Strategi Memperkuat Investor Domestik untuk Meminimalisir Guncangan Pasar
Siti Fatimah February 16, 2026 11:40 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Gejolak pasar modal di awal tahun, dipicu sentimen global hingga evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI), dinilai menjadi alarm bagi otoritas untuk memperkuat fondasi dalam negeri. 

Salah satu kuncinya adalah memperluas basis investor domestik agar pasar tidak mudah tertekan saat dana asing keluar.

Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, mengatakan pasar saham Indonesia beberapa waktu terakhir memang sempat mengalami penurunan cukup dalam.

“Dalam beberapa pekan terakhir kemarin market kita memang mengalami penurunan yang cukup dalam. Selain sentimen global juga diperparah dengan adanya penilaian dari MSCI terkait pembobotan mereka,” ujarnya, kepada Tribunjabar.id, Senin (16/2/2026). 

Menurutnya, momentum ini seharusnya dimaknai sebagai fase pembenahan menyeluruh, bukan sekadar respons jangka pendek terhadap tekanan eksternal.

Reza menyebut, persoalan mendasar pasar modal Indonesia adalah masih tingginya ketergantungan terhadap investor asing.

Ketika terjadi capital outflow, IHSG cenderung langsung tertekan.

“Berarti kan kita bisa lihat bahwa pasar modal kita ini masih rentan, dikuasai oleh asing. Jadi ketika asing tarik uangnya, kita langsung drop,” ujarnya.

Ia membandingkan dengan negara seperti Malaysia dan Hong Kong, di mana porsi kepemilikan domestik bisa mencapai sekitar 60–65 persen.

“Kalau pasar modal kita mau kuat, ya harus ada investor domestik sebagai penjaga. Bukan berarti anti-asing, tapi kita harus memperkuat modal sendiri,” tutur Reza.

Menurut dia, otoritas seperti dan perlu mendorong pendalaman pasar (market deepening).

Pendalaman pasar yang dimaksud bukan hanya menambah jumlah emiten, tetapi juga meningkatkan literasi dan partisipasi masyarakat dalam berinvestasi.

“Seberapa banyak masyarakat Indonesia yang paham dan mau berinvestasi di pasar modal? Itu yang harus menjadi perhatian,” katanya.

Ia menilai, jika basis investor domestik semakin luas dan kuat, maka gejolak eksternal tidak akan mudah mengguncang pasar.

“Kalau fundamental domestiknya kuat, asing mau masuk silakan, mau keluar pun tidak langsung membuat pasar goyang,” ucapnya.

Reza menyoroti kebijakan terbaru otoritas yang mewajibkan porsi saham beredar (free float) minimal 15 persen bagi perusahaan tercatat.

 Ia menilai, dari sisi semangat kebijakan tersebut positif untuk meningkatkan likuiditas dan kredibilitas pasar.

“Kalau dari semangatnya itu positif, untuk meningkatkan kredibilitas pasar dan likuiditas pasar,” katanya.

Namun dalam praktiknya, ia mengingatkan tidak mudah bagi emiten untuk menaikkan porsi saham beredar dari sebelumnya 7,5 persen menjadi 15 persen.

“Yang mau menyerap siapa? Ketika suatu emiten ingin meningkatkan porsi sahamnya, yang mau menyerap tambahan saham itu siapa?” ucapnya.

Ia menjelaskan, saham-saham berkapitalisasi besar relatif lebih mudah diserap pasar.

Namun bagi saham lapis dua dan tiga, peningkatan free float bisa menjadi pekerjaan rumah besar jika tidak diimbangi perluasan basis investor.

Terkait wacana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus 10.000, Reza menilai hal tersebut bukan mustahil, tetapi membutuhkan dukungan fundamental yang kuat.

“Kalau dari saya pribadi sebagai pelaku pasar, mungkin bukan tidak mungkin. Tapi yang perlu diperhatikan, sentimen apa yang bisa membuat dia menyentuh level 10.000?” ujarnya.

Ia menambahkan, IHSG merupakan cerminan kumpulan saham di bursa. Tanpa penguatan mayoritas saham, sulit bagi indeks untuk melesat signifikan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.