TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tiga dekade bukan waktu yang singkat untuk bertahan di jalur musik ekstrem.
Di tengah perubahan selera dan regenerasi skena, Death Vomit memilih tetap setia pada akar mereka, sambil perlahan membuka ruang eksplorasi baru.
Awal 2026 menjadi penanda penting dalam perjalanan panjang tersebut.
Band death metal asal Yogyakarta ini resmi merilis album studio keempat berjudul ‘Thou Shalt Behold’ pada 31 Januari 2026.
Album berisi 10 lagu ini memuat dua single yang telah lebih dulu diperkenalkan, yaitu ‘Divine Heretic’ dan ‘Timeless Enmity’.
Rilisan ini juga menandai kerja sama mereka dengan Brutalmind Records, salah satu label brutal death metal terbesar di Indonesia.
Kolaborasi tersebut membuka pengalaman baru sekaligus memperluas jangkauan distribusi karya mereka.
Secara historis, Death Vomit dikenal sebagai salah satu pionir death metal Indonesia sejak pertengahan 1990-an.
Nama mereka menguat lewat album debut ‘Demonic Sacrifice’ yang menjadi salah satu rujukan penting dalam perkembangan skena metal ekstrem Tanah Air.
Konsistensi pada karakter old school death metal yang gelap dan brutal menjadi identitas yang terus mereka jaga hingga kini.
Namun di ‘Thou Shalt Behold’, arah musikal itu berkembang. Aransemen terdengar lebih kompleks dan eksploratif, tanpa meninggalkan fondasi death metal yang telah mereka bangun selama 30 tahun.
Oki Haribowo yang kini berperan sebagai gitaris sekaligus vokalis membawa warna yang lebih terbuka dan dinamis.
Ari Kristiono pada bass menghadirkan permainan yang solid dan terstruktur, sementara Roy Agus tetap menjadi fondasi lewat gempuran drum yang dingin dan konsisten.
Dari sisi gagasan, album ini berbicara tentang dunia yang runtuh oleh tangan manusia sendiri.
Baca juga: Menanti Vonis Keadilan Perdana Arie: Sidang Tahap Akhir hingga Gelombang Dukungan untuk Sang Aktivis
Tema kemerosotan moral, hilangnya kepedulian terhadap kehidupan, serta hasrat akan kekuasaan menjadi benang merah yang mengikat keseluruhan materi.
Visual sampulnya mempertegas pesan tersebut.
Meski kegelapan atau figur demonik digambarkan sebagai pengaruh, manusialah yang tetap menjadi pelaku utama dari kehancuran.
“Secara etimologis, Thou Shalt Behold dapat dimaknai sebagai ‘kamu akan segera melihat’. Sebuah pernyataan yang merujuk pada konsekuensi dari tindakan manusia itu sendiri, melihat kehancuran yang diciptakan oleh pilihan, keyakinan, dan pembenaran yang terus diulang,” ujar Oki.
Lewat ‘Thou Shalt Behold’, Death Vomit tidak menawarkan solusi ataupun penghakiman.
Mereka hanya menghadirkan potret yang lugas tentang realitas yang sedang dan akan dihadapi, disampaikan melalui musik yang keras, dingin, dan tanpa kompromi.
Album ini sekaligus menegaskan bahwa setelah 30 tahun, energi mereka belum surut, hanya berevolusi.(*)