TRIBUNKALTIM.CO - Langit senja di Bengkulu perlahan berubah jingga ketika waktu mendekati Magrib.
Cahaya hangat menyelimuti lintasan Stadion Semarak Bengkulu, tempat warga memaknai ngabuburit dengan cara berbeda: berlari dan berkeringat.
Di stadion yang terletak di Jalan Cendana, Kelurahan Sawah Lebar Baru, Kecamatan Ratu Agung ini, sore Ramadhan bukan sekadar waktu menanti azan sambil duduk santai atau berburu takjil.
Derap sepatu beradu dengan lintasan, napas terengah bercampur tawa kecil para pelari yang menjaga ritme hingga waktu berbuka tiba.
Baca juga: Ngabuburit, Mitra Grab Bagikan Ratusan Takjil di Samarinda Kaltim
Sebagian datang sendiri dengan perlengkapan sederhana, yakni sepatu lari, kaus, dan celana pendek.
Sebagian lain hadir bersama komunitas, saling menyemangati menuntaskan putaran terakhir sebelum Magrib.
Ada yang berjalan santai, ada pula yang berlari serius sembari melirik jam tangan, menghitung mundur waktu berbuka.
Sebagian datang seorang diri, mengenakan sepatu lari dan kaus sederhana.
Sebagian lainnya hadir bersama teman atau komunitas, saling menyemangati menjaga ritme langkah. Ada yang berjalan santai mengitari lintasan, ada pula yang berlari serius sambil sesekali melirik jam tangan, menghitung mundur waktu berbuka.
Keringat yang mengalir menjelang senja justru membuat waktu terasa lebih singkat.
Tubuh yang aktif menjadikan momen berbuka terasa lebih nikmat, seolah ada kepuasan tersendiri setelah berhasil menaklukkan rasa lelah dan dahaga.
Baca juga: Nasyiatul Aisyiyah Ngabuburit di SMKN 14 Samarinda Isi Kegiatan Kampanyekan Cegah Pernikahan Dini
Di salah satu sudut lintasan, Andesta Saputra (30) tampak menyelesaikan pemanasan sebelum mulai berlari. Ia mengaku hampir setiap sore menyempatkan diri datang ke stadion.
“Kalau sore biasanya joging hingga lari,” ujarnya pada Kamis (12/2/2026), sambil teraengah mengatur napas.
Baginya, berolahraga di Bulan Puasa bukanlah hal yang merepotkan.
Tak ada persiapan khusus atau perlengkapan mahal.
Cukup sepatu lari, kaus, dan celana pendek. Sekitar pukul 16.00 WIB, ia sudah berangkat dari rumah, memastikan tubuh siap bergerak satu jam menjelang Magrib.
“Tidak perlu banyak alat yang harus dibawa. Sederhana saja,” katanya.
Hal serupa dirasakan Yevi Melinda Putri (23).
Bersama komunitasnya, ia kerap memanfaatkan sore hari untuk berolahraga di stadion.
Menurutnya, satu jam sebelum berbuka adalah waktu yang tepat untuk bergerak.
“Kalau lari menjelang magrib, rasanya waktu cepat sekali. Tahu-tahu sudah azan,” ujarnya sambil tersenyum.
Bagi Yevi dan warga lainnya, Stadion Semarak bukan sekadar fasilitas olahraga.
Ia telah menjadi ruang pertemuan, tempat berbagi semangat hidup sehat di tengah suasana Ramadhan.
Tanpa biaya besar dan tanpa peralatan rumit, ruang terbuka itu menghadirkan kebiasaan baik yang bisa dilakukan siapa saja.
Sore kian temaram. Beberapa warga memilih duduk sejenak di tribun, berbincang ringan sembari menanti suara azan.
Warga yang lain memperlambat langkah, menuntaskan putaran terakhir sebelum berbuka.
Ketika akhirnya azan Magrib berkumandang, aktivitas pun berhenti sejenak. Lelah berganti lega. Dahaga segera terobati.
Di antara jejak-jejak kaki yang tertinggal di lintasan, tersimpan cerita sederhana tentang Ramadhan: Tentang kesabaran, kebersamaan, dan tekad untuk tetap bugar di bulan penuh berkah. (*)