Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Wakil Gubernur (Wagub) Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat fondasi ekonomi melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), investasi, dan pengembangan sektor pariwisata.
Menurut Johni, satu tahun pemerintahan memang belum cukup untuk menjawab seluruh harapan masyarakat. Namun, ia memastikan berbagai kebijakan dan program yang dijalankan mulai menunjukkan arah yang positif, terutama pada indikator pertumbuhan ekonomi.
“Pertumbuhan ekonomi kita naik dari 3,73 persen menjadi 5,14 persen. Ini peningkatan hampir 1,5 persen dan sangat positif. Kalau konsisten lima tahun, kita bisa masuk 15 besar provinsi dengan pertumbuhan ekonomi terbaik,” ujarnya dalam diskusi publik satu kepemimpinan Melki - Johni di Aula El Tari Kantor Gubernur NTT, Jumat, (20/2/2026).
Di tengah efisiensi anggaran dari pemerintah pusat sebesar Rp285 miliar, Pemprov NTT justru memasang target ambisius. Tahun ini, PAD ditargetkan menembus Rp2,8 triliun, naik signifikan dari realisasi sebelumnya yang masih di kisaran Rp1,3 triliun.
Baca juga: Setahun Melki - Johni Pimpin NTT, Survei Puas, Rakyat Tetap Mengeluh Ekonomi dan Jalan Rusak
“Kita harus berani. Minimal kalau bisa capai Rp2,5 triliun, itu sudah sangat membantu membiayai program prioritas,” kata mantan Kapolda NTT itu.
Purnawirawan Polri ini menyebut strategi yang ditempuh antara lain optimalisasi pajak kendaraan bermotor, bea balik nama kendaraan, serta menggali potensi objek pajak yang selama ini belum maksimal.
Selain itu, aset-aset pemerintah seperti tanah dan bangunan akan direvitalisasi agar produktif dan menghasilkan pendapatan.
Investasi Serap Ribuan Tenaga Kerja
Johni mengungkapkan, sejumlah investasi besar mulai masuk ke NTT. Salah satunya investasi garam di Pulau Rote dengan nilai triliunan rupiah yang diproyeksikan menyerap sekitar 13.000 tenaga kerja.
Tak hanya itu, investasi tambak udang dan pengolahan hasil pertanian juga mulai berjalan dan diyakini mampu membuka ratusan hingga ribuan lapangan kerja baru.
“Kalau investasi ini operasional penuh, peredaran uang akan hidup. Masyarakat dapat peluang usaha, ekonomi bergerak,” katanya.
Johni menekankan pentingnya pemerataan sektor pariwisata. Ia mencontohkan Kabupaten Badung di Bali yang memiliki PAD mencapai Rp8,5 triliun dengan jumlah penduduk sekitar 530 ribu jiwa.
Menurutnya, NTT harus belajar dari keberhasilan tersebut dengan mendorong pertumbuhan pariwisata tidak hanya terpusat di Labuan Bajo, tetapi juga berkembang di Sumba, Rote, Alor, dan daerah potensial lainnya.
“Pariwisata harus menjadi motor pertumbuhan ekonomi di banyak kabupaten,” katanya.
Untuk memperkuat daya saing tenaga kerja, Pemprov NTT merencanakan pendirian 11 sekolah vokasi di berbagai kabupaten. Sekolah ini diharapkan mencetak tenaga kerja siap pakai sekaligus mendorong lahirnya wirausaha baru.
Di sisi lain, reformasi birokrasi menjadi perhatian serius. Johni menegaskan, tata kelola pemerintahan yang diisi oleh aparatur berintegritas, inovatif, dan berdedikasi tinggi akan menentukan percepatan pembangunan.
“Kalau kita konsisten, lima tahun ke depan akan ada perubahan signifikan. Tapi ini tidak bisa dilakukan sendiri. Harus kolaborasi provinsi, kabupaten/kota, pusat, dan swasta,” katanya.
Johni optimistis, dengan strategi yang terukur dan kerja keras berkelanjutan, NTT akan semakin mandiri secara fiskal dan mampu membiayai pembangunan demi kesejahteraan masyarakat. (fan)