Tanggal 21 Februari 2026 Memperingati Hari Apa? Ada Hari Peduli Sampah Nasional dan 2 Lainnya
Tiara Shelavie February 21, 2026 09:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Tanggal 21 Februari 2026 bukan sekadar angka dalam kalender. 

Di balik tanggal ini, tersimpan tiga peringatan penting yang mengajak masyarakat untuk memperingati 3 momen tersebut.

Mulai dari refleksi atas kejadian lingkungan di Indonesia yang melahirkan Hari Peduli Sampah Nasional, penghormatan terhadap keberagaman bahasa dunia melalui Hari Bahasa Ibu Internasional, hingga seruan global untuk melindungi satwa langka lewat Hari Pangolin Sedunia.

Di Indonesia, 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), sebuah momentum yang lahir dari tragedi longsor sampah di Leuwigajah, Cimahi, pada 2005. 

Peristiwa memilukan itu menjadi titik balik kesadaran bahwa pengelolaan sampah yang buruk dapat berujung pada bencana kemanusiaan.

Di tingkat global, 21 Februari juga dikenal sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional yang ditetapkan oleh UNESCO. 

Hari ini berakar dari perjuangan rakyat Bangladesh dalam mempertahankan bahasa Bengali sebagai identitas nasional mereka. 

Selain itu, pada Sabtu ketiga bulan Februari, yang tahun ini jatuh pada 21 Februari 2026 diperingati pula Hari Pangolin Sedunia. 

Peringatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran global tentang ancaman perburuan dan perdagangan ilegal terhadap pangolin, mamalia bersisik yang populasinya terus menurun. 

3 Peringatan Penting pada Tanggal 21 Februari 2026

1. Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN)

Baca juga: Tanggal 20 Februari 2026 Memperingati Hari Apa? Ini Daftar Momen Pentingnya

Setiap 21 Februari, Indonesia memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). 

Peringatan ini tidak lahir tanpa sebab. 

Ia menjadi pengingat atas tragedi longsor sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, yang terjadi pada 21 Februari 2005, dikutip dari https://kubutambahan.bulelengkab.go.id/.

Peristiwa tersebut dipicu oleh tingginya curah hujan serta ledakan gas metana dari timbunan sampah. 

Longsoran besar yang terjadi menimbun dua kampung, yakni Cilimus dan Pojok, serta merenggut 157 jiwa. 

Tragedi ini membuka mata banyak pihak bahwa persoalan sampah bukan sekadar isu kebersihan, tetapi juga menyangkut keselamatan manusia dan keberlanjutan lingkungan.

Sebagai respons atas kejadian tersebut, Kementerian Negara Lingkungan Hidup pada tahun 2006 mencanangkan 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. 

HPSN menjadi momentum untuk menguatkan komitmen pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab, mulai dari pengurangan, pemilahan, hingga pengolahan yang ramah lingkungan.

2. International Mother Language Day (Hari Bahasa Ibu Internasional)

Di tingkat global, 21 Februari diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional atau International Mother Language Day. 

Peringatan ini ditetapkan oleh UNESCO pada 17 November 1999 dan mulai dirayakan secara luas sejak tahun 2000, dikutip dari National Today.

Kemudian pada 2002, Majelis Umum PBB mengukuhkan pengakuan tersebut melalui resolusi resmi.

Latar belakangnya berakar dari perjuangan rakyat di Pakistan Timur (kini Bangladesh) pada 1952 yang menuntut pengakuan bahasa Bengali sebagai bahasa nasional. 

Aksi demonstrasi mahasiswa, termasuk dari Universitas Dhaka, berujung bentrokan dengan aparat dan menelan korban jiwa. 

Para korban tersebut kemudian dikenang sebagai martir bahasa.

Setelah Bangladesh merdeka, pemerintah negara tersebut mengusulkan kepada UNESCO agar tanggal 21 Februari diperingati secara global untuk menghormati pengorbanan tersebut sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga keberagaman bahasa. 

Di Bangladesh, masyarakat biasanya mengunjungi monumen Shaheed Minar sebagai bentuk penghormatan.

3. World Pangolin Day (Hari Pangolin Sedunia)

Selain dua peringatan tersebut, 21 Februari 2026 juga bertepatan dengan World Pangolin Day atau Hari Pangolin Sedunia, yang diperingati setiap Sabtu ketiga bulan Februari.

Hari ini didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran tentang nasib pangolin, mamalia unik yang dikenal sebagai satu-satunya mamalia bersisik di dunia. 

Satwa ini banyak ditemukan di wilayah Afrika dan Asia, namun populasinya terus menurun akibat perburuan dan perdagangan ilegal.

Permintaan terhadap sisik, daging, dan bagian tubuh lainnya mendorong praktik perburuan liar dalam skala besar. 

Sisik pangolin kerap digunakan dalam pengobatan tradisional di sejumlah negara Asia, sementara dagingnya dianggap sebagai hidangan mewah di beberapa wilayah.

Laporan dari Wildlife Justice Commission menyebutkan bahwa dalam periode 2016 hingga 2019, lebih dari 206 ton sisik pangolin disita dari berbagai operasi penegakan hukum internasional, angka yang setara dengan ratusan ribu individu pangolin.

Saat merasa terancam, pangolin akan menggulung tubuhnya menjadi bola untuk melindungi diri. 

Sayangnya, mekanisme pertahanan ini justru membuatnya mudah ditangkap pemburu. 

Melalui Hari Pangolin Sedunia, berbagai organisasi dan komunitas di dunia berupaya memperkuat kampanye perlindungan terhadap satwa langka ini.

(Tribunnews.com/Farra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.