Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Isya Anshori
TRIBUNJATIM.COM - Masjid Bayem yang berdiri kokoh di Dusun Karangdinoyo, Desa/Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menyimpan sejarah panjang yang tak banyak diketahui orang.
Rumah ibadah tersebut ternyata dibangun di atas pondasi bekas pabrik pengolahan serat agave peninggalan Belanda.
Baca juga: Menilik Jejak Sejarah Masjid Kuningan Pondok Kidul, Masjid Tertua Saksi Siar Islam di Blitar
Jika dilihat dari depan, masjid tersebut nampak tak ada bedanya dengan rumah ibadah lain.
Namun, jika dilihat dari sisi belakang bangunan, sisa-sisa pondasi lama masih terlihat jelas.
Beberapa bagian struktur bangunan tua bahkan masih tampak di sisi barat masjid.
Jika masuk ke sisi selatan tempat wudu dan toilet jemaah, bangunan tersebut sedikit agak menjorok ke bawah.
Hal itu lantaran menyesuaikan konstruksi posisi dari bekas pabrik agave tepat di bawah masjid.
Jejak sejarah tersebut menjadi penanda bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat industri pada masanya.
Warga setempat, Karni, menuturkan bahwa sebagian sisa pondasi pabrik kini bahkan sudah berdiri rumah di sisi selatan masjid.
"Sisa-sisa pondasi itu dulu masih banyak terlihat. Sekarang sebagian sudah tertutup bangunan rumah," katanya, Sabtu (21/2/2026).
Menurut cerita turun-temurun, pabrik tersebut pernah dibom saat masa Perang Dunia II.
Kondisi pabrik kemudian terbengkalai cukup lama.
Sebelum akhirnya kawasan tersebut dibersihkan dan dijadikan masjid.
Kini, hanya bagian pondasi dan beberapa konstruksi yang tersisa sebagai saksi bisu kejayaan masa lalu.
Takmir Imam Masjid Bayem, Sulthon Hakim, menceritakan bahwa sebelum masjid berdiri pada 1984, lokasi tersebut dikenal warga angker.
Pepohonan besar tumbuh lebat, ular sering berkeliaran, dan suasana sekitar terasa mencekam.
"Lumayan angker dulunya, banyak pohon-pohon besar," tuturnya.
Sulthon juga mengungkapkan, di bawah bangunan masjid terdapat ruangan kecil yang konon dahulu digunakan untuk semedi.
Para kiai disebut melakukan riyadhoh dan tirakat sebelum dan saat proses pendirian masjid.
"Sebelum pendirian masjid, berbagai cara untuk riyadhoh, tirakat. Berjuang sampai jadi masjid," kenangnya.
Cerita-cerita mistis pun berkembang di tengah masyarakat.
Ada yang menyebut masjid tersebut sebagai sarang makhluk dari Laut Kidul yang singgah menuju Laut Lor.
Namun Sulthon menegaskan, semua cerita tersebut kembali pada keyakinan masing-masing.
Baca juga: Menjadi Masjid Tertua di Blitar, Masjid Kuningan Pondok Kidul Pertahankan Bangunan Lama Pondok
Menurut Sulthon, Masjid Bayem didirikan oleh KH Haji Hamim pada 1984 di atas sisa pondasi pabrik lama.
Sang kiai juga membeli sebagian tanah untuk akses jalan serta mengelola pembangunan masjid karena masjid lama sudah tidak mampu menampung jemaah yang terus bertambah.
Seiring waktu, bangunan masjid mengalami beberapa kali renovasi.
Renovasi dilakukan sejak tahun 2012 seperti pada bagian kubah yang sempat miring.
Renovasi pun berlanjut hingga sampai saat ini untuk meningkatkan kenyamanan jemaah.
Beberapa fasilitas di depan masjid seperti kantor takmir dan fasilitas parkir jamaah semakin rapi.
"Alhamdulillah, sudah jadi milik masyarakat untuk ibadah," terang Sulthon terkait status tanah yang kini telah bersertifikat wakaf sejak 2012.
Di sisi lain, Ketua Komunitas Pelestari Sejarah Budaya Kadhiri (PASAK), Didin Saputro, menjelaskan bahwa tanaman agave pada masa kolonial Belanda memang banyak dibudidayakan di wilayah Kabuapten Kediri, khususnya lereng Gunung Kelud di Kecamatan Kepung.
Agave, terutama jenis Agave sisalana atau sisal, diperkenalkan sekitar tahun 1913 untuk kebutuhan serat alami sebagai bahan tali dan industri.
Selain serat, bagian tengah tanaman agave juga dikenal sebagai bahan baku minuman beralkohol seperti mezcal dan tequila setelah melalui proses fermentasi dan destilasi.
Mengacu pada peta Topografische Inrichting Batavia tahun 1914, pabrik tersebut tercatat bernama Vezelfabriek dan berada di wilayah Onderneming Karangdinaja.
Perkebunan agave kala itu membentang luas hingga perbatasan Kecamatan Puncu.
"Di sisi utara perkebunan ini dulunya juga ada pengolahan ulat sutra," ucapnya.
Kini, jejak industri tersebut telah berubah fungsi menjadi tempat ibadah yang menenteramkan.
Meski jumlah jemaah tak seramai dulu, Masjid Bayem tetap aktif digunakan warga, terutama saat salat Jumat dan hari raya.