Pasca Terjangan Banjir, Pemkab Petakan Kerusakan Infrastruktur
Ndaru Wijayanto February 16, 2026 04:13 PM

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Imam Nawawi

TRIBUNJATIM.COM, JEMBER – Satgas Infrastruktur dan Tata Ruang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember, Jawa Timur mulai memetakan kerusakan sarana prasaran pascabanjir luapan sungai.

Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pemulihan infrastruktur dan memastikan keselamatan ribuan warga yang terdampak banjir luapan 8 sungai di Jember.

Satgas meninjau beberapa infrastruktur yang rusak, diantaranya di Jembatan cinta, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi; Jembatan Merah Putih, Desa Pakis, Kecamatan Panti; dan Jembatan Sentol, Desa Suci, Kecamatan Panti Jember.

"Bencana banjir kali ini merupakan salah satu yang cukup parah dalam kurun waktu lebih dari 10 tahun terakhir," ujar Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jember, Akhmad Helmi Luqman, Senin (16/2/2026).

Menurutnya, curah hujan yang lebat sejak Jumat (13/2/2026) membuat debit air sungai naik, hingga menggenangi ribuan rumah warga.

"Data sementara, curah hujan tinggi ini telah berdampak pada lebih dari 7 ribu Kepala Keluarga (KK) di berbagai wilayah di Kabupaten Jember," paparnya.

Baca juga: Gaji PPPK Paruh Waktu Jember Masih Di Bawah UMK, Bupati Fawait Buka Suara, Singgung Soal Fiskal

Sementara ini, kata Helmi, pemetaan dikhususkan untuk infrastruktur rusak yang menjadi titik vital mobilitas warga, karena akan diprioritaskan untuk perbaikannya.

"Semuanya dipetakan untuk menentukan skala prioritas penanganan. Kami akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk percepatan perbaikan ini," katanya.

Disisi lain, lanjut dia, Bupati Jember telah menetapkan massa siaga bencana hingga 26 Februari 2026, guna menindaklanjuti instruksi Badan Meteorogi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengenai cuaca ekstrem.

"Pesan Ibu Gubernur sudah jelas, Jember menjadi prioritas untuk perbaikan infrastruktur terdampak. Kami meminta masyarakat tetap waspada dan saling bahu-membahu dalam menghadapi situasi ini," imbuhnya.

Baca juga: 3944 Kepala Keluarga di Jember Terdampak Banjir Akibat Luapan 8 Sungai, 299 Jiwa Mengungsi

Sementara itu, Kepala Dinas PU Bina Marga Jatim, Edy Tambeng Widjaja, menyatakan tengah memetakan tingkat kerusakan jembatan, sebelum menentukan langkah perbaikan.

"Kami lihat dulu di lapangan secara detail. Jika harus ganti, ya kami ganti. Setelah semua data terkumpul, segera kami laporkan kepada Ibu Gubernur untuk langkah eksekusi ke depan," tambahnya.

Tambeng menilai, secara teknis, konstruksi jembatan sebenarnya tidak memiliki masalah fundamental. Namun, debit air sungai yang sangat tinggi bahkan melampaui kapasitas, sehingga menjadi pemicu utama ambrol.

"Rata-rata jembatan kita posisinya rendah. Ketika hujan turun dengan durasi lama dan intensitas deras,debit air meningkat drastis hingga terjadi over topping kemudian menyeret konstruksinya hingga roboh," ulasnya.

Oleh karena itu, Tambeng menuturkan perlu mempertimbangkan ketinggian jembatan lagi. Kata dia, untuk mengurangi risiko kerusakan jika terjadi bencana.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.