus dengan konsep pembiayaan berbasis jual beli (murabahah) dan bagi hasil (mudharabah, musyarakah).
“Ini bukan sekadar mengganti istilah, tapi hijrah dari praktik ribawi ke non-ribawi. Konsepnya jelas berbeda,” kata dia.
Kedua, soal pembiayaan bank syariah yang dinilai lebih mahal dibanding bank konvensional.
Anwar mengakui kritik ini sulit dibantah, tetapi perlu dijelaskan sebab-sebabnya, di antaranya, skala bisnis bank syariah yang relatif kecil sehingga biaya operasional per unit lebih tinggi, serta biaya dana (cost of fund) yang mahal karena dominasi tabungan dan deposito.
Selain itu, penggunaan akad murabahah dengan margin tetap membuat angsuran terlihat lebih tinggi di awal, berbeda dengan bunga konvensional yang sering rendah di awal namun mengambang di tahun berikutnya.
Faktor biaya administrasi dan karakter risiko juga turut memengaruhi.
Namun, Anwar menilai bank syariah memiliki keunggulan berupa kepastian cicilan hingga akhir kontrak, kehalalan akad, serta mekanisme denda yang tidak menjadi pendapatan bank dan dialokasikan untuk kepentingan sosial.
Sebagai solusi, Anwar mendorong pemerintah memperkuat ekosistem bank syariah dengan menempatkan dana pada rekening giro bank syariah.
Baca juga: BSN Fokus Dorong Ekosistem Perumahan Syariah, Developer Jadi Mitra Kunci Pertumbuhan
Dia menyoroti masih banyak institusi keagamaan, termasuk di bawah Kementerian Agama, yang menempatkan dana di bank konvensional.
“Jika pemerintah dan lembaga terkait menempatkan dana di giro bank syariah, cost of fund akan turun. Dengan begitu pembiayaan syariah bisa lebih kompetitif dan menjawab kritik Purbaya,” pungkas Anwar.
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pemerintah serius mengembangkan ekonomi syariah sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi.
Ia menyebut, ekonomi syariah memiliki peran besar, sama seperti ekonomi hijau dan ekonomi digital
Bagi pemerintah jelas ekonomi syariah adalah bagian dari staregi besar pembangunan, sejajar dengan ekonomi hijau dan ekonomi digital, bukan simbol, bukan retorika tapi instumen nyata dalam memperkuat kemandirian ekonomi bangsa," kata Purbaya di The Tribrata Hotel, Jakarta, Kamis, (12/2/2026).
Meski begitu, Purbaya menyebut, keberpihakan dalam mendorong ekonomi syariah belum dilakukan maksimal. Menurut dia, pengembangan ekonomi syariah tidak sekedar jargon saja tetapi betul-betul menjalankan sistem ekonomi sesuai dengan syariat Islam.
"Kalau mau bangun, bangun betul-betul. Syariah bukan hanya istilahnya tapi praktik syariah betul-betul syariah," jelas dia.
Ia mencontohkan, meski bank syariah tidak memakai istilah bunga namun biaya yang dikenakan lebih mahal dibandingkan bank konvensional. Padahal negara lain seperti Jerman lebih menggunakan prinsip syariah karena sistem keuangan didominasi bank kecil.
"Kalau jerman yang dianggap struktur terkuat, harusnya kita juga bisa, instead kita pakai istilah syariah tapi bunganya tinggi kita harus bergerak ke arah sana, menggalakan orang-orang yang betul-betul ingin menjalankan prinsip syariah," jelas dia