11 Tahun Mengabdi di Perbatasan, Kisah Dedikasi Feri Moniaga Bhabinkamtibmas di Pulau Matutuang
Dewangga Ardhiananta February 22, 2026 10:22 AM

TRIBUNMANADO.CO.ID, SANGIHE - Dedikasi panjang ditunjukkan oleh anggota Polri Bhabinkamtibmas Pulau Matutuang, Polsek Marore, Feri Moniaga (43) yang hingga kini terus mengabdi di wilayah perbatasan Indonesia-Filipina.

Pulau Matutuang adalah salah satu pulau terluar Indonesia yang terletak di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Pulau Matutuang merupakan bagian dari Kecamatan Kepulauan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulut.

Hampir lebih dari satu dekade ia bertugas di pulau terluar tersebut, menghadapi berbagai tantangan demi menjaga keamanan masyarakat.

Feri Moniaga, kelahiran Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah (Sulteng), pada 9 Februari 1983.

Feri menamatkan pendidikan SMA pada tahun 2001.

Sejak muda ia bercita-cita menjadi aparat negara.

Ia sempat dua kali mencoba mendaftar sebagai Bintara TNI Angkatan Darat, namun belum berhasil.

Tidak menyerah, Feri kemudian melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Manado hingga semester satu.

Pada semester berikutnya ia kembali mencoba peruntungan dengan mendaftar sebagai anggota Polri.

Usahanya membuahkan hasil.

Ia lulus seleksi dan mengikuti pendidikan Bintara Polri di Sekolah Polisi Negara (SPN) Karombasan Manado, kemudian resmi menjadi anggota Polri angkatan 2002.

Riwayat Penugasan

Usai pendidikan, penempatan pertama Feri berada di Polresta Gorontalo, saat wilayah tersebut masih berada di bawah Polda Sulawesi Utara.

Setelah pemekaran Provinsi Gorontalo, ia kembali bertugas di wilayah Polda Sulut, tepatnya di Polres Bolaang Mongondow (Bolmong) sekitar tahun 2003 hingga 2010.

Sekitar tahun 2014, Feri dimutasi ke Polres Kepulauan Sangihe dan pertama kali bertugas di Polsek Tabukan Utara selama satu tahun.

Pada 2015, berdasarkan surat telegram mutasi, ia ditempatkan di Polsek Marore, tepatnya di PosPol Subsektor Pulau Matutuang.

Tahun 2019 ia sempat dipindahkan ke Polsek Tabsel (Manalu) selama dua bulan, namun kemudian dikembalikan lagi ke Pulau Matutuang.

Hingga saat ini, ia telah mengabdi di pulau terluar tersebut selama kurang lebih 11 tahun.

Suka Bertugas di Matutuang

Feri Moniaga yang hingga kini terus mengabdi di wilayah perbatasan Indonesia-Filipina
DEDIKASI - Feri Moniaga (43) yang hingga kini terus mengabdi di wilayah perbatasan Indonesia-Filipina, Minggu (22/2/2026). Hampir lebih dari satu dekade ia bertugas di pulau terluar tersebut, menghadapi berbagai tantangan demi menjaga keamanan masyarakat.

Menurut Feri, banyak pengalaman berkesan selama bertugas di Pulau Matutuang.

Ia menilai masyarakat setempat sangat ramah, menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama, serta memiliki rasa kekeluargaan yang kuat.

“Kalau masyarakat ada kegiatan, seperti kerja kebun atau panen kelapa, kami juga turun membantu. Hubungan polisi dan warga di sana sangat dekat,” ungkapnya.

Ia juga menyebut tingkat kriminalitas di wilayah tersebut sangat rendah, sehingga pembinaan masyarakat relatif lebih mudah.

Warga dinilai cepat menerima imbauan kamtibmas yang disampaikan.

Tantangan Berat di Pulau Terluar

Meski banyak suka, Feri tidak menampik beratnya tantangan saat pertama kali bertugas di Matutuang.

Salah satu kendala terbesar saat itu adalah ketiadaan jaringan komunikasi.

Pada masa awal penugasan, belum tersedia jaringan 4G maupun Wi-Fi.

Untuk sekadar menghubungi keluarga di Manado, ia harus menumpang perahu nelayan menuju Pulau Mamanu atau wilayah yang memiliki sinyal.

“Kadang harus 1 sampai 3 hari di pulau lain hanya untuk kirim SMS atau telepon singkat,” kenangnya.

Selain itu, hambatan bahasa juga menjadi tantangan serius.

Saat pertama bertugas, sebagian besar warga masih menggunakan Bahasa Sangihe dan Bahasa Filipina.

Sangat sedikit yang memahami bahasa Melayu atau Manado, sehingga komunikasi awal sering dilakukan dengan bantuan anggota lain sebagai penerjemah.

Namun kondisi kini jauh berubah.

Dengan masuknya guru dan petugas dari luar daerah serta banyaknya anak yang melanjutkan sekolah ke Tahuna dan Manado, masyarakat kini lebih fasih berbahasa Melayu sehingga komunikasi semakin mudah.

Pengorbanan Saat Hari Besar

Sebagai personel yang hanya berjumlah dua orang di Pulau Matutuang, Feri mengaku sering tidak bisa merayakan Natal maupun Tahun Baru bersama keluarga.

Ia harus tetap siaga menjaga keamanan wilayah, termasuk saat Idul Fitri.

Selama bertugas, ia hanya dua kali merayakan Natal bersama keluarga di Manado karena harus segera kembali untuk pengamanan malam pergantian tahun.

“Sebagai anggota Polri, kami harus siap ditempatkan di mana saja dan tetap bertanggung jawab menjaga wilayah,” tegasnya.

Tetap Setia di Perbatasan

Meski bertugas jauh dari keluarga dan fasilitas terbatas, Feri mengaku betah mengabdi di Pulau Matutuang.

Ia berharap dapat terus melayani masyarakat dengan baik hingga masa pensiun, selama masih mendapat kepercayaan pimpinan.

“Mudah-mudahan bisa terus bertugas di sana sesuai kebutuhan masyarakat.

Tapi kalau ada perintah mutasi, kami siap,” pungkasnya.

Pengabdian Feri Moniaga menjadi gambaran nyata dedikasi aparat di wilayah perbatasan yang tetap setia untuk melindungi, Mengayomi dan melayani masyarakat serta menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) meski harus menghadapi keterbatasan dan pengorbanan pribadi.

(TribunManado.co.id/Eduard J Tahulending)

WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.