Hadapi Tantangan Admisi Mahasiswa Baru, PTIS Diminta Perkuat Kapasitas Internal
Yoseph Hary W February 16, 2026 10:00 PM

 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, MATARAM - Rektor UII, Fathul Wahid menyebut admisi mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Islam Swasta (PTIS) tengah menjadi tantangan nasional.

Ada beberapa faktor yang memengaruhi, namun yang paling terlihat adalah pembatasan PTN, terutama untuk program sarjana. Di sisi lain, ada problem terkait daya beli masyarakat.

Geser prioritas kuliah

Penurunan daya beli masyarakat bisa jadi menggeser prioritas kuliah. Kalau pun kuliah, lokasinya yang dekat dari rumah.

“Banyak hal, tidak ada jawaban yang pasti, kombinasi banyak faktor,” katanya usai Workshop Penguatan Kapasitas Pengelolaan Perguruan Tinggi di Universitas Islam Al-Azhar Mataram, Senin (16/2/2026).

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Fathul mengajak PTIS untuk meningkatkan kapasitas internal. Ketua Umum Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta se-Indonesia itu menyoroti soal tata kelola, penjaminan mutu, dan kerja sama.

Ia menekankan penjaminan mutu menjadi pilar utama perguruan tinggi. Workshop bisa menjadi salah satu sarana untuk berbagi pengalaman, inspirasi, serta saling menguatkan.

Kerja sama juga tidak kalah penting. Melalui kerja sama, PTIS bisa saling menguatkan dan tumbuh bersama-sama.

“Harapannya PTIS di Indonesia tetap tumbuh membesar, dan pada saatnya menjadi perguruan tinggi yang berkontribusi besar untuk kemajuan bangsa ini,” ujarnya.

Jadi institusi peradaban

Selain itu, ia juga mengajak PTIS untuk kembali menjadi institusi peradaban. Perguruan Tinggi Islam Swasta diharapkan menjadi lembaga yang tidak hanya berguna, tetapi juga bermakna.

Sementara itu, Rektor Universitas Islam Al-Azhar (Unizar), Muh.Ansyar mengakui admisi mahasiswa baru memang cukup menantang. Ia merasakan penurunan minat selama beberapa tahun terakhir, meskipun tidak drastis.

Penurunan minat kuliah

“Ya terasa bahwa di beberapa teman-teman di perguruan tinggi swasta itu semakin hari ada penurunan. Sudah berlangsung lima tahunan mungkin. Kalau Unizar tidak drastis juga turunnya, tetapi ya mulai terasa. Kami kurang lebih menerima 500 (mahasiswa baru),” ujarnya.

Ia menambahkan kualitas pendidikan memang menjadi tantangan. Oleh sebab itu, penjaminan mutu menjadi upaya untuk memastikan kualitas pendidikan yang diberikan perguruan tinggi sesuai dengan standar nasional maupun internasional.

Tentu penjaminan mutu meliputi banyak aspek, mulai dari kurikulum yang relevan, metode pembelajaran yang inovatif, hingga pengelolaan sumber daya manusia yang berkualitas.

Kendati demikian, tantangan pendidikan Islam tidak hanya terletak pada kualitas pendidikan, tetapi pada kemampuan beradaptasi dan bersaing di tingkat internasional.

“Internasionalisasi pendidikan tinggi adalah langkah yang tidak kalah penting. Internasionalisasi pendidikan tinggi Islam menjadi kunci untuk memperluas jaringan, meningkatkan reputasi, serta memberikan kesempatan bagi mahasiswa dan dosen untuk mengakses berbagai peluang internasional,” imbuhnya. (maw) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.