Kecurigaan Ibu Lihat Anaknya Mengeluh Sakit di Bagian Anus, Diduga Dicabuli
Noval Andriansyah February 21, 2026 11:35 PM

Tribunlampung.co.id, Ciputat - Kecurigaan seorang ibu inisial H, melihat anaknya mengeluhkan sakit di bagian anus, hingga akhirnya menduga jika sang putra menjadi korban pencabulan.

Korban dalam kasus ini empat anak yang masih di bawah umur, yakni berinisial A (11), I (5), M (3), serta satu anak lainnya yang merupakan anak tetangga.

Keempat bocah tersebut diduga dicabuli di satu rumah kontrakan di kawasan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Banten, Selasa (17/2/2026).

Pencabulan adalah perbuatan melanggar kesusilaan dengan melakukan tindakan seksual terhadap orang lain tanpa persetujuan, atau terhadap anak di bawah umur.

Dalam hukum pidana Indonesia, pencabulan termasuk tindak pidana kejahatan seksual dan dapat dikenai sanksi pidana penjara. Jika korbannya anak, ancaman hukumannya lebih berat sesuai peraturan perlindungan anak dan tindak pidana kekerasan seksual.

Baca juga: Lakukan Pencabulan Anak di Bawah Umur, Seorang Pria di Lampung Barat Diciduk Polisi

Dikutip Tribunlampung.co.id dari Tribuntangerang.com, setelah polisi menerima laporan resmi dari pihak keluarga korban, terduga pelaku pencabulan pun ditangkap.

Terduga pelaku adalah seorang pemuda berinisial Ez (18). Laporan teregister dengan Nomor: LP/B/410/8/2026/SPKT/Polres Tangerang Selatan/Polda Metro Jaya.

“Lagi diamankan itu orangnya, nanti setelah selesai pemeriksaan baru itu,” ujar Kapolres Tangsel AKBP Boy Jamalolo, Jumat (20/2/2026).

Ia menambahkan, proses hukum masih berjalan dan pihaknya terus mendalami kasus tersebut. 

“Iya diamankan (terduga) pelaku, sambil menunggu proses lebih lanjut,” lanjutnya.

Dugaan Pencabulan

Kasus baru diketahui H pada awal Februari 2026, setelah pihak sekolah memanggil dan menjelaskan kejadian yang melibatkan 2 anak.

H menuturkan, awalnya ia tidak menaruh curiga ketika anaknya mengeluh sakit pada bagian anus. Ia mengira keluhan tersebut disebabkan gangguan pencernaan biasa.

“Awalnya anak saya sempat sakit anusnya. Saya pikir sakit biasa, enggak kepikiran ke situ. Bahkan kepikiran yang aneh-aneh juga enggak,” ungkap H kepada TribunTangerang.com, Serpong Utara, Tangsel, Selasa (17/2/2026).

Ia sempat menduga anaknya mengalami sembelit. 

“Saya pikir ya dia pupnya keras atau apa. Saya sempat bilang nanti mama beliin pepaya, biar pupnya enggak sakit," ujarnya.

Namun, keluhan itu terus berulang selama beberapa hari. 

H mengatakan peristiwa tersebut diduga terjadi di kontrakan tempat tinggalnya, saat bermain bersama. 

Informasi awal justru terungkap dari sekolah setelah seorang siswa yang merupakan anak tetangga H terlihat memiliki bekas kemerahan di bagian leher.

“Sempat dipanggil sama guru, ditanya kenapa lehernya merah,” tutur H.

Awalnya, anak tersebut mengaku hanya bercanda dengan temannya. Namun guru merasa ada kejanggalan dan membawa anaknya bersama rekannya ke ruang kepala sekolah untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

"Di situ ditanya sama guru-guru, siapa yang nyuruh. Mereka jawab ada yang nyuruh,” ujarnya.

Dari cerita diterimanya, anak-anak mengaku sempat diberi minuman sebelum kejadian.

“Katanya disuruh minum obat, dicampur sama minuman,” kata H menirukan keterangan yang ia terima dari pihak sekolah.

Ia menyebut, berdasarkan cerita tersebut, anak-anak sempat diminta melakukan tindakan yang tidak pantas sebelum dugaan kekerasan terjadi.

H mengaku baru mengetahui dugaan peristiwa tersebut sekitar dua minggu lalu.

"Masih di tahun ini, bulan ini juga. Dua minggu yang lalu,” katanya.

Mendapat informasi tersebut, H kemudian mencoba menanyakan langsung kepada anak-anaknya untuk memastikan kebenarannya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, H menyebut anaknya yang berusia lima tahun mengalami dampak paling serius.

“Yang lima tahun yang parah. Karena dia sudah sering,” katanya sambil menangis.

Menurut penuturan anaknya, setiap kali mencoba melawan, ia mendapat tekanan dan ancaman sehingga merasa takut untuk bercerita.

“Setiap dia berontak katanya dibekep badannya, terus diancem. Dibilang jangan sampai bilang ke orangtua,” ujar H.

Ia menilai, di usia yang masih sangat kecil, anaknya belum mampu melindungi diri. 

“Anak sekecil itu kan takut. Dicubit saja dia sudah takut,” katanya.

Sebelum kasus ini terungkap, H mengaku anaknya kerap mengeluhkan rasa sakit di bagian anusnya.

"Dia suka ngeluh sakit,” ucapnya lirih.

Sebelum laporan resmi dibuat ke Polres Tangerang Selatan, H sempat mendatangi keluarga untuk meminta penjelasan. 

H menjelaskan terduga pelaku yang melakukan pencabulan tersebut masih memiliki hubungan keluarga dengannya.

“Saya sempat berdebat dulu dengan keluarga, baru ke polres,” katanya.

Karena tidak mendapatkan titik temu, laporan kepada polisi dilakukan pada awal pekan setelah kejadian. Menurut H, laporan resmi diajukan salah satu tetangganya.

“Yang melaporkan tetangga saya (orang tua anak yang juga menjadi korban),” ucapnya.

H berharapan dan memohon kepada aparat penegak hukum agar segera menuntaskan kasus yang menimpa anak-anaknya. 

Dengan nada penuh emosi, sambil menangis ia meminta keadilan ditegakkan tanpa berlarut-larut.

Ia berharap pihak kepolisian dapat segera mengambil langkah dan memberikan kepastian hukum.

"Saya mohon dengan sangat. Saya ingin keadilan untuk anak-anak saya,” ujarnya.

Ia meminta perlindungan dan pembelaan untuk hak-hak anaknya saat ini.

“Saya ingin seadil-adilnya. Saya ingin cepat dilakukan. Saya ingin keadilan untuk anak-anak saya. Itu saja,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.