TRIBUNJATIM.COM - Penjualan kue keranjang jelang Perayaan Imlek tampaknya tak begitu ramai di tahun ini.
Itulah yang dikeluhkan, Tanto penjual kue keranjang.
Warga Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah ini mengakui bahwa pesanan kue keranjang kali ini tidak sebanyak tahun lalu.
Padahal kue keranjang menjadi salah satu makanan yang kerap dibagikan saat Perayaan Imlek.
Baca juga: Imlek Kurang Tiga Pekan, Produsen Kue Keranjang di Surabaya Kebanjiran Pesanan
Diketahui, kue keranjang kini disajikan dengan berbagai varian rasa mulai dari original, pandan, vanili dan coklat.
Tanto menggeluti usaha pembuatan makanan khas Imlek sejak beberapa tahun lalu.
Dia meneruskan usaha orang tua yang telah dirintis sejak tahun 90-an.
Ada empat varian rasa kue keranjang yang diproduksinya mulai dari original, vanili, coklat hingga pandan.
Menurutnya, pemesanan kue keranjang bertepatan dengan momen Imlek Tahun Kuda Api ini tidak seramai tahun lalu.
Lanjutnya, pemesanan biasanya sudah banyak sebelum perayaan Imlek.
"Dibandingkan tahun-tahun kemarin, tahun ini menurun lumayan signifikan," katanya, Rabu (11/2/2026), melansir dari TribunJateng.
Tanto dibantu dua pekerja kini memproduksi kue keranjang sekitar 50 kg hingga 100 kg dalam sehari.
Dia mengungkapkan, pesanan kue keranjang bisa mencapai 500 kg lebih pada tahun lalu.
"Tahun ini belum ada segitu," tuturnya.
Adanya penurunan pesanan kue keranjang, terangnya, kemungkinan lantaran orang yang biasanya membagikan kue keranjang saat perayaan Imlek tapi kali ini tidak.
Di samping itu kemungkinan juga karena kondisi ekonomi saat ini.
Dia menjual kue keranjang per kg isi empat.
Masing-masing varian kue keranjang harganya berbeda-beda.
Kue keranjang original dijual dengan harga Rp 38 ribu.
Kue keranjang varian vanili dan pandan seharga Rp 40 ribu dan kue keranjang varian coklat dijual dengan harga Rp 42 ribu.
Sementara itu di Surabaya, Jawa Timur penjual kue keranjang ini justru merasa laris manis.
Salah satu rumah produksi kue keranjang di Surabaya milik Tjik Lidyana di Jalan Kalidami IX no 9, Kecamatan Gubeng kebanjiran pesanan.
“Memang (Imlek) masih kurang tiga minggu, tapi minggu ini meningkat. Biasanya lebih dekat lebih ramai,” ucap Tjik Lidyana ditemui Tribun Jatim Network di rumah produksi, Rabu (28/1/2026).
Usaha yang sudah berdiri sejak 17 tahun lalu ini menjangkau pembeli dari berbagai daerah. Surabaya, Sidoarjo, Gresik hingga, Bali, Kalimantan, Manado hingga Papua.
Per hari, usaha kue keranjang ini bisa memproduksi ratusan kue yang bisa dikemas di berbagai ukuran kemasan. Mulai dari satu hingga 9 bungkus kue. Beratnya bervariasi mulai dari 200 gram.
Yang paling banyak diburu adalah kue keranjang isi empat dalam satu box.
Jelang Imlek, rumah produksi ini tampak sibuk memproduksi, mengemas dan mengirim pesanan.
Baca juga: Imlek 2025, Pembuat Kue Keranjang di Kota Malang Banjir Pesanan, Ada Varian Baru
Saat ditemui Tribun Jatim, Lidyana dibantu oleh dua pekerjanya tengah menempelkan stiker dan mengemas kue keranjang. Sementara pengiriman dibantu oleh puteranya, Fery Andrea.
“Banyak dipesan yang isi empat, isi satunya ukuran 200 gram. Ada juga yang mini isi 9 tapi ukurannya kecil-kecil. Setiap hari kirim, 200 dus satu toko,” sebutnya.
Lidyana menyebut, rata-rata produksi sebanyak 150 hingga 300 kotak atau hingga 80 kilogram tepung.
Ketersediaannya mengisi mini market, ritel, hingga berbagai mall seperti Pasar Atom. Menjelang Imlek, pengusaha kue keranjang ini disibukan proses produksi yang memakan hingga 16 jam.
Lidyana menyebut kue keranjang ini bisa tahan dalam waktu yang lama. Mencapai empat bulan di suhu ruang dan 12 bulan di pendingin. Kue ini dijual sekitar Rp 20 hingga 35 ribu.
Sebagaimana diketahui, kue keranjang atau nian gao ini jadi salah satu kue wajib yang disajikan saat Imlek. Selain dihidangkan sembari kumpul keluarga, kue ini juga melengkapi hantaran hampers Imlek.
“Yang baru tahun ini ada kemasan isi satu. Untuk orang yang ingin mencoba, ini untuk pengenalan karena isinya satu. Ini pesanan ritel di Surabaya Raya,” sebut anak pemilik, Fery Andrea.