Libur Tahun Baru Imlek tahun ini diperkirakan mendorong lonjakan perjalanan wisatawan China ke luar negeri, kecuali Jepang.
Agen perjalanan mencatat sejumlah destinasi seperti Thailand, Rusia, Australia, dan Korea Selatan menjadi favorit, sementara Jepang justru kehilangan pamor. Periode libur itu berlangsung selama sembilan hari mulai 15 Februari, lebih panjang satu hari dari biasanya, untuk menyambut Tahun Kuda.
Momentum libur panjang ini diprediksi memicu mobilitas besar-besaran, baik untuk mudik maupun berwisata. Melansir , Senin (16/2/2026) Pemerintah China memperkirakan rekor 9,5 miliar perjalanan penumpang selama periode puncak 40 hari, naik dari 9,02 miliar tahun lalu.
Pemerintah berharap tambahan hari libur dapat mendorong lebih banyak perjalanan domestik maupun internasional. "Thailand kembali menjadi destinasi wisata luar negeri terpopuler berkat cuacanya, sementara sebagian besar wilayah Tiongkok masih dingin," ujar Zhou Weihong dari Spring Tour, unit perjalanan milik maskapai Spring Airlines.
Selain Thailand, Rusia juga mencatat kenaikan signifikan. Pemesanan perjalanan ke negara tersebut melalui platform Spring Tour disebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun lalu, begitu pula rute ke Eropa Utara.
Direktur Pemasaran dan Komunikasi Dragon Trail Research, Sienna Parulis-Cook, menilai tren itu dipengaruhi kebijakan bebas visa yang diberlakukan Moskow bagi wisatawan China sejak Desember lalu.
"Untuk sisa tahun ini, kita mungkin akan melihat peningkatan perjalanan wisatawan China ke Rusia," katanya.
Platform perjalanan Trip.com Group juga melaporkan lonjakan wisata jarak jauh, dengan kunjungan ke Australia naik lebih dari 100% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di tengah ketidakpastian ekonomi domestik, mulai dari lesunya pasar properti hingga kekhawatiran lapangan kerja pascapandemi, sebagian warga tampaknya memanfaatkan libur panjang untuk sejenak keluar dari rutinitas.
Permintaan wisata domestik pun terbagi antara destinasi hangat seperti Pulau Hainan dan kawasan bersalju seperti Pegunungan Changbai. Data perusahaan intelijen penerbangan IBA menunjukkan kapasitas kursi penerbangan internasional selama periode liburan meningkat 9% dibandingkan tahun lalu.
Namun, tidak semua destinasi menikmati tren positif. Ketegangan politik antara China dan Jepang berdampak pada minat wisata. Data Flight Master mencatat penerbangan China-Jepang pada pekan yang dimulai 2 Februari turun 49,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebanyak 58 rute yang beroperasi saat Festival Musim Semi tahun lalu juga dilaporkan dibatalkan. Padahal, tahun lalu Jepang sempat masuk daftar destinasi luar negeri terpopuler bersama Thailand dan sejumlah negara Asia lainnya.







