Pentingnya Menjaga Hati dari Keluh Kesah Selama Bulan Suci Ramadan
Reny Fitriani February 16, 2026 07:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, alhamdulillahi allazi farada siyama Ramadan ala ummati khair al-bariyah.

Segala puji bagi Allah yang telah memfardukan puasa Ramadhan kepada umat terbaik, sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat terdahulu melalui syariat samawiyah.

Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Lampung DR. Hi. Zulkarnain mengatakan, kehidupan ini adalah mata'ul ghurur, Allah menyatakan bahwa kesenangan yang memperdaya kita semuanya.

Seakan-akan, fasilitas yang Allah berikan kepada kita tidak akan hilang, padahal semuanya itu semu dan akan kembali semuanya ke sisi Allah SWT.

Puasa, sebagaimana Allah menyatakan dalam Surah Al-Baqarah 183, muaranya adalah ingin menjadikan kita hamba-hamba yang beriman menjadi orang-orang yang bertakwa.

Tetapi pada ayat 185, Allah mengakhiri firman-Nya dengan mengatakan: 'Wala’allakum tasykurun'. Jadi tujuan akhirnya adalah agar kalian dengan berpuasa ini menjadi hamba yang bersyukur kepada Allah SWT.

Bayangkan ketika kita menahan hawa nafsu, Al-imsaq anil-muftirat, menahan sesuatu yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari. 

Walaupun makanan, minuman, dan istri itu halal kita miliki, tapi karena kita bertakwa dan cinta kepada Allah, maka kita menahan itu semua.

Ketika kita menahan untuk tidak makan dan minum, ternyata Allah ingin menggugah kita agar memiliki empati bagi saudara-saudara kita yang kurang beruntung, fakir, dan miskin. 

Ada mereka yang tidak makan dalam satu hari hanya cuma satu kali mungkin. Saat lambung terasa perih dan kita dehidrasi, di situlah Allah ingin kita merasakan bagaimana kita harus bersyukur terhadap semua nikmat yang diberikan-Nya.

Dalam Surah Al-Ma'arij ayat 19, Allah menyatakan: 'Innal insana khuliqo halu’a'. Bahwa sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah dan bahkan kikir. Kita itu punya potensi besar untuk selalu tidak mau bersyukur, merasa tidak puas, dan selalu kurang.

Ketika kita berjihad melawan ini semua, bagaimana kita bisa mensyukuri setiap nikmat, maka kita akan mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah SWT.

Syekh Ibn Atha’illah Al-Iskandari mengatakan bahwa bersyukur itu ada tiga kategori.

Pertama, Duniawi, yaitu ketika Allah berikan kesehatan yang sempurna, harta, keluarga, dan anak-anak. Itu semua adalah ujian, tapi jika kita pandai mensyukurinya, maka ini adalah syukur diniawi, dan akan mendapatkan pahala. 

Kedua adalah Bersykur Dini, tentang syukur terhadap keluasan ilmu, kecerdasan, amal yang banyak, ketakwaan, dan makrifat kepada Allah SWT.

Ketiga adalah Ukhrawi, bagaimana kita bersyukur atas ganjaran ibadah yang luar biasa. Puasa itu pahalanya tidak terhingga karena untuk-Ku, kata Allah. Satu huruf Al-Quran saja dilipatgandakan menjadi sepuluh pahala kebajikan.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga mengatakan cara bersyukur ada tiga.

Pertama bersyukur dengan ucapan (lisan). Kedua, bersyukur dengan hati (bil qalb), meyakini bahwa semua yang Allah berikan dan semua kekuatan kita adalah dari Allah.

Ketiga adalah bersyukur dengan seluruh anggota tubuh (bil arkan). Nafas yang kita hirup detik demi detik itu gratis Allah berikan.

Jika dihentikan dua menit saja, mungkin semua makhluk akan binasa. Maka, saya mengajak gunakan mata, mulut, dan tangan yang Allah berikan hanya di jalan yang diridai-Nya. Jangan merusak ekosistem karena ulah tangan jahat manusia.

Mengeluh boleh saja, tetapi mengeluhlah hanya kepada Allah. Saya ingatkan, hindarkan diri kita untuk mengeluh kesah di media sosial sehingga aib kita terlihat oleh masyarakat umum. Rasulullah SAW punya tips agar kita pandai bersyukur: Lihatlah yang ada di bawah kita.

Jika punya mobil, lihat yang punya motor. Yang punya motor, lihat yang punya sepeda. Yang punya sepeda, lihat yang jalan kaki. Yang jalan kaki, bersyukurlah masih bisa berjalan karena ada saudara kita yang sakit atau anggota tubuhnya tidak lengkap.

Dengan melihat ke bawah, kita akan banyak bersyukur dan menghilangkan potensi untuk mengeluh.

Mengeluhlah hanya kepada Zat yang Maha Kuasa. Ketika kita mendapatkan problematika yang tidak bisa diatasi, itu menandakan bahwa kita makhluk yang butuh Allah yang Maha Besar. Katakan kepada persoalan:

'Tidak ada kalian problematika yang besar, karena kami punya Allah yang Maha Besar'.

Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Walaupun dosa kita sebanyak buih di lautan, Allah pasti akan mengampuni dosa-dosa kita semuanya.

Mari kita tebarkan kasih sayang di muka bumi. Ingat, Khairunnas anfa'uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberikan manfaat bagi manusia yang lain tanpa mempedulikan golongan, ras, suku, bahkan agama apa pun dia.

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.