H-1 Imlek 2026, Vihara Dharmayana Kuta Gelar Persembahyangan Tolak Bala-Kirab Budaya
Anak Agung Seri Kusniarti February 16, 2026 10:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Sehari atau H-1 menjelang Tahun Baru Imlek 2577, atau tahun 2026 ratusan umat Vihara Dharmayana Kuta, Bali, memadati area vihara untuk mengikuti persembahyangan tolak bala dan kirab budaya, Senin sore tanggal 16 Februari 2026.

“Sekitar 300 hingga 400 orang yang mengikuti acara pada sore hari ini. Berasal dari klub Barongsai Pusaka Tantra, krama Banjar Dharma Semadi Kuta, umat-umat sekitar Desa dan lain sebagainya,” ujar Penanggung Jawab Pengurus Vihara Dharamayana Kuta, Adi Dharmaja Kusuma.

Di mana dalam persembahyangan tolak bala dan kirab budaya ini, melibatkan tiga barongsai dan dua liong yang dibawakan komunitas Barongsai Pusaka Tantra dari anak-anak hingga orang dewasa.

Ini merupakan kegiatan rutin setiap H-1 Tahun Baru Imlek, yang diadakan Pengurus Vihara Dharmayana Kuta dan tahun ini memasuki tahun ke-18 dalam pelaksanaannya.

Baca juga: OKNUM Dosen Selingkuh dengan Istri ASN Berbuntut Panjang, Ni PT KW Pernah Laporkan Suami Kasus KDRT!

Baca juga: PASCA Kebakaran, Pemkab Gianyar Melaspas Pasar Rakyat Tematik Wisata Ubud, Ini Tujuannya!

Dan memiliki makna agar tahun baru kedepannya lebih baik lagi dan dijauhkan dari musibah. “Yang mana upacara tersebut bermakna untuk memberikan penghormatan, kepada sahabat sejati atau mahluk-mahluk yang tidak terlahir di alam bahagia. Dan kita yakini bahwa liong dan barongsai bisa menetralisir hal-hal negatif sehingga untuk besok di tahun baru Imlek bisa kita lalui dengan penuh suka cita,” jelas Adi Dharmaja.

Persembahyangan tolak bala diadakan di setiap pertigaan dan perempatan jalan yang ada di sekitar Vihara mulai dari depan Vihara Dharmayana Kuta menuju perempatan Jl. Blambangan lalu ke arah Jalan Kalianget berhenti di perempatan lalu belok ke Jalan Raya Kuta menuju arah pasar dan berhenti di depan Pura Desa Adat Kuta.

Dari depan Pura Desa Adat Kuta dilanjutkan ke simpang perempatan Banjar Temacun, lalu kembali ke Vihara Dharmayana Kuta dengan durasi kurang lebih prosesi persembahyangan 45 menit. Di setiap persimpangan jalan dilakukan persembahyangan dengan menghaturkan sejumlah sajen.

“Persembahyangan kita lakukan secara adat tradisi Tionghoa itu ada kertas emas, lilin, persembahan kue-kue, dan persembahan sajen lainnya,” imbuhnya. Akulturasi adat Tionghoa dengan adat Bali sangat kental selama persembahyangan dimulai hingga selesai.

Terlihat dari ibu-ibu PKK banjar Dharma Semadi, memakai kebaya dan kamen khas Bali, penggunaan lontek atau umbul-umbul, membawa tirta atau air suci dengan tempananya, tedung dan canang.

“Akulturasi sudah berjalan sejak berdirinya Vihara Dharmayana di tahun 1700-an. Kalau kita bisa lihat sarana dan prasarana-nya umat yang melaksanakan persembahyangan pasti setidaknya membawa canang sari. Selain itu kita juga bisa lihat buah yang dirangkai seperti gebogan dan juga penjor,” papar Adi Dharmaja.

Selama prosesi persembahyangan tolak bala dan kirab budaya, mencuri perhatian masyarakat sekitar mereka menonton hingga mengabadikan momen itu dengan handphonenya. Dan para pengendara baik sepeda motor maupun mobil yang akan melintas sementara di berhentikan hingga persembahyangan selesai dan bergeser ke titik selanjutnya.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.