POSBELITUNG.COM, BELITUNG - Hiruk pikuk persiapan menyambut bulan suci Ramadhan tidak hanya terasa di dalam masjid. Suasana tersebut juga merambah hingga ke Pasar Hatta, Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Senin (16/2/2026).
Di tengah aroma rempah yang menyengat, para pedagang bumbu giling mulai bersiap menghadapi gelombang pembeli. Mereka yang mencari bahan dasar masakan demi mempersiapkan hidangan sahur pembuka awal puasa.
Satu di antara penjual bumbu, Kinanti Agustina (22) pemilik toko Akil di pasar Hatta. Saat ditemui, ia tampak melayani pelanggan yang silih berganti datang untuk membeli bumbu gilingannya.
Kinanti sudah lama menggeluti usaha dari keluarganya ini. Gadis muda ini juga mengakui atmosfer pasar berubah drastis setiap kali kalender mendekati bulan suci Ramadhan.
"Ada sih pastinya perbedaan, lebih ke arah ramai mau Ramadhan ini," ujarnya
Menurutnya, antusiasme warga Tanjungpandan dalam menyambut bulan puasa selalu tercermin dari meningkatnya volume belanja bahan pangan. Karena itu, bumbu-bumbu giling sangat dicari lantaran bumbu ini adalah fondasi dari masakan Melayu yang khas.
Kinanti menjelaskan produk yang paling menjadi primadona masih santan. Disusul dengan varian bumbu halus siap pakai di urutan kedua.
"Santan sama bumbu (yang paling banyak dicari)," ucapnya.
Pilihan bumbu yang disediakan oleh Kinanti sangat beragam. Ia menyesuaikan dengan menu-menu lazim yang biasanya tersaji di meja makan saat sahur maupun berbuka.
"Itu tergantung dari orang-orangnya ya, cuma kebanyakan di sini tuh lebih ke bumbu opor, bumbu rendang, bumbu ketumbar kayak gitu," ujarnya.
Menyadari akan adanya lonjakan permintaan yang signifikan, Kinanti telah melakukan antisipasi. Hal ini bertujuan agar stok tidak habis saat pembeli membutuhkannya.
"Paling nyetok kelapa sama penuhin bumbu-bumbu halus itunya," ucapnya
Meski persaingan di pasar cukup ketat, ia yakin kualitas bumbu halusnya. Menurutnya, bumbu yang berkualitas akan menarik minat pelanggan setia maupun pembeli baru.
Bagi Kinanti, Ramadhan bukan sekadar tentang mencari keuntungan, melainkan juga membantu memudahkan urusan dapur para tetangga dan warga sekitar.
Kinanti membeberkan tantangan utama dalam menjual bumbu halus dan santan segar adalah masalah ketahanan produk. Jika tidak ditangani dengan benar, bisa-bisa produk menjadi basi lebih cepat dari yang seharusnya.
"Kalau nggak kecampur sih tahan dia, tahan lama, tapi kalau memang sudah kecampur-campur taruh di kulkas biar dia lebih tahan lama," sarannya.
Ia menekankan bahwa suhu dingin kulkas adalah kunci utama untuk menjaga aroma dan rasa rempah agar tidak berubah. Selanjutnya Kinanti juga membahas mengenai keawetan santan kelapa.
"Kalau santan itu harus dibekuin, kalau cuma dingin saja dia tetap basi," ujarnya.
Kinanti beraktivitas di toko miliknya sejak pagi hari. Ia memulai operasional sejak pukul 05.30 menyesuaikan jadwal belanja mayoritas warga sekitar.
"Dari subuh sih, kayak setengah enam," ucapnya. Tutupnya kalau hari-hari biasa adik aku sering nongkrong di sini jadi kadang sampai malam," ucapnya.
Menyongsong Ramadhan 2026 yang tinggal menghitung hari, Kinanti menggantungkan harapan. Meski begitu, ia tidak terlalu meminta banyak, cukup diberikan kelancaran dalam usahanya.
"Harapan aku, semoga rezeki selalu lancar, sehat selalu, itu saja sih," ujarnya.
Kehadiran pedagang seperti Kinanti menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Ramadhan, memastikan setiap rumah bisa menyajikan masakan terbaik untuk keluarga.
Di balik toples-toples bumbunya, tersimpan semangat melayani dan harapan akan keberkahan di bulan suci yang penuh ampunan.
(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)