Cerita Dosen UMM Tambatkan Hati ke India untuk Pascasarjana
GH News February 16, 2026 06:09 PM
Jakarta -

Ada cerita menarik dari dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Mohd Agoes Aufiya yang memilih India untuk studi pascasarjana. Sementara orang lain, mungkin banyak yang memilih Inggris, Amerika Serikat, dan sebagainya.

Kisah Agoes dapat berkuliah di India, bermula dari pertanyaan dosen S1-nya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Sang dosen bertanya mengapa mahasiswa HI hanya terpaku untuk belajar di Amerika, Eropa, dan Australia. Kenapa tidak mencoba kampus di India yang tak kalah bagus?

Dari situlah ia mencari informasi kampus di India yang memiliki jurusan hubungan internasional, pencarian daring mengarahkannya kepada Jawaharlal Nehru University (JNU). Proses pendaftaran pada saat itu (2013) terbilang sederhana. Tanpa tes dan syarat TOEFL, ia mengirimkan berkas pendaftaran melalui pos dari Yogyakarta ke New Delhi.

Pada waktu bersamaan, Agoes juga mendaftar S2 Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia sempat bimbang karena tak kunjung mendapat konfirmasi dari kampus di India, hingga akhirnya ia mendapat kabar atas usahanya bertanya kepada salah satu profesor di JNU.

"Hasilnya itu hampir nggak diterima sebenarnya. Karena waktu itu nggak ada kabar. Tapi karena saya coba tanya via email di tahun 2013 itu ke salah satu profesor. Beberapa profesor dari kampus itu saya coba tanya. Ada satu yang ngebales," jelasnya.

Kabar baiknya ia diterima di Jawaharlal Nehru University (JNU), dan saat itu ia baru akan melakukan seleksi wawancara di UGM. Namun, tanpa pikir panjang ia memilih untuk pergi ke India dengan menjual motor miliknya sebagai modal.

"Saya waktu itu jual motor, motor yang saya pakai waktu di Jogja, saya jual. Saya pakailah itu untuk biaya visanya sama beli tiket pesawat. Ya udahlah. Akhirnya berangkat, dengan uang dari jual motor itu. Akhirnya sampai di India," ungkapnya.

Saat Ini Sedang Menyelesaikan S3

Agoes Aufiya sendiri saat ini sudah hendak menuntaskan program doktornya di Jawaharlal Nehru University (JNU), India. Studi PhD yang ia tempuh sejak 2017, sempat molor karena kampus-kampus di India tutup total saat COVID-19.

Pada umumnya, program doktor ditempuh sekitar 4 tahun. Namun, rata-rata mahasiswa di JNU menyelesaikanya dalam durasi yang lebih panjang.

"Saya S3 ini kan normalnya ataupun biasanya idealnya 4 tahun, tapi di kampus saya ini memang jarang ada yang benar-benar 4 tahun. Biasanya ke 5 tahun bahkan ada yang ke 6 tahun," ujar Agoes kepada detikEdu pada (9/2/2026).

Pandemi COVID-19 memaksa kampus-kampus di India ditutup total selama dua tahun, dan mengharuskan Agoes pulang ke Indonesia pada Februari 2022. Sekitar 3 tahun cuti, ia kembali lagi ke India untuk mengumpulkan tesis S3-nya, pada Oktober 2025 lalu.

Selama cuti kuliah di Indonesia, ia menghabiskan waktu sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agoes diterima sebagai dosen UMM pada tahun 2019, yang hingga sekarang masih aktif mengajar secara daring. Namun, di pertengahan semester ia mendapat kabar dari dosen pembimbing saya untuk kembali ke India.

"Tiga tahun cuti dan Oktober 2025 saya kembali lagi ke India untuk mengumpulkan tesis saya. Setelah 3 tahun cuti. Jadi profesor saya bilang, kamu silahkan pulang kerjakan tesis di Indonesia, kalau tesisnya sudah siap balik lagi ke India," ujar Agoes.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.